⚠️ FOLLOW SEBELUM DIBACA ⚠️
________
Azzam pernah mengira kalau semua cinta yang ia punya telah habis pada orang di masa lalunya. Mengubur kisah itu sedalam mungkin membuatnya lupa bagaimana rasanya membuka hati. Ia pikir, luka yang dipendam akan se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Astaghfirullah!"
Teriakan itu menggema hingga ke pelataran masjid.
Azzam yang baru saja melangkah keluar sontak menoleh. Melihat beberapa orang berlarian ke arah taman, tanpa berpikir panjang ia ikut berlari. Sesampainya disana, ia mendapati Ustadzah Aisha berdiri dengan wajah panik di tepi air mancur.
"Ada apa, Ustadzah?"
"Ustadz, ada yang jatuh ke dalam air mancur."
Azzam mengernyit. "Siapa yang jatuh?"
Wajah Aisha semakin pucat. "Ning Meera."
"Apa?!!"
Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Azzam menerobos kerumunan.
"Uhuk... uhuk..."
Suara batuk itu membuat dada Azzam terasa diremas. Di tengah kolam air mancur, Meera tampak berusaha bangkit sambil terbatuk-batuk, pakaiannya basah kuyup dan rambut yang tertutup hijab menempel karena air.
Tanpa berpikir panjang, Azzam melompat ke dalam kolam air mancur itu.
"Cepat! Pegang tangan saya!"
Meera yang masih terbatuk-batuk mengangkat wajahnya perlahan. Pandangannya buram akibat air yang masuk ke mata. Begitu melihat Azzam, jemarinya gemetar meraih tangan lelaki itu.
Azzam segera mengangkat tubuh Meera keluar dari kolam, lalu membawanya ke pinggir. "Astaghfirullah... Meera, gimana bisa jatuh?"
"Uhuk... uhuk..."
Meera terus batuk, dadanya naik turun berusaha mengatur napas. Tubuhnya menggigil hebat, entah karena dinginnya air atau rasa syok yang masih menyelimuti.
Azzam segera melepaskan jas yang dikenakannya, lalu menyampirkannya ke tubuh Meera untuk mengurangi rasa dingin yang mulai membuat perempuan itu menggigil. Tanpa banyak bicara, ia kembali mengangkat Meera dalam gendongannya dan membawanya masuk ke ndalem. Setibanya di sana, Azzam mendudukkan Meera perlahan di atas sebuah kursi.
Setelah memastikan Meera duduk dengan nyaman, Azzam berjongkok di hadapannya. Dengan hati-hati ia melepaskan sepasang flat shoes yang masih basah, kemudian menarik perlahan kaus kaki yang melekat di kaki perempuan itu.
"Mas..."
Azzam menoleh.
"Tadi... ada yang dorong aku."
Ucapan itu membuat gerakan Azzam seketika terhenti.
Sorot matanya berubah tajam. "Didorong?"
Meera mengangguk pelan. Wajahnya masih pucat. "Aku sempat dengar ada yang manggil, 'Ning Meera.' ... belum sempat lihat siapa orangnya... tiba-tiba ada yang mendorongku dari belakang."