⚠️ FOLLOW SEBELUM DIBACA ⚠️
________
Azzam pernah mengira kalau semua cinta yang ia punya telah habis pada orang di masa lalunya. Mengubur kisah itu sedalam mungkin membuatnya lupa bagaimana rasanya membuka hati. Ia pikir, luka yang dipendam akan se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di hari berikutnya, dua manusia itu semakin dekat. Azzam benar-benar memperlakukan Meera dengan bagaimana mestinya, lelaki itu merawat Meera hingga demamnya hilang dan perempuan itu mampu tertidur pulas dengan posisi mereka yang saling berpelukan erat. Meera tidak tahu perasaan mana yang harus dia jadikan prioritas saat ini, bahagia atau takut. Entah yang mana diantara dua rasa itu yang harus Meera jadikan reaksi utamanya setelah mendapatkan perlakuan baik dari Azzam yang sudah menjadi haknya
"Gue penasaran" Ucap Iqbal sebagai pembuka. Lelaki itu melanjutkan "kok lo bisa secepat itu berubah pikiran? Apa yang membuat lo yakin?"
Azzam mengangkat bahunya acuh. Jangankan orang lain, dirinya sendiri pun masih bingung. Perasaannya terhadap Meera masih terlalu hambar untuk diberi nama. Ia pun tak tahu, apakah hubungan yang berawal dari keinginan orang tua ini benar-benar bisa membuahkan rasa, atau justru akan tetap berjalan tanpa cinta.
Namun, satu hal yang ia sadari, setiap kali bersama Meera, perempuan itu tak pernah sekalipun menuntutnya untuk segera membuka hati. Meera hanya hadir dengan segala kesederhanaannya, tanpa memaksa, tanpa menghakimi, seolah memahami bahwa ada luka yang memang membutuhkan waktu untuk sembuh.
Mungkin karena itulah, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Azzam tidak lagi merasa ingin menjauh. Meski belum bisa menyebutnya sebagai cinta, setidaknya kini ia mulai bersedia memberi kesempatan-bukan hanya untuk Meera, tetapi juga untuk hatinya sendiri.
"Bang, kopi satu kayak biasa." Azzam berujar kepada si pemilik angkringan yang sudah hafal dengan kehadirannya. Beberapa menit kemudian, segelas kopi hitam dengan satu sendok gula tersaji di meja.
"Tadinya, karena emang dari awal gue udah nggak punya pilihan lain selain mengiyakan permintaan mereka. Lo tau sendiri kan, mereka sampai bilang ini permintaan terakhir mereka. Gue bisa apa selain mengiyakan?" Azzam menjeda kalimatnya. Lelaki itu menyeruput kopinya terlebih dahulu sebelum kembali melanjutkan. "Tapi makin ke sini... gue ngerasa keputusan ini nggak seburuk yang gue bayangin."
"Gimana rasanya setelah lo jalanin ini semua?"
"Awalnya gue pikir gue cuma bakal menjalani semuanya karena kewajiban. Tapi sekarang... gue mulai menikmati prosesnya. Gue mulai nungguin obrolan sama dia, mulai nyari dia pas dia nggak ada. Entah ini cinta atau cuma rasa nyaman, gue juga belum tahu. Yang jelas .. gue mulai pengen hubungan ini berhasil."
"Kok lo bisa, ngelakuin itu semua tanpa dasar cinta, Zam?"
Azzam terdiam beberapa saat. Pandangannya jatuh pada permukaan kopi yang mulai mendingin. "Awalnya gue juga mikir gue nggak bakal bisa," ucapnya pelan. "Tapi ternyata... mencintai seseorang itu nggak selalu dimulai dari rasa."