⚠️ FOLLOW SEBELUM DIBACA ⚠️
________
Azzam pernah mengira kalau semua cinta yang ia punya telah habis pada orang di masa lalunya. Mengubur kisah itu sedalam mungkin membuatnya lupa bagaimana rasanya membuka hati. Ia pikir, luka yang dipendam akan se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Baik-baik di sana ya, Sayang. Azzam jaga kamu dengan baik, kan?"
"Baik kok, Umi. Mas Azzam benar-benar jaga aku di sini."
"Bilang sama Azzam, jangan lupa manfaatkan waktu cutinya nanti dengan baik."
"Cuti? Buat apa, Mi?"
Terdengar kekehan pelan dari seberang sana. "Tanya langsung sama Azzam aja, Nak. Umi tutup dulu ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Meera menurunkan ponselnya dengan dahi berkerut.
Azzam ambil cuti?
Rasanya aneh.
Setahunya, lelaki itu nyaris tidak pernah rela meninggalkan pekerjaannya. Bahkan saat pernikahan mereka pun, Azzam hanya mengambil cuti tepat di hari akad. Keesokan harinya, ia sudah kembali ke pondok untuk mengajar atau ke kantor kalau memang lagi ada rapat.
Lalu, cuti yang dimaksud Umi kali ini untuk apa?
Meera meletakkan ponselnya di atas meja, lalu berbalik. "Astaghfirullah!"
Sontak ia mundur selangkah. Rupanya Azzam sudah berdiri di ambang pintu, menyandarkan punggungnya di kusen sambil terkekeh melihat reaksinya.
Azzam hanya mengangkat sebelah alis, jelas tidak sepenuhnya percaya pada jawaban itu.
Meera semakin memundurkan langkahnya setiap kali Azzam maju mendekat.
"Kalau gitu, tadi kamu sama Umi ngobrolin apa aja?"
"Itu... kata Umi..."
Duk!
Punggung Meera nyaris membentur kaca jendela.
Refleks, Azzam segera meraih pinggang perempuan itu dan menariknya mendekat. Alih-alih membentur jendela, tubuh Meera justru menabrak dada bidang Azzam.