Berusaha

100 12 2
                                    

Garvi merasa tidak yakin dengan usul yang Toni akan bermanfaat baginya. Meskipun dari sebelumnya Toni sudah menyampaikan berbagai macam hal yang mungkin ada benarnya bagi Garvi, tapi yang satu ini ia tidak tahu apakah mau melakukannya atau tidak.

"Main Tinder."

Sudah saya duga. Garvi tidak mengerti apa hubungannya masa lalunya dengan mencari pacar baru. Ia mengira Toni akan sewaras Adelya yang menyuruhnya untuk pergi ke psikolog atau psikiater. Atau setidaknya bisa jadi ia akan menyuruh Garvi untuk bermeditasi atau yoga. Tetapi jawabannya di luar dugaan. Tidak ada yang tahu maksudnya kecuali Toni sendiri.

"Apa hubungannya main Tinder sama move on dari masa lalu saya dan dari Adel?"

"Lah, kan lo sendiri yang mau ngurangi aktivitas nyiksa diri itu. Itu sih terserah lo mau ngapain. Gua nggak tahu harus gimana ya gua bukan ahli. Tapi kalau lo mau move on dari Adel, ya satu-satunya cara itu cari cewek baru."

"Kan ada cara lain selain itu."

"Palingan lo nanti balik lagi ke ngerusak diri lo sendiri."

"Saya bisa ngerjain novel." Garvi berdalih.

"Ngerjain novel buat lo sih gampang. Apa jangan-jangan lo mau nulis tentang Adel? Halah paling jadi gagal move on juga."

Garvi tidak bisa menjawab.

"Nah kan bener kata gue. Lo mau bikin cerita tentang lo lagi kan, tapi kali ini ada hubungannya dengan Adel. Lo tuh pinter, Vi. Tapi kenapa mesti sekalian goblok juga sih? Baru aja lo diputusin sama Adel seminggu kemarin. Yang ada ide malah nulis tentang dia. Kan tujuan lo mau move on. Justru dengan nulis tentang Adel, lo jadi malah penasaran sama diri dia lebih dalam, kan?"

"Iya. Betul juga." Garvi berkata pelan.

"Nah, kan, orang goblok betulan kayak gue aja bisa mikir logis. Masa lo nggak."

"Jadi serius saya mesti main Tinder?"

"Seriusan. Coba aja dulu. Kali aja ada cewek lain yang bisa nerima lo apa adanya. Itu yang lo mau kan?"

"Betul, tapi..."

"Apa lagi?" Toni gemas dengan Garvi yang belum bisa menentukan keputusan.

"Saya belum pernah main Tinder. Cuma tahu kalau itu aplikasi buat cari jodoh aja."

"'Jodoh?'" Toni terbahak-bahak. "Kuno banget, lo. Itu aplikasi kencan, bukan buat cari jodoh."

"Lho? Kan saya mau carinya jodoh, bukan kencan doang."

"Dongo. Lo pikir lo bakal dapat jodoh dari langit begitu aja? Tabrakan di jalan terus tiba-tiba suka dan nikah? Ini bukan novel khayalan lo, bego. Ini dunia nyata. Lagi mana ada orang yang tanpa kencan dulu mau diajak nikah?" Toni mencerocos.

"Ada kok. Orang yang taaruf. Mereka nikah tanpa kencan. Saya juga waktu bertemu dengan Adel itu dari kenalan orang lain, bukan karena kencan sana sini."

"Ya itu beda lagi. Pertama, apa yang lo dapat sama Adel nggak akan selalu bisa berhasil sama orang lain. Kedua, taaruf bisa aja dilakukan tapi nggak mungkin berhasil di lo."

Garvi membangunkan tubuhnya dan duduk di kasur. "Kenapa begitu?"

"Orang yang taaruf itu sama-sama nggak punya masalah sama pasangan masa lalunya yang bikin susah move on. Keduanya udah sama-sama terbebas dari ikatan masa lalu dan ingin melanjutkan hidup, gitu, kan? Emangnya lo bisa taaruf sama orang lain sedangkan lo sendiri masih gagal move on dari Adel?"

"Terus saya gimana? Kan saya maunya cari orang yang bisa nerima saya apa adanya, ya berarti jodoh, kan?"

"Ya mulainya dari kencan-kencan kecil dulu. Makanya lu main Tinder."

Garvi Hinggap di BulanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang