***
"Hai!"
Aku menyapanya lagi. Tak ada reaksi darinya. Ia memang selalu mengacuhkanku. Aku segera mengambil tempat di sebelahnya. Saat ia hendak beranjak dari duduknya, aku segera mencegahnya.
Ia menoleh. Ia menatapku tajam dengan mata berkilat penuh amarah. Sebenarnya aku ingin menangis, tapi debaran jantungku yang tak menentu memaksaku untuk tersenyum.
"Aku bahkan baru sampai." Ujarku ramah. Ia menghembuskan napasnya kasar lalu menghempaskan tanganku yang mencengkeram ringan lengan seragamnya.
"Tidak ada yang menyuruhmu kesini." Ucapnya datar. Aku terkesiap lalu tersenyum semanis mungkin ke arahnya.
"Baiklah, aku yang akan pergi. Kau, tetaplah disini. Selamat tinggal! Cheer up, Kim Taehyung!"
Setelah mengatakan hal itu, aku segera pergi dari hadapannya. Ku tolehkan sejenak kepalaku saat aku merasa telah cukup jauh darinya. Kulihat ia kembali duduk bersandar.
Aku membuang napasku perlahan. Aku menatapnya dari balik rak buku perpustakaan. Ya, beginilah aku menjalani hari-hariku yang melelahkan. Aku terduduk di lantai berlapis karpet abu-abu dan kembali merenung.
Kegiatanku sehari-hari adalah, selalu mendengar kabar bahwa ia membuat keributan, menghabiskan waktu untuk memandanginya, menghampirinya sekejap dan memberikannya semangat lalu pergi untuk memandangnya lagi.
Setiap hari, selama 2 tahun sejak kami berada dalam sekolah menengah yang sama. Semenjak ia menjadi murid pindahan yang menjadi idola karena ketampanan dan kekayaannya. Ia pindah saat kami kelas dua.
Tetapi, hal itu tak berlangsung lama saat sebuah gosip murahan tersebar, membuat mereka membencinya. Namun, lain halnya denganku. Aku justru semakin menyayanginya. Kakakku mengatakan jika aku gila. Ya, aku memang gila, gila hanya karena seorang sepertinya. Seseorang yang membuatku mengenal, apa itu cinta.
Kim Taehyung. Lelaki tampan dengan tatapan tajam membunuh bagi siapa saja yang berani menatap ke arahnya. Lelaki dengan sifat dingin, datar dan kaku. Sosok dengan sabuk hitam dalam judo. Cucu sebagai pewaris sah dari pemilik perusahaan tersukses di kota ini.
Ayahnya seorang presdir sekaligus pemilik salah satu hotel mewah di Korea. Ibunya juga tak kalah hebat, ia adalah seorang presdir di sebuah perusahaan mode yang telah memiliki cabang di luar negeri. Ia pun memiliki seorang kakak perempuan yang sedang mengambil studi di Amerika. Ia juga keponakan dari seorang menteri dan pemilik rumah sakit swasta terbesar di Seoul. Itulah yang ku ketahui tentang keluarganya.
Bagaimana aku mengetahui itu semua? Kakakku yang mengataiku gila lah yang membantuku mendapatkan informasi itu. Entahlah, aku tak tahu pasti ia tahu darimana. Ia tak pernah memberitahukan apa pekerjaannya padaku dan bagaimana ia mengetahui seluruh informasi itu.
Aku tak tahu, tak ingin mengetahui ataupun mencari alasan mengapa aku menyukai seorang pengacau sepertinya. Dia disebut pengacau, karena hampir setiap hari ia membuat masalah yang berujung keributan.
Para guru yang bertugas sebagai guru konseling pun selalu bergantian untuk mengurusi kasus Taehyung. Dan jika sudah tak ada yang sanggup, maka mereka akan memilih untuk mengundurkan diri.
Ia memang tak pernah di hukum karena latar belakang keluarganya yang sangat istimewa. Tentu saja para guru pun tak berani menghukumnya, memarahinya, mengeluarkannya ataupun menskorsnya. Apalagi melayangkan gugatan. Bisa-bisa, sekolah inilah yang akan ditutup.
Karena itulah, hal yang bisa mereka lakukan ialah menasehatinya lalu membiarkan ia jera dan pindah sekolah. Lagipula ia akan terus seperti itu setiap harinya sampai nanti jika tak ada dorongan dari ulu hati terdalamnya untuk berubah.
KAMU SEDANG MEMBACA
200% [COMPLETED]
Fanfiction"Tak ada kata lelah untuk menunggumu." -Hyehyun "Terserah, jika itu maumu." -Taehyung
![200% [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/43356367-64-k832173.jpg)