Bab 4 : Pergi

136 86 2
                                    

Setelah Galang di kabarkan memasuki rumah sakit selama 3 hari lamanya, pada hari ke 3 Galang tak kunjung sadar. Pria itu bernafas di bantu oleh alat pernafasan yang di fasilitasi dari rumah sakit.

Sari selaku istri, melihat suaminya tak kunjung sadar tampak sangat khawatir, raut wajahnya sedih, ia tak bisa meninggalkan suaminya sendirian.

Sedangkan, hari itu adalah hari pertama Verra harus memasuki sekolah kembali. Sari meminta izin kepada pihak sekolah, bahwa Verra tidak bisa hadir dulu.

Verra masih bersama Sari di rumah sakit, gadis itu masih tertidur pulas di samping ibunya. Dengan kondisi ruangan yang hening, hanya terdengar detak jarum jam saja. Beberapa jam menunggu, Galang masih tidak kunjung sadar.

Saat itu juga, Oma memutuskan untuk menjenguk anaknya.
"Assalamualaikum.." ucap Oma sambil membuka pintu 09 itu. Lalu Oma memasuki ruangan itu. Ia melihat anaknya tengah berbaring di ranjang dengan berbagai alat bantu pernafasan.

"Waalaikumsalam, Oma. Oma ke sini sama siapa?" tanya Sari.
"Sama Gilang, dia lagi beli makanan dulu di luar," jawab Oma.

Akhirnya Gilang-- adik Galang. Datang memasuki ruangan 09 ini. Lalu mereka bersalam-salaman.

Verra mendengar suara orang yang sedang mengobrol, gadis itu terbangun dari tidurnya. Lalu melihat Nenek dan Om nya sudah ada di sana.

"Eh, Verra. Udah bangun si cantik," sapa Gilang. Verra dan Gilang memang selalu bermain bersama-sama. Mereka sudah cukup di dekat, Gilang bukanlah seseorang yang sama seperti kakaknya, namun ia memahami kakaknya yang mempunyai ilmu batin.

"Om Gilang?" panggil Verra.
"Iya? Apa kabar, Verra?" tanya Gilang.
"Aku baik-baik aja," jawab Verra.

Lalu Verra menghampiri Oma untuk mencium punggung tangannya. Oma hanya tersenyum saja, sambil mengusap puncak kepala cucunya.

Setelah selesai memberi salam, Verra menghampiri Ibunya, lalu ia duduk di pangkuan wanita itu. Sambil mendengarkan mereka mengobrol.

Galang masih tidak sadarkan diri, nafasnya terengah-engah. Verra melihat sang Ayah dengan tatapan kasihan. Tak lama kemudian, Verra merasakan pusing yang sangat menusuk di kepalanya. Selain pusing, badannya seketika memanas. Seperti di serang demam secara tiba-tiba.

Verra menyenderkan kepalanya di pangkuan sang Ibu, ia merasa tidak enak saat kepalanya sakit seperti ini. Badannya memanas, kaki tangannya terasa dingin. Sari merasakan kehangatan di tubuh anaknya. Lalu ia memegang jidat Verra untuk memastikan.

"Kok kamu demam, Nak?" tanya Sari sambil menatap Verra.
"Ga enak badan. Ibu," jawab Verra. Dengan wajah yang memucat.

Sari menurunkan anaknya di pangkuannya, ia membawakan obat dan air minum hangat untuk di berikan kepada Verra. Akhirnya, Verra meminum obat itu. Dan beristirahat kembali.

👻👻👻

Waktu sudah menunjukkan pukul 13.05 WIB, Oma dan Gilang sedang izin keluar untuk menunaikan Sholat Dzuhur. Kebetulan, Sari sedang mengalami datang bulan. Ia tidak ikut dengan mereka.

Saat tengah beristirahat, samar-sama Verra melihat bayangan hitam tengah menghampiri sang Ayah. Bayangan itu tampak diam di samping ranjang Galang. Lalu, menghilang begitu saja.

Tak lama kemudian, sekitar 5 menit bayangan itu menghilang, Verra melihat sosok Sri berjalan dari arah belakang ruangan 09 ini. Sontak, Verra langsung membuka matanya dan beranjak berdiri dari tempat istirahatnya. Ia menghampiri sang Ibu.

"Ibu! Ada Sri, ada Sri! Verra takut, Bu," ungkap Verra dengan nada yang panik.
"Sri?" Sari langsung menutup matanya, ia menerawang di mana keberadaan Sri. Saat di lihat, ternyata Sri sudah berdiri di samping ranjang suaminya.

Story of Indigo [ TERBIT ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang