Dunia sudah tidak seperti dulu lagi. Semua sudah kacau balau, manusia menghancurkan alam semesta dengan ego yang besar dan hausnya dengan kekuatan yang besar. Akankah bumi akan terus menjadi seperti ini? Atau akan ada keajaiban yang dapat mengubah segalanya?.
.
.
.
"Aku lelah sekali" Jongho duduk begitu saja di rerumputan. Sudah satu hari perjalanan namun masih setengah jalan, siapa yang tidak merasa lelah? Lagipula mereka berjalan tanpa menggunakan kendaraan sama sekali, hanya berbekalkan beberapa makanan saja.
"Sebaiknya kita istirahat sebentar" Ucap Seonghwa dan mendapatkan anggukan dari yang lainya.
Hening? Ya, Semua sudah terlelap karena kelelahan. Kecuali Mingi dan Juga Seonghwa yang sama sekali tidak bisa tidur. Mereka berdua sama-sama canggung untuk bicara satu sama lain karena sudah lama tak bertemu.
"Ah... Hyung" Mingi memberanikan diri untuk berbicara pada Seonghwa. Dua hari mereka tidak bertemu dan mengapa bisa sampai secanggung ini? Itulah yang membuat kedua oknum tersebut bingung.
"Oh iya ada apa, Gi?" Ntah mengapa suasana sangatlah canggung. Sampai-sampai mereka berdua yang tengah bicara tidak menatap satu sama lainnya.
"Bagaimana cara kau sampai di sini, Hyung? Bukan kah kau seharusnya ada di Wonderland?" Tanya Mingi, Seonghwa nampak berfikir sejenak. Kini mereka sudah mulai berani untuk menatap satu sama lain walaupun masih agak canggung.
"Bukanya seharusnya begitu? Kami kan akan menyusul kalian ke Medan perang" Ucap Seonghwa dengan percaya diri. Tidak ada salahnya dia bicara seperti itu karena memanglah benar niatnya untuk pergi ke Medan perang setelah Yeosang pulih.
"Itu yang membuatku bertanya-tanya, bagaimana bisa kau sampai di sini bukan di Medan perang" Seonghwa hanya bisa menghela nafas panjang. Pertanyaan Mingi yang terlalu banyak sangatlah menyulitkan untuk di jelaskan.
"Jadi begini" Seonghwa mulai bicara tentang kejadian yang terjadi padanya dan juga yang lainya.
Flashback
Dalam keadaan yang sangat mengerikan ini, Seonghwa dan yang lainya hanya bisa pasrah dengan takdir. Sudah tidak ada lagi kata-kata kebagian dan semangat dalam diri mereka. Hanya kesepian dan sibuk pada pemikiran masing-masing.
"Aku takut jika harus berlama-lama di sini, aku tidak ingin menjadi budak di sini...." Dengan pasrah dan penuh kesedihan San berucap. Seonghwa hanya bisa diam karena dia juga sangat frustasi.
"Aku juga tidak tau, sepertinya kita akan di sini dan menjadi budak di sini selamanya" Wooyoung mulai meneteskan air matanya perlahan.
"Jangan menyerah, aku yakin kita bisa menjalani ini. Dan aku yakin kita akan keluar dari tempat ini" Walaupun mustahil, Seonghwa tetap harus mendukung teman-temannya yang lebih muda darinya.
"Kau yakin, Hyung? Aku harap juga begitu. Aku sudah putus asa sekarang" Yeosang meratapi, Seonghwa semakin kasihan pada teman-temannya. Dia ingin sekali menyelamatkan dirinya dan juga teman-temannya.
Seiring berjalannya waktu, Seonghwa selalu terdiam tanpa ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Membuat semua khawatir dan hendak bertanya pada Seonghwa. Tapi mereka mengurungkan niat mereka karena takut mengganggu Seonghwa. Dengan perilaku Seonghwa uang yang seperti itu membuat yang lain menjadi merasa bersalah karena mungkin Seorang itu marah karena mereka yang selalu mengeluh dan berputus asa. Dengan keyakinan yang penuh, Yeosang berusaha untuk bicara pada Seonghwa, walaupun sedikit ragu dengan hal itu.
"H.. Hyung kau tidak apa-apa kan?" Yeosang menatap raut wajah Seonghwa dengan khawatir.
"Aku? Aku baik-baik saja, tak ada yang perlu kalian khawatirkan. Aku hanya sedang bicara dengan diriku sendiri" Seonghwa tersenyum, nampak jelas dari raut wajahnya bahwa Seonghwa tidak baik-baik saja.
