Kini Hyehyun berada dalam mobil jemputan pribadinya. Ia hendak mengantarkan Taehyung pulang ke rumahnya. Hyehyun mengusap lembut surai kecokelatan Taehyung yang berada dalam pangkuannya. Lelaki itu tertidur, sangat lelap.
"Nona, apakah nona ada les tambahan?" Hyehyun terkesiap.
"Ah, tidak. Ceritanya panjang, pak. Aku akan bercerita lain waktu. Apakah aku membuat seisi rumah khawatir?"
"Iya, nona. Mereka sangat khawatir. Apalagi nona Jihyun."
Hyehyun tersenyum tipis. Ia merasa bersalah pada keluarganya karena tak memberi kabar. Ponselnya mati sejak ia terjatuh. Sekarang, ia dijemput oleh Pak Han berkat ponsel Taehyung yang beruntungnya masih menyala.
***
"Noona, kau memang tak bisa duduk, huh?" Sahut Woohyun dari duduknya.
"Woohyun, Hyehyun sudah menelepon, tapi kenapa ia belum sampai juga?"
"Noona, apa kau kira jarak dari rumah ke sekolah Hyehyun noona itu dekat?" Taehyun ikut angkat bicara.
"Tapi-"
"Duduklah!"
Woohyun dan Taehyun berseru bersamaan. Jihyun pun mengalah dan akhirnya duduk diantara mereka berdua.
***
"Nona, kita sudah sampai. Apakah benar ini rumahnya?"
Hyehyun melihat sekitar dan berdehem membenarkan. Ia mengusap pelan pipi Taehyung. Lelaki itu tak bergerak sama sekali. Mungkin ia lelah berteriak sore tadi.
"Tae, bangunlah. Kita sudah sampai."
Taehyung membuka matanya perlahan. Ia menegakkan posisinya dan menatap Hyehyun. Gadis itu tersenyum manis lalu keluar dari mobil, diikuti Taehyung.
"Pak, tunggu sebentar, ya." Ujar Hyehyun dari luar.
Pak Han tersenyum meresponnya. Hyehyun menuntun Taehyung menuju pintu rumahnya. Gadis itu meletakkan lengan kanan Taehyung melingkari bahunya dan memapahnya pelan. Hyehyun mengetuk beberapa kali sampai akhirnya seseorang membukanya.
"Omo! Hyehyun? Taehyung? Apa yang terjadi?" Seru Ibu Taehyung.
"Masuklah." Lanjutnya.
Hyehyun menurut dan membawa Taehyung masuk. Ibu Taehyung menyuruh Hyehyun untuk menuntun Taehyung ke kamarnya. Hyehyun membaringkan tubuh kurus pria itu. Taehyung masih membuka matanya yang layu. Gadis itu hanya bisa terdiam ketika Taehyung memegang jemarinya.
"Jangan pergi..." Ucapnya parau.
"Gantilah bajumu, lalu istirahatlah. Aku akan kembali."
Taehyung mengangguk lemah seraya melepaskan genggamannya. Setelahnya, Hyehyun meninggalkan kamar Taehyung.
Begitu Hyehyun keluar dari ruangan pribadi Taehyung, Ibu Taehyung langsung melambaikan tangannya. Ia mengisyaratkan pada Hyehyun agar menghampirinya dan Taeyeon. Hyehyun duduk di antara Ibu Taehyung dan Taeyeon.
"Apa yang terjadi padanya, Hyehyun?" Tanya Ibu Taehyung padanya.
"Ah, saya tidak sengaja bertemu dengannya di halte depan sekolah. Dia berteriak ketakutan."
"Ah, benar juga. Sejak sore tadi hujan. Pasti dia berteriak karena petir, kan?" Sambung Taeyeon.
Hyehyun mengangguk.
"Apakah, Taehyung takut pada petir?"
"Iya, ia memiliki aerophobia. Ia takut pada petir sejak kecil. Mungkin karena dulu, ia sering sendirian di rumah." Jelas Ibunya.
"Sendirian?"
