Keesokan harinya.
Sinar mentari terlihat dari ujung timur secara malu - malu diikuti oleh suara kicauan dari para burung yang sudah siap keluar dari sarang mereka masing - masing.
Terlihat Junhui saat ini membuka matanya secara perlahan, menampakkan bola mata sekelam malam yang mengerjap - ngerjapkan untuk menyesuaikan pantulan sinar cahaya matahari yang mengintip malu - malu lewat celah korden jendela kamar yang tertutup.
Junhui bangun dan memilih untuk menyandarkan tubuhnya di bantal yang ia tumpuk sebagai sandaran dirinya. Melirik ke arah Minghao yang tertidur pulas dengan kepalanya yang hanya terlihat juga kedua tangan yang mengepal. Bak seorang bayi yang tertidur damai.
Lima menit berlalu, dan kini Junhui bangkit dan berjalan santai ke arah kamar mandi tanpa mengenakan satupun pakaiannya. Tentunya dirinya sudah mengambil handuk yang tersampir di gantungan didekat kursi samping meja nakas.
Kemudian terdengar pintu kamar mandi yang tertutup disusul suara gemericik air menandakan Junhui sedang sibuk dengan ritual mandinya di pagi hari.
Di tempat dan waktu yang sama ada Minghao yang menggeliatkan tubuhnya diikuti dengan manik bundarnya yang mengerjapkan secara perlahan menyesuaikan cahaya yang menyapa.
sret.
" AKH! "
Minghao tak bisa menggerakkan tubuh bagian bawahnya. Seketika rasa nyeri langsung saja menyerang tubuhnya secara bertubi - tubi. Membuat air mata mengalir di maniknya. Sakit sekali rasanya.
Ceklek.
Suara pintu kamar mandi terbuka, disana terlihat Jay yang menatap datar ke arah Minghao yang masih terduduk dilantai dengan tubuh gemetar karena menangis.
Minghao terlalu fokus dengan rasa sakit yang dirasakan oleh tubuhnya, si manis tak menyadari sang suami yang saat ini nampak berjalan ke arah si manis.
Sret.
" Akh! " pekik Minghao terkejut.
Junhui memegang bahu mulus Minghao yang kini berhiaskan banyak tanda merah keunguan. Bak sebuah kanvas yang diwarnai.
Menatap ke arah Junhui ia menggeram dan menangis kencang yang jatuhnya seperti rengekan bayi yang meminta susu sang ibu.
" HUWEEEE KARENA KAU AKU TAK BISA BEGINI SIALAN! " Rengek Minghao.
Junhui menatap datar.
Cup.
" SI—MPHHH! "
Junhui melumat bibir manis milik istrinya yang sudah membengkak pun nampaknya semakin membengkak.
" Hiks.. "
Lumatan itu terputus dan disana terlihat benang saliva dari mulut keduanya. Menandakan berapa lama Junhui dan Minghao berciuman.
Plak!
" Kau gila! Brengsek! Yang kau perkosa anak dibawah umur sialan! " teriak Minghao kasar.
Grep.
Minghao yang baru saja akan melayangkan pukulan emosinya pada Junhui itu dengan segera ditahan oleh Junhui dengan sekali gerakan.
Keduanya tangan Minghao kini diikat dengan dasi yang ntah darimana Junhui dapatkan.
" Lepaskan Sialan! "
PLAK!
PLAK!
PLAK!
Suara dari tiga tamparan yang melayang itu membuat tubuh Minghao jatuh meringkuk dua kedua pipi yang membengkak bahkan dari kedua sudut bibirnya kini mengucurkan darah segar. Minghao mendesis dan menangis namun bukan tangisan kesakitan melainkan emosi dan amarah yang membara.
Tap.
Tap.
Dua langkah berjalan, Junhui kini menjongkokkan dirinya dan menatap datar ke arah Minghao yang menangis.
Sret!
" AKH! "
Minghao yang tubuhnya ditarik Jun dengan segera menggunakan kakinya untuk menendang perut Junhui yang membuat Junhui mundur dua langkah.
BRUAK!
Dengan kaki gemetar Minghao berusaha untuk bangkit. Karena merasa tak ada gunanya kabur sebelum mengalahkan laki - laki sialan ini.
DUAGH!
Lagi dan lagi tendangan Junhui dapatkan dari Minghao yang susah payah berdiri sementara tubuh bagian bawahnya nyeri dan kini mati rasa.
" SIALAN! " Geram Junhui,
Jun dengan segera berjalan dan menarik tubuh Minghao kemudian melemparkan tubuh istrinya ke kasur.
" AKH! "
BUGH
BUGH
BUGH
BUGH
DUAGH!
" Uhuk! hhh.. Hiks.. "
Nafas Junhui memburu, manik tajamnya berkilat marah menatap Minghao yang berusaha untuk tetap mempertahakan kesadarannya. Wajah Minghao yang terisi dua buah lebam dengan tangannya yang penuh dengan bekas pukulan berwarna keunguan itu karena menahan pukulan Jun agar tidak mengenai wajahnya yang penuh dengan darah.
Rambut Minghao ditarik, Junhui memegang tengkuk Minghao dan melumatnya dengan kasar.
Tautan saliva terlepas, dengan rasa darah Minghao yang malah Junhui hisap membuat Minghao melenguh antara menahan sakit dan amarah yang memupuk selama keduanya berciuman.
Menatap tajam Junhui Minghao hendak melayangkan tendangan, namun Junhui dengan segera menggendong tubuh istrinya bak karung beras masuk kedalam kamar mandi dikamar mereka.
Pintu tertutup diikuti dengan suara desahan yang saling bersahut - sahutan.
~
Minghao tertidur setelah Junhui melakukan sex sembari mandi. Bahkan Minghao sempat pingsan. Dan setelah kurang lebih dua jam kegiatan sex itu pun selesai.
Junhui menatap dalam wajah cantik dengan tubuh molek istrinya yang terbalut kemeja putih tipis yang kini telah Junhui selimuti.
" Sayang. Kenapa sayangku sangat susah untuk diberitahu secara lembut? "
" Jadilah anak baik sayang. "
Junhui melumat bibir bengkak sang istri dan kemudian bangkit untuk keluar meninggalkan sang istri yang kini tertidur pulas karena kelelahan.
~
Junhui menatap hidangan sarapan yang ada dihadapannya, Sooyoung menatap sang putera yang sibuk makan sementara dirinya hanya menemani sang putera.
" Kenapa kau bisa telat raja? " tanya sang ibu.
" Minghao sejak kemarin malam demam, hingga pagi ini dengan suhu badan yang naik drastis jadi saya harus menemaninya dahulu. Maafkan keterlambatan saya jika tadi membuat Ayahanda dan Ibunda menanti lama saat jam sarapan. " jelas Jun.
Sooyoung kaget, ia menutup mulutnya dengan tangan yang memakai sarung tangan putih.
Menatap khawatir sang putera,
" Apakah Menantu baik - baik saja? Apa boleh Ibu melihatnya? " tanya Sooyoung khawatir.
" Menantu saat ini tengah tertidur Ibunda, dia meminta untuk sejam lagi dibawakan makanan dan obat. " ucap Jun.
Sooyoung menganggukkan kepalanya paham.
" Semoga Menantu baik - baik saja. " doanya.
Junhui mengamini,
Namun Sooyoung tak mengetahui jika terlihat senyuman misterius dan menyeramkan yang berasal dari Junhui.
tbc
votenya cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
JORDAN CLAN [JUNHAO]
FanfictionKetika Wilayah Teritorial Jordan terkena musibah kekeringan berkepanjangan, membuat pekerjaan para penduduk terhambat. Hingga kemudian Emperor Heecul mendapatkan mimpi jika sang Raja, atau anak pertamanya yang menjadi pewaris tahta harus menikah...
![JORDAN CLAN [JUNHAO]](https://img.wattpad.com/cover/360594460-64-k689599.jpg)