⚠️ FOLLOW SEBELUM DIBACA ⚠️
________
Azzam pernah mengira kalau semua cinta yang ia punya telah habis pada orang di masa lalunya. Mengubur kisah itu sedalam mungkin membuatnya lupa bagaimana rasanya membuka hati. Ia pikir, luka yang dipendam akan se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Hari ini saya sama Gus Ikhsan akan menemani Buya Hamzah berkeliling. Sekalian ada beberapa urusan juga, jadi kemungkinan baru selesai sore. Kamu makan siang bareng Ning Hana aja, ya."
"Iya."
Azzam mengangguk pelan. Setelah menutup kitab yang sedari tadi ia baca, lelaki itu meletakkannya di atas meja lalu berdiri."Saya keluar dulu. Mau saya temani ke tempat Ning Hana?"
Meera menggeleng kecil. "Nggak usah. Nanti aku bisa kesana sendiri."
Azzam mengangguk paham. "Ya sudah. Kalau begitu saya berangkat dulu."
Meera kembali mengalihkan pandangannya ke tumpukan pakaian di sampingnya. Baju-baju yang sudah kering itu belum sempat ia lipat. Namun, entah kenapa, ia merasa Azzam masih berdiri di tempat. Perempuan itu pun menoleh lagi.
"Nungguin apa?" tanyanya heran.
Azzam masih menatapnya beberapa saat, lalu menggeleng pelan. "Nggak ada."
Lelaki itu tersenyum tipis sebelum berbalik menuju pintu. "Ya sudah, saya pergi dulu, ya. Jangan telat makan."
"Iya," jawab Meera pelan sambil mengangguk.
Setelah memastikan Azzam benar-benar menghilang di balik pintu, Meera merapikan kerudungnya. Tak lama kemudian, Ning Hana menghampirinya, mengajak Meera berkeliling pondok sejenak.
Meera pun berjalan berdampingan dengan Ning Hana menyusuri halaman pondok. Angin siang berembus pelan, menggerakkan dedaunan yang menaungi jalan setapak menuju taman. Sesekali keduanya bertukar senyum, hingga akhirnya Ning Hana memecah keheningan.
"Ning Meera, menikah karena dijodohkan, ya?" tanyanya.
Meera menoleh sebentar, lalu mengangguk pelan. "Iya, Ning. Kami dijodohkan."
Perempuan itu beralih menatap Meera di sampingnya. "Saya juga dulu sama Mas Ikhsan menikah karena dijodohkan, Ning," ucapnya sembari tersenyum.
Meera menoleh dengan raut sedikit terkejut. "Benarkah?"
Ning Hana mengangguk pelan. "Iya. Awalnya saya juga banyak takutnya. Takut nggak cocok, takut nggak bisa jadi istri yang baik, bahkan sempat bertanya-tanya, apa mungkin saya bisa mencintai orang yang belum benar-benar saya kenal."
la tersenyum kecil, pandangannya menerawang ke depan. "Tapi ternyata, cinta itu nggak selalu datang sebelum akad. Kadang justru tumbuh setelah dua orang sama-sama memilih untuk saling belajar, saling memahami, dan saling menjaga."