"Iya, dulu ibu dan ayah selalu pergi pagi dan pulang larut malam. Bahkan sampai tidak pulang. Saat itu aku juga di luar negeri. Sebab itulah, Taehyung takut pada petir ketika sendirian. Ketakutannya semakin menjadi ketika ayah dulu hampir tersambar petir. Aku merasa kasihan padanya, ditambah ia sering di ejek teman-temannya karena fobianya itu."
Hyehyun memangut-mangutkan kepalanya. Sebenarnya, ia tak mengerti. Bukan, ia hanya belum mengerti.
"Pantas saja. Saat itu, dia langsung memelukku ketika mendengar suara petir. Karena memang hanya aku yang ada di sana." Ujar Hyehyun polos setelah memahami perkataan Taeyeon.
"Benarkah?" Tanya Taeyeon dan ibunya bersamaan. Hyehyun mengangguk. Mereka bertiga terkejut ketika mendengar suara petir yang menggelegar diikuti suara teriakan.
Perhatian tiga wanita itu teralihkan pada kamar di ujung lantai dua. Tanpa menunggu lagi, Hyehyun berlari menuju ruangan yang tak lain adalah kamar Taehyung.
"Tae, kau tak apa?"
Hyehyun mendekati Taehyung yang telah meringkuk di samping ranjangnya. Hyehyun menyentuh pundak lelaki itu dan ia mendongak. Detik berikutnya, mereka telah berpelukan.
"Sudah kubilang, jangan tinggalkan aku. Aku takut." Lirih Taehyung.
Tubuh Taehyung bergetar hebat. Hyehyun mengusap punggung lelaki itu dengan sangat lembut. Terkadang gadis itu membisikkan kata-kata yang membuat Taehyung tenang. Napas Taehyung berangsur teratur. Sebelum Taehyung tertidur dalam dekapannya, Hyehyun menuntunnya ke tempat tidur. Ia menyelimuti lelaki itu sampai lehernya. Hyehyun duduk di sampingnya dan menyisir pelan rambut Taehyung yang masih setengah basah.
Hyehyun tersenyum ketika Taehyung kembali membuka matanya dan menatapnya teduh. Ini kedua kalinya Hyehyun melihat tatapan itu. Taehyung menarik Hyehyun agar lebih dekat dengannya.
"Tae..." Ucap Hyehyun ketika wajah mereka semakin dekat.
"Hyun, maafkan aku. Aku mencintaimu."
Hyehyun terdiam akan perkataan Taehyung barusan. Ia menatap lelaki itu penuh tanda tanya. Hyehyun tersenyum manis sebelum akhirnya kedua material lembut itu bertautan. Tanpa mereka sadari, kedua manusia cantik tengah memperhatikan adegan manis tersebut. Taeyeon dan ibunya terkikik geli.
"Akhirnya, Taehyung dewasa juga."
***
"Aku pulang."
"Hyehyun!" Pekik Jihyun.
Seketika perhatian seluruh penghuni ruangan keluarga itu teralihkan. Jihyun segera memeluk adik perempuannya itu.
"Eonnie, kenapa?"
Jihyun melepaskan dekapannya, ia mempoutkan bibirnya. Dibelakang, Taehyun dan Woohyun tengah menahan tawa. Begitu pula ayah dan ibu mereka.
"Aku, tidak, kami mengkhawatirkanmu, Hyehyun."
"Memangnya ada apa?" Ucap Hyehyun dengan wajah tanpa dosanya. Membuat tawa seisi rumah meledak.
"Kau ini!" Sungut Jihyun. Hyehyun tertawa.
"Iya, eonnie. Maafkan aku. Ayah, ibu, oppa, dan Taehyun, maafkan aku telah membuat kalian khawatir."
Hyehyun menghampiri ayah ibunya lalu memeluk mereka tulus. Diikuti Jihyun, Woohyun, dan Taehyun. Keluarga ini berbagi kehangatan dengan berpelukan di tengah hujan yang masih tak hentinya mengguyur atap rumah mereka.
***
Mark duduk terdiam di balkon kamarnya. Secangkir café latte hangat tak disentuhnya sedikitpun. Seakan ia ingin mendinginkan hatinya yang berapi-api sebab kejadian sore tadi. Ia cemburu. Hatinya sakit melihat gadis yang dicintainya berpelukan dengan pria lain. Walau gadis itu memang sangat mencintai pria itu. Hatinya tak memiliki harapan lagi saat ia mengetahui bahwa namja itu juga mencintai gadisnya.
