⚠️ FOLLOW SEBELUM DIBACA ⚠️
________
Azzam pernah mengira kalau semua cinta yang ia punya telah habis pada orang di masa lalunya. Mengubur kisah itu sedalam mungkin membuatnya lupa bagaimana rasanya membuka hati. Ia pikir, luka yang dipendam akan se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Suka, nggak?" Tanya umi. Setelah sampai di rumah.
Azzam terdiam. Pria itu tak langsung menjawab. Pandangannya lurus ke depan, seolah sedang menimbang-nimbang jawaban yang akan dikeluarkan
"Cantik, kan, sama seperti dulu?"
"Umi, sebenarnya aku mencintai orang lain."
Oke, ternyata kalimat itu saja sudah membuat umi terkejut.
"Siapa, mas?" tanya umi
"Kaatiya, mant—"
Kalimat Azzam tertahan di tenggorokan. Ada rasa tidak nyaman yang langsung duduk di hati saat nama itu keluar dari bibirnya. Nama Kaatiya sama sekali tidak pernah terucap di hadapan kedua orang tuanya karena orang tuanya itu sangat melarang Azzam untuk punya hubungan sebelum menikah
Abuya tiba-tiba muncul dari belakang mengatakan kalimat itu dengan nada santai, tapi tatapan matanya yang serius berhasil membuat Azzam merasa terintimidasi
"Dia.. mantan aku" suaranya memelan di ujung kalimatnya. Kepalanya tertunduk dalam, rasa tidak nyaman yang mengungkung dadanya semakin berkuasa dan membuat lelaki itu sedikit kesulitan menarik nafas dengan benar. "Aku pernah menjalin hubungan dengan perempuan waktu masih menempuh pendidikan, perempuan itu bernama Kaatiya."
Mendengar pengakuan itu, Abuya menghembuskan napas pelan. Tatapannya jatuh pada Azzam yang masih menunduk "Buya udah pernah bilang kan sama kamu, jangan pernah menjalin hubungan sebelum menikah, itu dosa, Nak."
"Berapa lama kamu berhubungan sama dia?"
"Nggak sampai setahun."
"Udah jadi mantan, kan? Terus kenapa tadi bilang kalau kamu masih mencintai dia?"
Kini giliran Umi yang bertanya. Berbeda dengan yang Azzam bayangkan, tak ada nada kecewa ataupun marah dalam suaranya. Perempuan paruh baya itu justru tersenyum tipis seraya mengusap lembut punggung tangan Azzam.
"Dia satu-satunya perempuan yang pernah menjalin hubungan dengan Azzam, Mi. Jadi, rasanya wajar kalau Azzam masih kesulitan buat melepas dia."
Suara Azzam semakin tercekat. Air mata mengancam untuk menuruni pipi dan Azzam berusaha keras agar tangisannya tidak pecah saat itu juga.
"Jadi kamu masih mencintainya sampai sekarang?" Tanya umi lagi.
Kali ini, Azzam mengangguk pelan. Tidak ada lagi yang bisa disembunyikan dari orang tuanya sekarang. Beban yang ditanggung di kedua bahunya juga terasa terlalu berat dan Azzam benar-benar sudah kelelahan karena harus menghadapinya sendiri. "Udah lewat dua tahun dan perasaan itu masih ada sampai sekarang."