"Aku tidak percaya jika kau baik-baik saja, Hyung" Dengan nada ragu San berucap. Sudah jelas nampak raut wajah Seonghwa yang takut dan juga khawatir dengan kondisi dan situasi. Dengan penuh rasa bersalah.
"Kalian ini kenapa? Aku tidak apa-apa, hanya sedikit khawatir saja pada kondisi kalian" Di situasi seperti ini masih sempat-sempatnya Seonghwa memperdulikan kondisi teman-temannya. Sungguh jiwa yang sangat tulus dan baik hati.
"Pikirkan lah kondisimu sendiri, Hyung. Kami tidak apa-apa" Yunho angkat bicara. Dia sudah muak dengan sikap Seonghwa yang selalu saja peduli dengan orang lain sampai tidak peduli dengan kondisi sendiri.
"Sudah selesai kalian bicara? Aku juga ingin berbicara" Seonghwa dan yang lain terkejut karena kedatangan dua orang ya tiba-tiba. Mereka berdua sudah ada di samping Seonghwa dan tak tahu kapan mereka sampai ke sini.
"K... kalian siapa? Sejak kapan kalian di sini?" Wooyoung memberikan diri untuk bicara, dia hanya diam dari tadi bahkan tak menyadari kenapa bisa ada dua orang di sini. Padahal sajak awal dia memperhatikan kondisi sekitarnya.
"Perkenalkan aku Eric dan dia Haknyeon. Kami ke sini untuk menyelamatkan kalian, kalian tidak percaya?" Ucapan dari salah satu oknum yang bernama Eric Langsung mendapatkan gelengan kepala yang bersamaan oleh semua orang kecuali Haknyeon.
"Baiklah kami tunjukkan" Ucap Haknyeon dengan sarkas. Haknyeon menjentikkan jarinya dan seketika tempat yang awalnya adalah penjara kini berubah menjadi sebuah ruangan yang lebar dan luas, mereka sangat terkejut ketika melihat ke sisi ruangan yang terdapat sebuah ranjang. Di atas ranjang tersebut terlihat Hongjoong yang sedang tertidur dengan perban yang menutupi perutnya. Sudah pasti dia terluka.
"Di mana ini?" Seonghwa mengerutkan dahinya. Belum sempat mencerna ucapan itu dia di kagetkan dengan kehadiran Beberapa orang di sana.
"Selamat datang di The Boyz house"
Flashback off
Mingi menyimak begitu detail cerita Seonghwa sampai tak sadar bahwa hari sudah menjelang malam. Seonghwa yang menyadari itu langsung menyuruh Mingi untuk tidur karena hari juga sudah malam dan mereka harus pergi besok ke DREAMCATCHER World. Yang ada di pikiran Seonghwa sekarang adalah, kenapa The Boyz tidak mengantarkan mereka? Dan mereka juga di larang menggunakan kekuatan mereka. Ini sungguh konyol, tapi mungkin untuk keselamatan mereka.
Setelah semua tidur, datanglah seorang pemuda yang di temani oleh Wanita. Siapa dia? Dia adalah Jihoon yang di temani Gahyeon. Dengan penuh kesedihan pemuda tersebut menatap Seonghwa, rasa rindu yang amat luar biasa terukir di hatinya. Jadi benar apa Gahyeon, Seonghwa masih Hidup dan dia baik-baik saja. Jika Seonghwa masih Hidup dia yakin jika kakak tertuanya juga masih hidup. Dojoon dan Seonghwa adalah kakak yang paling dia sayangi selamanya.
"Kau benar soal itu, Gahyeon. Tapi apakah dia mengingatku?" Tanya Jihoon pada Gahyeon, oknum yang di tanya hanya diam saja. Bukan karena ragu, Gahyeon diam sambil tersenyum menatap kearah Jihoon.
TBC.....
Kayaknya book ini bakalan panjang deh 🙂🤧 selamat membaca:V dan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan ❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
Wonderland ATEEZ [ End ]
FantasyDunia menjadi suram. Tidak ada lagi kata kebahagiaan di penjuru dunia, hanya ada kesengsaraan yang merajalela. Sebuah Jam pasir yang mengendalikan dunia telah lenyap di telan kegelapan, delapan pemuda dengan jiwa pahlawan yang menyelamatkan dunia da...
![Wonderland ATEEZ [ End ]](https://img.wattpad.com/cover/357922685-64-k237991.jpg)