Namja itu telah menyukai gadisnya sejak lama, sebelum Mark sendiri bertemu dengannya. Sebenarnya masih bisa, untuk seorang Mark Tuan memiliki gadis itu. Tapi, ia bukanlah tipikal orang yang akan merebut kebahagiaan orang lain. Bukankah ia orang yang baik? Tapi kenapa gadisnya lebih memilih lelaki kejam itu dibanding dirinya? Mark tersenyum getir.
"Cinta pertamamu, gagal total. Haha, menyedihkan."
Kini Mark benar-benar merasakan sakit yang dialami Hyehyun beberapa waktu lalu. Sangat perih dan sesak.
***
Haneul Senior High School
Hyehyun melangkahkan kaki mungilnya memasuki gerbang sekolahnya. Senyumnya mengembang di pagi hari yang cerah. Langkahnya terhenti ketika ia mengingat sesuatu.
"Tunggu. Semalam aku dan Taehyung.. Omo! Apa yang harus kulakukan jika bertemu dengannya?!"
Hyehyun menatap cemas ke sekelilingnya. Ia takut bertemu seseorang. Seseorang yang amat ia cintai dan ia takuti, Kim Taehyung. Langkahnya memelan, seperti seorang pencuri yang sedang beraksi, ia berjalan mengendap-endap.
"Kau kenapa?"
"Suara itu... Mati kau, Hyehyun!"
Hyehyun membalikkan badannya menghadap seorang lelaki yang menegurnya. Ia tersenyum kikuk.
"Ada... Apa?
"Kenapa kau berjalan seperti itu, heum? Ini masih pagi, dan kau sudah aneh." Ujar lelaki itu.
"Uh? Ti-tidak... A-aku hanya-"
Hyehyun membenarkan posisi berdirinya. Ia merapikan sedikit helaian rambut yang masih rapi. Sungguh, ia tak berani menatap Taehyung yang kini menampilkan senyum mautnya.
"Hanya tak ingin bertemu denganku karena semalam kita berciuman?"
Seketika muncul semburat merah muda di kedua pipi Hyehyun. Ia melirik Taehyung yang masih berdiri disampingnya, menatapnya. Napas Hyehyun tercekat saat Taehyung mengusap rambut cokelatnya.
"B-bukan itu... Tapi, itu juga termasuk." Ucap Hyehyun pelan. Taehyung terkekeh.
"Itu pertama bagimu?" Tanya Taehyung. Hyehyun hanya bisa mengangguk. Sungguh, jantung Hyehyun serasa akan jatuh.
"Bohong."
Hyehyun menatap lelaki jangkung di hadapannya. Seolah bertanya, Taehyung mengukir senyum manisnya. Ia mencubit kedua pipi yang merona itu.
"Apa? Itu memang yang pertama untukku. Jika itu kau... A-aku tau itu bukan yang pertama bagimu karena-"
"Karena kau yang mengambilnya."
"Huh? Apa maksudmu, Tae? Aku tidak mengerti."
Taehyung kembali berjalan diikuti Hyehyun. Hyehyun menatap Taehyung penuh tanda tanya.
"Kau yang mengambilnya, Hyun. Apa kau ingat saat kau menangis di restoran pamanku dan ku suruh pulang?"
Hyehyun mengangguk.
"Saat itu, aku mengikuti mobil yang mengantarkanmu..."
Flashback on
"Tuan muda, bagaimana? Nona ini tertidur."
Taehyung membuang napasnya berat. Ia mengisyaratkan pada supir keluarganya itu untuk mengetuk pintu rumah Hyehyun. Taehyung mengangkat Hyehyun dan menggendongnya ala bridal. Sampai di pintu, seseorang membuka dari dalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
200% [COMPLETED]
Fanfiction"Tak ada kata lelah untuk menunggumu." -Hyehyun "Terserah, jika itu maumu." -Taehyung
![200% [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/43356367-64-k832173.jpg)