Situasi rumah tangga Virdha dan Anggar semakin memanas dan tidak kunjung mereda. Virdha mulai sering mengeluhkan kakinya yang sakit, kesulitan tidur, dan dirinya yang mudah lelah. Tapi setiap kali Anggar pulang dari pekerjaannya, ia harus selalu dilayani. Anggar merasa dirinya sudah bersusah payah untuk menghidupi keluarganya ini. Virdha dan Arunika harusnya berterima kasih karena ia sudah sering pulang malam dan berangkat subuh hanya untuk mendapatkan uang tambahan untuk membiayai vitamin dan makanan serta susu ibu hamil sembari menyicil utang kepada kantor.
Namun Virdha terlalu lelah dengan kehamilannya yang sudah sangat tua, yang hampir menuju kelahiran. Puncak dari pertahanan terakhir dari keluarganya adalah saat Virdha sangat kelelahan setelah muntah-muntah berat. Saat itu Anggar pulang dalam keadaan yang sangat lelah di siang hari lantaran mendapatkan sif malam hingga pertengahan hari. Ia pulang dalam keadaan mabuk berat sambil mengumpat-ngumpat.
"Mana makanan? Virdha! Goblok! Mana makananku?"
Dalam letihnya, Virdha tidak dapat menjawab. Ia hanya bisa bergumam. "Belum siap, mas." Arunika saat itu sedang memijat-mijat punggung ibunya. Ia memejamkan matanya dengan keras untuk berusaha tidak mendengarkan bentakan Anggar.
Tiba-tiba botol kaca alkohol dilempar Anggar ke dinding. Virdha dan Arunika langsung menegang. Keduanya terkejut. Hal ini terjadi lagi. Tapi Anggar tidak diam. Ia menendang meja makan hingga terbalik. Semua piring dan gelas pecah. Virdha dan Arunika terperanjat. Mereka mundur ke sudut ruangan. Arunika menangis kencang. Virdha terisak sambil minta maaf. Tidak ada yang mempan. Anggar memporak-porandakan ruangan. Barang-barang dirusak. Pintu ditonjok. Ia melangkah cepat ke arah Arunika dan Virdha sambil membawa pecahan beling. Ia mengacungkan kaca tajam itu ke langit-langit. Genggamannya terlalu kuat. Telapak tangannya berdarah. Arunika menjerit. Virdha memeluknya erat.
Mereka diam beberapa saat. Isakan Virdha berhenti. Meski air mata terus mengalir, matanya menatap kencang ke arah Anggar. Dengan badan yang terhuyung dan tangan yang bergetar, Anggar menjatuhkan pecahan botol. Ia kemudian menunjuk ke arah perut besar Virdha.
"Kalau bukan karena anak sialan itu, aku nggak akan mendapat surat peringatan gara-gara telat mengantar logistik. Aku hampir kena pecat." Ia diam sejenak. Virdha tidak membalas. "Sekarang pilih. Gugurkan, atau aku pergi."
Virdha yang tadinya melotot kini wajahnya melemah. Ia memelas kepada Anggar.
"Jangan, mas. Kami nggak punya siapa-siapa lagi. "
"Gugurkan."
"Mas..." Virdha menggeleng perlahan. Ia berlutut di hadapan Anggar.
"Gugurkan." Raut wajah Anggar tidak berubah. Nada bicaranya tetap datar.
"Mas, aku mohon–"
"Gugurkan!" Bentakan Anggar membuat Virdha terperanjak. "Gugurkan. Atau aku pergi." Anggar melotot, napasnya terengah-engah sembari menahan badannya yang terhuyung untuk berusaha tetap tegak.
"Nggak bisa, mas. Nyawaku jadi taruhan dan Arunika akan selalu butuh ibunya."
Raut wajah Anggar melemas, ia mengangguk paham. Virdha bernapas lega, tapi kemudian yang terjadi Anggar membalikkan badannya, kemudian berjalan ke arah kamar dan membereskan baju-bajunya. Melihat itu, Virdha menarik-narik kaus yang dikenakan Anggar, memohon untuk berhenti. Ia juga bergantung di kaki Anggar sehingga membuatnya harus bergerak sambil terseret-seret. Tiba-tiba tamparan melayang ke muka Virdha.
Virdha terjatuh dengan punggungnya yang menopang. Anggar mendekat. Ia meraih kerah baju istrinya dan menariknya kencang. Virdha terangkat sedikit dari lantai. Anggar memberikan tamparan keras. Berkali-kali. Virdha berteriak minta ampun. Arunika menjerit melihat ibunya disiksa. Ia menarik-narik lengan ayah tirinya. Anggar mendorong Arunika hingga terjatuh. Ia menampar lagi dan lagi. Darah lain menempel di telapak tangan Anggar. Pipi Virdha sudah lecet. Ia berbaring lemas, tak berdaya. Anggar beralih membereskan bajunya. Arunika menggoyang-goyangkan badan Virdha sambil menangis kencang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garvi Hinggap di Bulan
Romance"Jadi laki-laki harus kuat, Vi. Nggak apa-apa nangis, tapi kamu harus tahan, ya. Kamu juga harus tahu, kalau kamu bukan sebuah kesalahan." Suara Arunika bergetar. Itulah pesan almarhumah Arunika 20 tahun lalu kepada Garvi kecil. Kini saat ia sudah d...
