"Mencintaimu adalah penghargaan yang luar biasa."
Bukankah desahanku itu nikmat bagimu, Tuan? Lantas mengapa kau jahit mulutku?
Terus saja mengambil dalih cinta sebagai pagar dari gelombang nafsu!
Terus saja kau salahkan desahanku,
tapi kau timan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sekian masa kau hilang Menusukku tanpa terbilang Bukan menusuk yang membuatku hancur menjadi arang Namun, tusakanmu mematahkan rasa untuk yang lain hanya untuk kamu seorang
Malam ini gerimis menghiasi nada rinduku Memberi syair atas rapuhnya hatiku Bumi telah disapa dengan yang ditunggu Bagaimana dengan kamu, Cintaku?
Banyak hembusan napas yang kamu relakan untukku Bahkan tenaga dan cucuran air perang yang bersatu Ini yang semakin membuat rinduku tak terbilang untukmu Terus mengharapkan titik temu yang tak semu
Karena itu, kamu pantas duduk di tahta yang aku bangun Mengayun untuk menuntun Melenyapkan sesak yang kini kuhimpun Merangkai cerita dua hati yang sempat tertimbun
Sapaanmu di petang senja mengayun aksara Melegakan dada dari guncangan lara Iya, cukup sebenarnya Namun, dunia tak berhenti di titik ini saja
Aku ingin tersenyum Bak bumi yang benar-benar terasa basah atas lembutnya gerimis harum Sadar, kamu masih sibuk merakit jarum Semoga kesabaran bertahta atas rindu bertaut kagum