⚠️ FOLLOW SEBELUM DIBACA ⚠️
________
Azzam pernah mengira kalau semua cinta yang ia punya telah habis pada orang di masa lalunya. Mengubur kisah itu sedalam mungkin membuatnya lupa bagaimana rasanya membuka hati. Ia pikir, luka yang dipendam akan se...
Mau sendiri atau berpasangan Harus tetap semangat Menebar kebaikan. Sebab menjadi baik itu Nggak harus dengan siapa
-Hafidza Ameera-
🦋🦋🦋🦋🦋
بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Azzam baik, kan, ke kamu?"
Meera mengangguk, "Baik kok, umi." jawabnya, sementara matanya tanpa sadar mengikuti langkah Azzam hingga laki-laki itu tak lagi terlihat.
Mengingat bagaimana Azzam memperlakukannya selama beberapa hari terakhir, terlebih setelah apa yang terjadi kemarin, rasanya tidak adil jika Meera tidak mengakui bahwa laki-laki itu memang baik.
Setidaknya, selama mereka bersama, Azzam tidak pernah sekalipun bersikap kasar atau memperlakukannya dengan semena-mena. Laki-laki itu selalu menjaga tutur kata dan tahu batasan dalam bersikap. Terlepas dari perasaannya yang masih tertinggal pada masa lalu, Meera tidak bisa memungkiri bahwa sebagai seorang suami, Azzam telah berusaha menjalankan tanggung jawabnya sebaik mungkin.
"Aku sama Mas Azzam itu sama-sama orang yang baru kenal, Umi. Wajar, kan, kalo misalnya ada kecanggungan, wajar kalau kami berdua nggak bisa langsung akrab. Perjodohan yang terjadi juga terbilang cepat, aku bisa maklum kalau Mas Azzam masih belum terbiasa sama kehadiranku di rumahnya karena mau bagaimanapun juga, aku ini orang baru yang tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya"
Setelah mengatakan itu senyum tipis diberikan Meera untuk menenangkan Umi, berharap kalau Senyumnya bisa membuat perempuan di depannya itu berhenti mengerutkan kening khawatir, serta percaya kalau rumah tangga mereka baik-baik saja.
"Aku sama Mas Azzam baik-baik aja kok, umi nggak perlu khawatir."
Dada Umi seakan dibasuh ketika kalimat itu dia dengar langsung dari bibir sang menantu. Umi punya banyak ketakutan selama ini, dan tidak dapat dipungkiri kalau nama Azzam berada di urutan pertama di dalam daftar ketakutan yang Umi punya. Umi hanya takut anak itu tidak benar-benar menemukan kebahagiaannya setelah luka yang ditinggalkan masa lalu. Umi takut Azzam terlalu lama menyendiri sampai lupa mencari orang lain untuk dijadikan teman hidup sejati. Umi punya segudang ketakutan akan hidup anak satu-satunya itu
Meera mengalihkan pandangan, enggan menatap Umi yang kini tengah senyum ke arahnya. Di tengah kalut yang coba Mira sembunyikan dengan apik, umi malah memperparah keadaan Dengan mengatakan hal lain
"Dari semua hal yang Umi takutkan di dunia ini, Umi paling takut kalau Azzam nggak bahagia," ucap umi sebagai pembuka. "Azzam itu anak baik, Nak. Azzam itu anak yang baik hati dan Umi akan selalu dengan bangga bilang hal yang sama sampai ratusan kali"