"Mencintaimu adalah penghargaan yang luar biasa."
Bukankah desahanku itu nikmat bagimu, Tuan? Lantas mengapa kau jahit mulutku?
Terus saja mengambil dalih cinta sebagai pagar dari gelombang nafsu!
Terus saja kau salahkan desahanku,
tapi kau timan...
Demam rindu yang hanya bisa bergumam Merintihkan seribu daki dari rakitan anyam Kala kupandangi denyutan awan hitam Di sana terlihat bayangan yang menjadi bagian kelegaan nan tentram
Kutengok paginya dengan keseriusan Ini guncangan atau petunjuk harapan? Ternyata, malam itu kita berada dalam satu pikiran dan perasaan Menatap betapa indahnya awan
Hanya bisa terdiam Meneriakkan batin untuk menadah kepada sang Maha Rohman Pertanyaan sakral pun menghantam. Kepastian? Kapan kamu berhasil mendatangi tanpa enggan?
Indah sekali langit malam tadi Ingin menangis, tapi ini terlalu sesak sampai air mata terhalangi Masih tak menyangka balutan malam kita sama-sama terhiasi Bahagia selalu untukmu harapan hati
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.