⚠️ FOLLOW SEBELUM DIBACA ⚠️
________
Azzam pernah mengira kalau semua cinta yang ia punya telah habis pada orang di masa lalunya. Mengubur kisah itu sedalam mungkin membuatnya lupa bagaimana rasanya membuka hati. Ia pikir, luka yang dipendam akan se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Meera"
Lelaki itu menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari sosok istrinya. Namun, yang ditemuinya hanya tempat tidur yang tadi malam mereka tempati, kini telah tertata rapi. Kening Azzam berkerut tipis. Ke mana perginya perempuan itu?
"Iya, Mas?" sahut Meera dari dalam toilet. Perempuan itu rupanya masih mengenakan pakaian yang sama seperti pagi tadi.
"Ayo siap-siap, kita pulang sekarang."
"Loh? Kan kata kamu nanti sore, pulangnya?"
Azzam mengangguk pelan. "Iya, tapi batal. Kita pulang sekarang saja. Kalau berangkat sekarang, kemungkinan besar kita sampai di rumah sekitar pukul tujuh. Kalau pulang sore, kita justru akan kemalaman di jalan. Soalnya, ada urusan yang harus saya selesaikan"
Meera menatap Azzam beberapa saat. "Urusan kantor?"
"Sebagian, iya. Ada beberapa hal yang nggak bisa ditunda lagi."
Meera mengangguk pelan. "Yaudah, aku siap-siap dulu."
Azzam hanya mengangguk pelan.
Saat mengganti pakaian di kamar mandi, Meera kembali tenggelam dalam pikirannya. Apakah pertemuannya dengan Azzam benar-benar bagian dari takdir? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, berkelindan dengan bayang-bayang tentang Kaatiya yang seolah enggan meninggalkan ruang di benaknya.
Semakin dipikirkan, semakin sulit bagi Meera untuk percaya bahwa alasan Azzam mengajaknya pulang lebih awal hanya karena pekerjaan. Hatinya terus berbisik bahwa ada alasan lain yang disembunyikan lelaki itu. Lagi-lagi, nama Kaatiya muncul tanpa diundang, memenuhi benaknya dengan berbagai kemungkinan yang ingin ia tepis, tetapi tak mampu.
Meera kembali gamang.
Tak lama kemudian, Meera keluar dengan pakaian yang ia pakai saat pulang dari pondok pesantren. "Aku udah siap, Mas."
"Tunggu di depan, saya ganti baju dulu." Titah Azzam.
Tanpa banyak bertanya, Meera mengangguk lalu melangkah keluar kamar. Perempuan itu memilih menunggu di halaman depan, sementara Azzam bersiap mengganti pakaiannya. Tangan Meera sedang sibuk berselancar di atas layar ponsel ketika lelaki itu menenteng koper, sementara tangan kirinya menggenggam kunci mobil. Lelaki itu memasukan kopernya terlebih dahulu ke dalam bagasi sebelum menoleh ke arah Meera
"Ayo, naik." Ucap Azzam ke arah Meera yang menunggunya di sisi mobil.
Begitu keduanya duduk di dalam mobil, Azzam belum juga menyalakan mesin. Ponsel di dalam saku celananya tiba-tiba bergetar. Meera yang duduk di sampingnya spontan menoleh. Di layar ponsel itu tak tertera nama siapa pun, hanya deretan angka dari nomor yang belum disimpan Azzam.