Bab 25 : Nyawa

57 28 2
                                    

Saat di lihat, Verra langsung terjatuh lemas, melihat Tita yang sudah tertusuk oleh sala satu batang pohon di sana. Sri hanya tertawa melihat kemenangan itu, lalu Kuntilanak itu menoleh ke arah Verra.

Dengan senyuman yang menyeringai, Sri berjalan menghampiri Verra, gadis itu tak pantang menyerah, Verra memutuskan untuk berlari dari hadapan Kuntilanak itu.

Ia berlari tanpa arah kembali. Tak terasa sebutir air mata sudah terus berjatuhan mengenai tanganya. "Takut ... Ya Allah," keluh Verra sambil terus berlari kencang menjauh dari Sri.

Saat sudah merasa lelah, Verra memutuskan untuk bersembunyi kembali di antara pepohonan besar itu. Berharap Sri tidak menemukannya. Saat sudah menemukan tempat persembunyian, Verra merenungkan dirinya sendiri, lantaran ia melihat Tita yang sudah tertunduk dengan tusukan itu.

"T-tita?" panggil Verra. Tidak ada siapa-siapa yang hadir saat ia memanggil nama itu. "Tita?" panggil Verra kembali, kali ini ia berharap sesosok Kuntilanak cantik itu hadir di hadapannya, lalu menolongnya keluar dari hutan ini.

Nihil, tidak ada siapa-siapa di sana, hanya ada pohon yang menjulang tinggi, dan suasana yang sunyi. Verra kembali mengelurakan air matanya, gadis itu terus berusaha menangis tanpa mengeluarkan suaranya. Ia menutup mulutnya.

"Verra.." panggil Sri. Dengan suara yang pelan dan khasnya. Kuntilanak itu ternyata sudah dekat dengan Verra. Verra kembali tersentak, tubuhnya sedikit bergetar kembali, berharap Sri tidak menemukannya.

"Verra.." panggilan itu terdengar kembali. Verra terus terdiam, menutup mulutnya, berusaha tidak bergerak sama sekali.

Ketakutan yang Verra keluarkan, ternyata menjadi kenyataan. Sri berhasil menemukan Verra. Lalu Kuntilanak itu tertawa melengking, tubuhnya melayang di udara, hendak menghampiri Verra dari arah depan.

Verra berteriak kencang, lalu ia berlari kembali ke arah awal ia melihat Tita. Verra berusaha berlari kencang, tanpa mau melihat ke belakang.

Saat sudah merasa dekat, Verra melihat Tita yang sedang terdiam, menundukkan kepalanya, tanpa memperlihatkan wajahnya.

"T-tita! Tita! Ini aku Verra," teriak Verra, seraya berlari menghampiri Tita.

Tita masih terdiam, tanpa merespon apa yang setiap Verra katakan. Verra yakin sekali, bahwa itu adalah Tita. Selama mengenal Kuntilanak itu, Verra selalu memperhatikan detail yang Tita miliki, gadis itu selalu melihat wajah Tita, sejujurnya wajahnya memang cantik.

Seketika, suara tertawa milik Sri sudah terdengar kembali. Kuntilanak itu tampaknya sudah melihat ke arah Verra, dengan mata yang merah dan melotot, ia melayang, hampir setara dengan pohon-pohon di sana.

Verra mengumpat di belakang tubuh Tita yang hanya terdiam itu, seketika Tita mendongakkan kepalanya, melihat Sri yang sedang melayang di atas. Verra menutup wajahnya dengan punggung milik Tita. Seketika, Tita langsung menarik tangan Verra, lalu Verra melihat wajah Tita.

Wajah itu, jauh sangat berbeda dengan Tita yang selalu ia kenal, wajah cantik itu kini bertebaran luka.

"T-tita?" panggil Verra, sambil terus menatap Tita. Tita hanya menatap Verra dengan tatapan menusuk. SEMBUNYI!" teriak Tita sambil menatap Verra.

Verra melepaskan genggaman itu, lalu ia masuk kembali ke dalam pohon itu. Sri hanya tertawa saja, lalu Kuntilanak itu mendarat, tak jauh dari Verra dan Tita.

Tita menatap Sri dengan tatapan marah dan menusuk, perempuan itu kini merubah wujudnya menjadi seram, akibat emosinya yang terlalu bergelonjak.

"Jangan coba-coba menyentuh Verra!" teriak Tita dengan suara yang jauh menyeramkan.
"Dia itu anakku! Anakku!" teriak Sri tak mau kalah dengan Tita.

Story of Indigo [ TERBIT ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang