⚠️ FOLLOW SEBELUM DIBACA ⚠️
________
Azzam pernah mengira kalau semua cinta yang ia punya telah habis pada orang di masa lalunya. Mengubur kisah itu sedalam mungkin membuatnya lupa bagaimana rasanya membuka hati. Ia pikir, luka yang dipendam akan se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Semalam, pembicaraan mereka hanya sampai di situ. Meera memilih mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh. Padahal, ada banyak hal yang masih ingin ia ketahui, tetapi ia merasa belum saatnya mengorek masa lalu Azzam lebih dalam.
Malam itu, ia memutuskan menyimpan semua pertanyaan itu rapat-rapat di dalam kepalanya, membiarkan waktu yang nanti menjawabnya satu per satu.
Jarum pendek di arloji yang melingkar di tangan kiri Meera sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Artinya, Azzam sebentar lagi akan pulang dari masjid, lelaki itu mengatakan akan pulang sedikit telat karena akan mengaji terlebih dahulu.
Ning Hana sudah memberitahunya bahwa ia boleh menggunakan dapur ndalem kapan saja jika ingin memasak. Karena itu, pagi ini Meera memutuskan untuk menyiapkan sarapan untuk Azzam.
Sejak pukul enam pagi, Meera sudah sibuk di dapur. Tak butuh waktu lama, sepiring nasi goreng hangat lengkap dengan omelette tersaji rapi di atas meja makan. Ini adalah makanan kesukaan Azzam, laki-laki itu pasti akan senang jika di masakin sarapan dengan menu ini
Kala tubuhnya sudah duduk dengan rapi dihadapan meja makan dan tangannya siap mengarahkan satu sendok nasi ke arah mulut, gerakan Meera berhenti saat mendengar suara orang mengucapkan salam dari arah depan. Suara laki-laki itu sedikit serak, rambut Azzam berantakan, satu tangannya bergerak menyugar helai surai hitam legam itu ke belakang. Meera memperhatikan semua gerakan itu dalam diam.
"Assalamu'alaikum... kamu masak apa? Wanginya udah kecium dari pintu depan," sapa Azzam sambil melangkah masuk ke ruang makan.
Azzam menghentikan langkahnya sejenak. Tatapannya beralih ke hidangan di atas meja, lalu kembali kepada Meera. "Nasi goreng?"
Azzam menarik kursi lalu duduk di hadapan Meera. Pandangannya kembali jatuh pada sepiring nasi goreng lengkap dengan omelet yang tersaji rapi di atas meja. Ia tersenyum tipis. "Pantesan aromanya sampai ke depan"
Meera ikut tersenyum kecil. "Aku tau selera kamu." Ucapnya dengan kekehan kecil. "Oh iya Mas, acara yang kamu bilang semalam mulai jam berapa, ya? Aku lupa."
"Jam 9. Nanti kita berangkat bareng sama Ikhsan dan Ning Hana. Nanti kamu sama Ning Hana, ya, kemungkinan saya akan pulang sore untuk hari ini."
Azzam meraih sendok, lalu menatap Meera sesaat. "Makasih ya udah nunggu saya, walaupun sebenarnya kamu bisa aja duluan makannya"
"Mas..."
Azzam tertawa pelan "Iya iya.."
Mereka makan dalam keadaan hening. Hanya terdengar suara sendok yang sesekali menyentuh piring, sementara tak ada satupun dari mereka yang berniat memecah keheningan lebih dulu.