"Mencintaimu adalah penghargaan yang luar biasa."
Bukankah desahanku itu nikmat bagimu, Tuan? Lantas mengapa kau jahit mulutku?
Terus saja mengambil dalih cinta sebagai pagar dari gelombang nafsu!
Terus saja kau salahkan desahanku,
tapi kau timan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ah, bulshit! Chat di sebelah itu hanya runtutan bayangan yang sedang sengit Tidak peka-peka kalau rindu lagi melilit Kamu baru hadir hari ini, dan ... mari kita hilangkan seluruh rasa sengit tanpa pelit
Al: "Aku enggan ke pagar depan."
'Datang-datang membawa kata enggan! Mana chat yang bagian serius diskip begitu saja!'
Namun, saking rindunya aku tidak masalah dengan kata itu Kemarin kusaksikan ada bekas dari sang mahligaiku memberi aksara untukmu Kenapa? Mengapa? Ini lebih penting aku bahas mumpung kamu belum kembali ke tempat baku Suasana lebaran masih sangat harum, entah bekas yang kutemukan ini justru membuatku bahagia atau tidak, jujur aku bingung saat dihadapkan dengan hal itu
Az: "Kamu diberi apa oleh mahligaiku?"
Al: "Labelnya yang mana?"
Az: "Ini (Kirim ss akun)"
Al: "Oh, seperti biasanya kalau lebaran, Az."
Az: "Itu aja?"
Al: "Iya."
Az: "Tahu kalau beliau mahligaiku?"
Al: "Nggak tahu."
Sedikit pun tidak ada perencanaan sang mahligai denganku Entah gimana langkah sang mahligaiku bisa ketarik mengucapkan itu padamu Dan entah juga kamu jujur atau tidak padaku Semoga saja ini menjadi langkah jalur cepat dan tepat dalam bersatu
Sayang, makasih ya udah hadir di tengah wacana yang kupinta Denyutan nadimu belum bisa kurasa Nafas segarmu belum bisa kuraba Tubuh hangatmu belum bisa kujelma
Kamu sadar, 'kan? Kita berada dalam kungkungan usia asmara yang penuh gertakan Hasrat berperang dengan seluruh butir-butir cinta yang tergulung arakan Aku takut terbuai untuk meluruhkan kungkungan ini ke aroma nafas yang salah ... tidak salah bukan jika doaku melangit agar kita segera dipaku dalam aroma nafas yang dibenarkan?
Deraian rinduku padamu hari ini diobati dengan berlariknya senyuman Bukan hanya itu, tapi juga dengan secerca kabar yang menegangkan Satu lagi ... dengan pengakuan yang mengejutkan
Az: "Kenapa nggak direplay semua, sih?"
Al: "Mana yang belum?"
Az: "Tentang kesalahanku."
Al: "Yaaa ... aku nggak ngerti dong."
Az: "Gak usah sok nyembunyiin gitu, jawab aja gpp."