Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

SEMBILAN

4.5K 459 46
                                        

بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Meera masih berdiri di tempatnya beberapa saat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Meera masih berdiri di tempatnya beberapa saat. Dalam hati, ia berulang kali mengingat nama Aisha, takut sampai lupa menyampaikan salam itu kepada Azzam. Bagaimanapun juga, itu adalah titipan yang baru saja dipercayakan kepadanya.

Namun, dibalik itu, ada satu nama lain yang diam-diam mengusik pikirannya.

Kaatiya.

Nama itu hanya disebut sepintas, bahkan nyaris seperti gumaman. Meski begitu, entah mengapa Meera merasa ada sesuatu di baliknya. Ia tidak tahu siapa perempuan itu, juga tidak mengerti mengapa Aisha tampak begitu terkejut saat mengetahui bahwa Azzam telah menikah.

Meera menghembuskan napas pelan.

"Sudahlah..." batinnya.

Barangkali memang bukan saatnya ia mencari tahu. Jika memang perlu diketahui, ia yakin waktunya akan datang dengan sendirinya.

Meera menghembuskan napas pelan, lalu mengalihkan pandangannya dari taman yang sedari tadi menemaninya. Rasanya sudah cukup lama ia berada di luar.

Dengan langkah santai, ia berbalik menyusuri jalan setapak yang mengarah kembali ke ndalem. Beberapa santri yang berpapasan dengannya sesekali melemparkan senyum dan sapaan ramah, yang dibalas Meera dengan anggukan kecil.

Tak butuh waktu lama, bangunan ndalem kembali terlihat di hadapannya. Meera menaiki beberapa anak tangga teras, lalu melangkah masuk ke dalam. Suasananya jauh lebih lengang dibandingkan saat ia keluar tadi. Hanya terdengar samar suara percakapan dari salah satu ruangan, sementara bagian lainnya tampak begitu tenang.

Meera pun berjalan menuju kamar yang ditempatinya bersama Azzam, berniat beristirahat sejenak sambil menunggu laki-laki itu kembali dari masjid.

Meera membuka laptopnya, lalu kembali melanjutkan bait-bait aksara yang belum sempat ia rampungkan.

Kacamata baca bertengger di batang hidungnya. Jemarinya lincah menari di atas papan ketik, sementara Meera tenggelam dalam rangkaian kata yang sedang ia susun, seolah tak lagi menyadari apa pun di sekitarnya.

Di sisi lain, Azzam yang baru saja menyelesaikan urusannya di luar memilih kembali ke kamar untuk beristirahat. Namun, begitu melangkah masuk, langkahnya justru terhenti. Tatapannya jatuh pada Meera yang sedang duduk di depan laptop.

Sudut bibir Azzam terangkat tipis. Baru kali ini ia melihat Meera seserius itu. Wajah yang biasanya dipenuhi senyum kini tampak begitu fokus, dengan kacamata baca yang membuatnya terlihat berbeda-lebih dewasa, tetapi tetap memancarkan kelembutan yang sama.

"Meera."

Perempuan itu sontak mengalihkan pandangannya ke samping. Azzam tengah menatap ke arahnya. Satu tangan laki-laki itu masih tersimpan di dalam saku jubah putihnya, sementara tangan yang lain perlahan melepaskan jas hitam yang sejak tadi membalut tubuhnya. Setelah itu, jemarinya menyisir rambut hitam sekelam malam ke belakang dengan gerakan tenang. Tatapannya tak sekali pun lepas dari Meera.

ZAMEERA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang