⚠️ FOLLOW SEBELUM DIBACA ⚠️
________
Azzam pernah mengira kalau semua cinta yang ia punya telah habis pada orang di masa lalunya. Mengubur kisah itu sedalam mungkin membuatnya lupa bagaimana rasanya membuka hati. Ia pikir, luka yang dipendam akan se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ning Meera!"
Meera menoleh. Seorang perempuan berbalut abaya hitam berjalan menghampirinya dengan senyum sumringah yang langsung menyambut pagi itu. Tangannya terangkat, melambai kecil ke arah Meera.
"Ning Meera sudah sarapan?" tanyanya ramah.
Meera sempat mengernyit bingung. Barangkali ekspresi itu terlalu jelas tergambar di wajahnya hingga perempuan tersebut terkekeh pelan.
"Eh, saya lupa memperkenalkan diri, ya. Saya Hana, istrinya Mas Ikhsan."
Ah, istri teman Mas Azzam, batin Meera akhirnya paham.
Senyum Meera pun mengembang. "Oh, Ning Hana. Alhamdulillah, saya sudah sarapan kok. Ning Hana sendiri gimana?"
"Alhamdulillah, sudah juga," jawab Hana dengan senyum hangat.
Meera mengangguk pelan. "Maaf ya, Ning. Tadi saya sempat bingung, soalnya Mas Azzam nggak cerita kalo Gus ikhsan sudah punya istri."
Hana tersenyum sambil menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, Ning. Saya juga baru tahu Gus Azzam datang bawa istri pas semalam. Jadi ya, sama-sama baru saling kenal hari ini." Ia tersenyum hangat. "Maaf ya, semalam saya nggak ikut menyambut Ning sama Gus Azzam. Kebetulan saya ketiduran."
Meera menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, Ning."
Hana kemudian melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Wah, saya harus pergi dulu, nih." Ia kembali menatap Meera sambil tersenyum. "Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi ya, Ning. Saya tinggal dulu."
"Iya, Ning. Silahkan," balas Meera ramah.
Setelah puas menghirup udara pagi yang sejuk, Meera memutuskan kembali ke kamarnya. Ia baru teringat bahwa barang-barangnya masih belum sempat dibereskan. Begitu pula barang-barang Azzam yang sebagian masih tersimpan rapi di dalam koper.
Ndalem tempat mereka menginap memiliki beberapa kamar yang berjajar memanjang. Kamar yang ditempati Azzam dan Meera berada di urutan kedua, tepat berhadapan dengan kamar Gus Ikhsan dan Ning Hana. Suasananya tenang, hanya sesekali terdengar suara langkah kaki para santri yang berlalu-lalang di halaman depan.
Meera tengah merapikan beberapa potong pakaiannya ke dalam lemari ketika suara derit pintu terdengar dari belakang. Ia sontak menoleh, menghentikan kegiatannya mengeluarkan pakaian dari koper.
Ternyata Azzam baru saja masuk. Laki-laki itu menutup pintu di belakangnya sebelum melangkah menghampiri Meera.
Kedua tangannya dipenuhi beberapa kantong plastik. Dari aroma yang samar tercium, Meera menduga isinya adalah makanan. Senyum tipis pun mengembang di wajahnya.