⚠️ FOLLOW SEBELUM DIBACA ⚠️
________
Azzam pernah mengira kalau semua cinta yang ia punya telah habis pada orang di masa lalunya. Mengubur kisah itu sedalam mungkin membuatnya lupa bagaimana rasanya membuka hati. Ia pikir, luka yang dipendam akan se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Karena mereka baru akan berangkat menjelang sore, Azzam memutuskan untuk tetap menjalani rutinitasnya seperti biasa. Sejak pagi, laki-laki itu sudah berangkat mengajar, memanfaatkan waktu yang masih tersisa sebelum melakukan perjalanan menuju pondok Miftahul Huda. Baginya, beberapa jam yang dimiliki masih terlalu berharga jika hanya dihabiskan dengan menunggu waktu keberangkatan.
Sepulang mengajar, Azzam langsung pulang ke ndalem. Setelah membersihkan diri dan menunaikan salat Zuhur, ia menemui Buya di ruang kerja untuk berpamitan sekaligus memberi tahu bahwa sore nanti ia akan berangkat bersama Meera memenuhi undangan Kyai Zaid. Buya mengangguk pelan seraya mengingatkan keduanya agar berhati-hati selama di perjalanan.
Usai berbincang dengan Buya, Azzam melangkah menuju ruang tengah. Di sana, Umi sedang merapikan beberapa pakaian yang baru diangkat dari jemuran. Melihat putranya datang, perempuan itu menghentikan kegiatannya dan mempersilakan Azzam duduk di sampingnya. Tak lama kemudian, obrolan ringan pun mengalir, mulai dari persiapan keberangkatan hingga beberapa pesan yang ingin Umi titipkan sebelum mereka berangkat.
"Meera nya mau kan, Mas? Kamu nggak paksa dia supaya mau ikut, kan?" tanya Umi sambil melirik ke arah Azzam. "Meera itu baru sembuh, kan, kalau kamu beneran mau bawa dia, tolong nanti jagain, Umi takutnya nanti dia malah sakit lagi, atau mungkin sebetulnya dia belum benar benar sembuh"
Azzam meraih tangan Umi ke dalam genggamannya, lalu mengusap punggung tangan perempuan itu dengan lembut. "Azzam janji bakal jagain Meera di sana, Umi. Jadi Umi nggak usah khawatir, ya. Azzam juga nggak maksa dia buat ikut. Tadi udah Azzam pastiin berkali-kali kalau kondisinya benar-benar udah fit."
Umi menghembuskan napas lega sebelum senyum hangat mengembang di wajahnya. "Alhamdulillah kalau gitu. Titip Meera ya, Mas. Jangan jauh-jauh dari dia. Tolong awasi terus."
Azzam terkekeh pelan. "Istri Azzam bukan anak kecil, Umi," godanya lembut. "Tapi Umi tenang aja. Tanpa Umi minta pun, Azzam pasti jaga dia."
Umi mengulas senyum tipis. Tatapannya berpindah pada putra semata wayangnya itu, lalu mengangguk pelan. Ada rasa lega yang perlahan memenuhi dadanya. Mendengar kalimat sederhana itu saja sudah cukup membuat kekhawatirannya berkurang. Bagaimanapun, Azzam selalu menepati setiap janji yang keluar dari lisannya.
Sekitar pukul tiga lewat lima belas, Azzam tiba di rumah. Dari ambang pintu kamar, ia melihat Meera sedang sibuk memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam koper yang tadi sudah mereka rapikan.
Azzam menghampiri, lalu duduk di samping istrinya. "Meera, kok kopernya dibuka lagi?" tanyanya lembut. "Ada yang ketinggalan?"
Meera menggeleng pelan tanpa menghentikan tangannya. "Nggak, Mas. Tadi baru kepikiran bawa jaket sama beberapa baju ganti lagi. Takut nanti kepakai di sana."