⚠️ FOLLOW SEBELUM DIBACA ⚠️
________
Azzam pernah mengira kalau semua cinta yang ia punya telah habis pada orang di masa lalunya. Mengubur kisah itu sedalam mungkin membuatnya lupa bagaimana rasanya membuka hati. Ia pikir, luka yang dipendam akan se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ucapan Meera ada benarnya juga. Orang tuanya hanya menginginkan dia menikah dengan perempuan pilihan mereka, dan dia sama sekali tidak bisa menolak keinginan itu. Lagi pula, sejak awal jawaban yang ia berikan pun sama seperti Meera.
Jadi, untuk apa dia bersusah payah membuat Meera menggagalkan perjodohan ini? Toh, sejak awal mereka berdua sama-sama sudah menerima keputusan itu. Bedanya, Meera masih menyimpan harapan bahwa cinta bisa tumbuh seiring waktu, sementara Azzam tidak berharap apa pun selain menjalani apa yang telah ditetapkan untuknya.
Azzam menghembuskan napas pelan. Mungkin memang tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Pertemuan ini bukan untuk mencari alasan agar perjodohan batal, melainkan untuk memastikan bahwa mereka melangkah ke arah yang sama, meski dengan hati yang berbeda.
Setelah pulang mengajar sekitar pukul 11.20, Azzam melangkah menuju dapur. Ia mengambil sebotol air dingin dari dalam kulkas, lalu berjalan ke arah sofa. Namun, belum sempat ia duduk, terdengar suara Umi dari arah belakang yang membuatnya menoleh
"Mas, sudah bertemu Meera, kan, kemarin?"
"Sudah, Umi. Kemarin Azzam sama Meera ketemu di cafe, tapi Azzam juga ajak Iqbal kok, jadi kami nggak hanya berdua."
Umi mengangguk lalu duduk di samping Azzam "Jadi, gimana?"
"Gimana apanya, Mi? Bukannya dari awal semuanya sudah jelas? Azzam juga nggak punya alasan buat menolak perjodohan ini, kan?"
"Kamu keberatan, ya?" ujar Umi lembut. Senyum tipis masih menghiasi wajahnya, meski Azzam dapat menangkap gurat kekecewaan yang samar di sana. "Nanti Umi coba bilang Buya deh kalo gitu. Maaf ya, Mas, ternyata permintaan kami memberatkan kamu"
Azzam langsung panik dan langsung meraih tangan Umi sebelum wanita itu beranjak dari duduknya "Nggak, Umi. Azzam sama sekali nggak keberatan kok, beneran. Azzam nggak apa-apa, Azzam akan belajar membuka hati, dan Azzam mau menikah dengan Meera."
"Serius, Mas?"
"Iya, Umi. Azzam mau menikah dengan Meera." Ucapnya mantap.
Umi Hanum langsung merengkuh Azzam ke dalam pelukan. Berkali-kali ia mengucapkan terima kasih dengan suara bergetar. Haru yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh bersama air mata yang mengalir di pipinya.
"Makasih ya, Mas." Senyumnya tak pernah lepas meski matanya berkaca-kaca. "Umi mau kasih tahu Buya sama keluarga Meera dulu. Mereka pasti senang banget dengar kabar ini."
Umi mengusap sekali lagi sudut matanya sebelum bergegas keluar dari ruang keluarga. Langkahnya begitu ringan, seolah beban yang sejak beberapa waktu terakhir memenuhi pikirannya akhirnya terangkat.
Begitu sosok Umi menghilang di balik pintu, keheningan kembali memenuhi ruangan.
Azzam tetap duduk di tempatnya. Pandangannya lurus ke depan, tetapi pikirannya entah sedang berada di mana.