Entah sejak kapan jika ada kalimat, ada yang harus kamu ketahui, Garvi sudah paham di balik kalimat itu adalah sebuah rahasia yang buruk atau bukan merupakan kabar gembira. Terlebih kali ini Adelya sudah meminta untuk putus. Banyak skenario berkeliaran di kepala Garvi.
"Aku selingkuh, Vi."
Seketika kalimat itu mengudara, saat itu pula dunia Garvi remuk. Dalam benaknya tidak ada orang lain yang mampu memahami dirinya selain Adelya. Banyak hal yang kekasihnya itu korbankan untuk dirinya. Ia bahkan percaya suatu saat nanti mereka akan terus bersama hingga menikah. Hal ini menjadi sesuatu yang sangat menyakitinya karena Garvi dan Adelya sudah berjanji kelingking untuk tetap bersama apa pun yang terjadi.
Garvi memejamkan matanya. "Sejak kapan?"
"Untuk apa kamu tahu itu?"
"Sejak kapan?" Nada Garvi tidak berubah.
"Vi, kamu nggak perlu tahu lebih lanjut. Kamu hanya perlu tahu alasan kenapa kita sudah nggak bisa bersama lagi."
"Sejak kapan?"
Adelya menghela napas. "Masuk ke tahun kelima kita pacaran."
"Apa saja yang kalian sudah lakukan?"
"Vi.. Please."
"Apa saja, yang kalian sudah lakukan?"
Adelya menggeleng.
"Kamu tahu pasti saya akan melakukan apa pun untuk mempertahankan hubungan ini, Del."
"Nggak ada buktinya. Kamu hanya mau melakukan apa pun setelah aku minta putus, iya, kan?"
"Kenapa jadi saya yang disalahkan?"
"Kenapa kamu nggak mau mengakui kalau kamu begitu egois sampai kamu nggak tahu arti egois itu sendiri? Empat tahun kita bersama dan harus aku yang selalu ngerti kondisi kamu, keadaan hati kamu, situasi pikiran kamu. Pernah nggak kamu terpikir untuk berada di posisi aku sekali aja? Nggak kan? Pernah nggak kamu terpikir bahwa aku kesepian? Nggak kan? Pernah nggak kamu terpikir aku butuh seseorang yang bisa mendekapku, memelukku, menyentuhku? Nggak kan?"
Pertanyaan terakhir bergantung di sana. Adelya salah tingkah. Seakan-akan mengucapkan dua pertanyaan di akhir itu adalah sesuatu yang seharusnya tidak disebutkan. Garvi memejamkan matanya. Ia ingin apa yang ia bayangkan tidak benar.
"Kamu sudah berhubungan seks dengan selingkuhanmu?"
Air mata Adelya mengalir deras. Ia tidak mengucapkan satu patah kata pun. Matanya tidak sanggup menatap Garvi. Ia mencari sesuatu yang bisa mengalihkan perhatiannya dari wajah lelaki yang sudah berbuat janji anak kecil dengan dirinya pada saat mereka berpacaran di tahun kedua.
"Kita sudah janji kelingking, Del."
"Apalah arti janji itu, Vi. Banyak orang melakukannya di masa kanak-kanak dan mereka melanggarnya, tapi kiamat saja nggak terjadi."
"Saya dan kak Arunika melakukannya. Bahkan sampai dia meninggal, janji itu masih kami pegang teguh."
"Kakakmu sudah nggak ada, Vi!" Adelya setengah membentak. Sudah hampir setengah jam perdebatan ini berlalu tapi Garvi tidak menemukan titik terang yang Adelya inginkan. Di sisi lain, Garvi bertanya-tanya siapakah perempuan yang ada di hadapannya ini, dan kenapa tiba-tiba setelah lima tahun bersama justru orang ini adalah orang yang paling berani untuk mengkhianati dirinya.
"Saya kira hubungan kita spesial."
"It was, Vi. Until I realized it doesn't."
Tanpa disadari, Garvi berlinangan air mata. Adelya tidak berhenti menangis sejak mereka bertengkar. Keduanya diam dalam waktu yang bersamaan. Setelah beberapa waktu yang lama tanpa bicara, Adelya bangkit dan pergi tanpa permisi.

KAMU SEDANG MEMBACA
Garvi Hinggap di Bulan
Romance"Jadi laki-laki harus kuat, Vi. Nggak apa-apa nangis, tapi kamu harus tahan, ya. Kamu juga harus tahu, kalau kamu bukan sebuah kesalahan." Suara Arunika bergetar. Itulah pesan almarhumah Arunika 20 tahun lalu kepada Garvi kecil. Kini saat ia sudah d...