⚠️ FOLLOW SEBELUM DIBACA ⚠️
________
Azzam pernah mengira kalau semua cinta yang ia punya telah habis pada orang di masa lalunya. Mengubur kisah itu sedalam mungkin membuatnya lupa bagaimana rasanya membuka hati. Ia pikir, luka yang dipendam akan se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Mas, kamu serius mau pakai yang itu aja?"
Azzam masih ingat pertanyaan yang datang dari Meera beberapa minggu lalu itu. Dan Azzam masih ingat bagaimana mata bulat milik perempuan itu memandangnya dengan amat serius, meminta lelaki itu untuk memberikan jawaban pasti padahal Azzam sudah menjawab pertanyaan itu sebanyak tiga kali. Tak ingin membuat perempuan itu kecewa, Azzam mengangguk sekali lagi untuk meyakinkannya bahwa ia sama sekali tidak keberatan untuk menggunakan pakaian yang Meera pilihkan. Ameera tersenyum lebar setelah mendapat anggukan itu, membuat Azzam sadar kalau membuat perempuannya senang ternyata sangat mudah. Ameera itu benar-benar sederhana, dan hal itu membuat Azzam semakin dibuat jatuh cinta pada sosoknya.
Tanpa disadari, kejadian itu sudah lewat dua minggu yang lalu. Waktu terasa begitu cepat berlalu ketika Azzam menghabiskannya bersama Meera. Perempuan itu berhasil mencuri hati saya dan membuat saya lupa dulu saya juga punya perempuan yang sama dicintainya seperti ia sekarang.
"Umi dengar kamu hari ini mengajarnya cuma sebentar, kenapa?"
Suara lembut milik Umi terdengar melalui speaker ponsel yang sengaja Azzam setel dalam mode loud. Sembari fokus pada kemudi di genggamannya, Azzam sesekali melirik layar ponsel yang menampilkan nama umi sebagai lawan bicaranya di telepon
"Iya, umi pasti sudah dengar dari ustadz khalid, kan? Aku juga udah minta dia buat rombak jadwal hari ini dan pindahin beberapa yang masih bisa ditunda besok. Aku mau pulang cepat karena ada yang lebih penting di rumah soalnya"
"Apa memangnya?"
"Meera sakit, Mi."
"Hah? Kok bisa sakit, Mas? Kenapa? Gara-gara apa? Pasti kamu lalai nih jagain istri kamu kan? Kenapa nggak langsung bilang Umi?" suara umi terdengar menggebu-gebu
"Nanya satu-satu, Umi." Azzam terkekeh. Lelaki itu melanjutkan "Iya, siapapun bisa sakit bukan hanya Meera doang, dia dari kemaren juga udah keliatan lemes, tapi badannya gak sepanas hari ini, kayaknya kecapean deh"
Umi hanya menghela napas pelan, dan tak lagi menyalahkan Azzam. Ketika tahu kalau Azzam berinisiatif pulang untuk mengecek keadaan Meera di rumah, umi malah terlalu semangat hingga meminta Azzam untuk mengambil cuti sampai dua hari. Azzam menolak, cuti selama dua hari rasanya terlalu berlebihan dan Meera juga tidak kesetuju dengan keputusan itu
Azzam sampai nekat melajukan mobil dengan kecepatan tinggi karena khawatir Meera jatuh pingsan. Beruntungnya saat Azzam sampai di rumah, perempuan itu masih berbaring di ranjang
"Meera, kamu nggak apa-apa?" tanya Azzam langsung ketika lelaki itu masuk ke kamar
"Kamu mau sesuatu?" Tanya Azzam dengan nada khawatir.
Tangan Azzam telulur untuk meraba permukaan kulit dahi Meera yang ternyata memang terasa panas. Kulit wajah perempuan itu seperti terbakar, bibir cantik Meera terlihat pucat dan hal itu membuat Azzam semakin dilanda khawatir.