Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

EMPAT BELAS

5.2K 422 111
                                        

بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Hari ini sudah pukul setengah empat sore ketika Azzam pada akhirnya bisa membaringkan tubuh di atas ranjang bersama Meera di sampingnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hari ini sudah pukul setengah empat sore ketika Azzam pada akhirnya bisa membaringkan tubuh di atas ranjang bersama Meera di sampingnya. Meski wajah perempuan itu masih sedikit terlihat pucat, Azzam harus mengakui bahwa Meera tetap tampak cantik. Ada keteduhan yang selalu terpancar dari wajah perempuan itu, menghadirkan rasa nyaman bagi siapapun yang memandangnya. Mungkin bukan kecantikan yang langsung mencuri perhatian, tetapi semakin lama diperhatikan, semakin sulit mengalihkan pandangan darinya.

Tanpa sadar, sudut bibir Azzam terangkat membentuk senyum tipis.

Beberapa helai anak rambut jatuh menutupi wajah perempuan itu. Dengan gerakan pelan, Azzam menyelipkan anak rambut tersebut ke belakang telinga Meera agar tidak lagi menutupi wajahnya.

"Meera... maaf kalau saya belum bisa jaga kamu dengan baik."

Sesaat ia memandangi wajah istrinya, lalu menghembuskan napas pelan sebelum berbalik menuju kamar mandi.

Tak lama kemudian, Meera mengerjapkan matanya perlahan. Dalam kesadarannya yang belum sepenuhnya pulih, ia merasa seperti mendengar suara Azzam, meski tidak begitu jelas.

Perempuan itu bangkit dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Setelah memastikan rasa pusingnya sudah jauh berkurang, ia berjalan ke meja rias, mengambil ikat rambut, lalu mengikat rambut panjangnya dengan rapi.

"Loh, udah bangun?"

Meera yang sedang mengikat rambutnya sontak menoleh. "Eh, Mas. Sejak kapan kamu di situ?"

"Baru aja."

Tatapan Azzam jatuh pada Meera yang sudah berdiri. "Ngapain berdiri? Sini dulu."

Meera menatapnya bingung.

"Kepala kamu masih pusing, kan? Tadi juga badannya masih hangat."

Meera tersenyum tipis. "Udah jauh lebih enakan, kok."

Azzam tetap menggeleng pelan. "Ya tetap. Jangan terlalu banyak bergerak dulu. Istirahat sampai benar-benar pulih."

Meera akhirnya menurut. Ia berjalan perlahan menghampiri ranjang, sementara Azzam memperhatikan setiap langkahnya hingga perempuan itu kembali duduk di tepi ranjang.

Setelah memastikan Meera merasa nyaman, Azzam ikut duduk di sampingnya. Lelaki itu memiringkan tubuh menghadap ke arah Meera dan memintanya untuk menatapnya.

"Kenapa, Mas?"

"Masih pusing nggak?" tanya Azzam pelan.

Meera menggeleng sambil tersenyum tipis. "Udah agak mendingan, kok. Nggak se pusing waktu siang tadi."

"Syukurlah," gumam Azzam, wajahnya tampak sedikit lebih lega. "Kayaknya liburan kita ditunda dulu aja, ya. Kondisi kamu masih begini."

Meera mengangkat wajahnya. "Aku nggak apa-apa, kok. Memangnya Mas Azzam mau ngajak aku ke mana?"

ZAMEERA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang