⚠️ FOLLOW SEBELUM DIBACA ⚠️
________
Azzam pernah mengira kalau semua cinta yang ia punya telah habis pada orang di masa lalunya. Mengubur kisah itu sedalam mungkin membuatnya lupa bagaimana rasanya membuka hati. Ia pikir, luka yang dipendam akan se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Written by Geanbull.a
🦋🦋🦋
Lima tahun telah berlalu. Perempuan itu nyaris tak berubah. Baru kali ini Azzam benar-benar mengakuinya-gadis yang pernah disebut Umi sebagai calon istrinya adalah seseorang yang selama ini begitu ia kenal.
Wajahnya masih sama, hanya pipinya kini tampak sedikit chubby dari sebelumnya, membuat senyumnya terlihat semakin hangat.
Mungkin yang membedakan adalah sorot matanya yang kini terlihat lebih hidup?
Tatapan Azzam tak beranjak sedikit pun. Untuk beberapa saat, ia hanya diam, seolah tengah memastikan bahwa perempuan di hadapannya benar-benar orang yang sama. Senyum itu, sorot matanya, bahkan cara perempuan itu menundukkan kepala sesekali, semuanya terasa begitu akrab.
"Kalian ngobrol dulu sana, mungkin ada yang perlu kalian obrolin berdua." ujar ibun yang langsung di setujui oleh umi hanum
"Iya, kalian perlu ngobrol berdua, silahkan Nak."
Azzam dan Meera akhirnya bangkit dari tempat mereka, lalu berjalan menuju halaman depan. Keduanya memilih duduk di kursi yang saling berhadapan, terpisah oleh sebuah meja dengan jarak yang masih terasa cukup jauh.
Meski beberapa kali berusaha mengalihkan pandangannya, matanya selalu menemukan jalan untuk kembali menatap laki-laki itu. Dan kembali memusatkan perhatian kepada Azzam. Meera sama sekali tidak bohong dan bersumpah kalau Azzam saat ini benar-benar terlihat menawan dengan setelan jubah abu muda dengan dilapisi jas hitam. Laki-laki itu terlihat simple, namun tampak elegan dan berwibawa.
"Kita mulai?" tanya Azzam yang langsung di angguki oleh Meera
"Okey.. saya perlu meluruskan satu hal. Saya nggak pernah tertarik sama yang namanya perjodohan sejak awal, Ini semua adalah ide orang tua saya dan saya harap kamu mengerti bahwa saya tidak dapat menjamin bahwa kita akan benar-benar menikah."
Meera mengerjap beberapa kali setelah mendengar kalimat itu. Azzam tidak memberinya cukup waktu untuk mempersiapkan diri. Azzam bahkan merasa tidak perlu repot memperkenalkan diri atau menanyakan kabarnya, laki-laki itu langsung menembak ke inti pembicaraan.
"Maaf mas, maksudnya...?"
Azzam menghembuskan napas pelan. Tatapannya tetap lurus ke depan, seolah tengah menyusun kalimat agar tidak terdengar lebih menyakitkan dari yang seharusnya.
"Saya hanya ingin bersikap jujur sejak awal. Saya tidak ingin memberikan harapan yang nantinya tidak bisa saya penuhi."
Meera terdiam. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan.