Garvi bingung sendiri. Apakah memang seharusnya seorang pelacur salat? Ia bukan tidak mengira kalau pelacur ini ternyata beragama Islam. Tapi ia tidak tahu ada orang yang mau salat sebelum melakukan zina.
Bodoh. Kamu siapa, Garvi? Tuhan? Memangnya nggak boleh orang beribadah?
Garvi menggeleng keras. Tapi pertanyaan-pertanyaan di kepalanya tidak kunjung berhenti. Justru makin banyak dan makin intens. Ada banyak hal yang ingin ia dapatkan dari Bulan.
Di sisi lain, Bulan melihat Garvi yang terus mengawang sambil melihat ke langit-langit. Ia tersenyum geli. Tapi berusaha untuk tidak menunjukkannya dan langsung mengenakan mukena lalu melanjutkan aktivitasnya.
Salat yang Garvi lakukan tidak lama dan juga tidak cepat. Sesuai pada waktu bacaannya, napasnya dan hapalan suratnya. Tetapi salat yang dilakukan Bulan terasa begitu lama sekaligus cepat. Garvi berulang kali mencuri pandang pada gerakan-gerakan perempuan itu. Tidak ada gerakan aneh. Ia sempat mengira kalau Bulan bisa jadi melakukan salat yang berbeda. Tetapi tidak juga ternyata. Justru hampir tidak ada bedanya dengan bagaimana Garvi salat. Gerakannya teratur, bibirnya bergerak membaca surat, dan lain sebagainya. Lagi-lagi ada banyak teka-teki yang bergumul di benak Garvi. Membuatnya ingin cepat-cepat ngobrol dengan Bulan tentang hal ini.
Tapi, begitu Bulan menyelesaikan salatnya, justru tidak ada kalimat yang keluar dari mulut Garvi. Berulang kali ia mencoba merangkai kalimat agar tidak membuat Bulan tersinggung. Jangan sampai tersinggung.. Sulit juga. Sedari tadi Garvi sudah mencoba mencari topik obrolan, tetapi pikirannya ditutupi oleh profesi pelacur yang sebenarnya tidak ingin ia ketahui. Bukan karena tidak tertarik. Garvi memang ingin tahu. Tetapi ada yang mengganjal di hatinya. Ia merasa sedang berjalan di atas pecahan gelas. Salah langkah sedikit saja, salah kalimat ia ucapkan, bisa jadi Bulan sakit hati dan tidak mau menemuinya lagi.
Tunggu dulu. Kenapa saya takut banget bikin Bulan nggak nyaman?
"Kamu penasaran, ya, kenapa ada pelacur kayak aku salat Isya?"
Mendengar itu Garvi yang sedang sibuk dengan lamunannya terperanjak tiba-tiba.
"Eh, ehm.. Nggak. Itu, maksudnya, saya. Hmm.." Garvi gelagapan. Bulan tepat sasaran tentang apa yang berputar-putar di kepala Garvi.
"Kamu kalau mau tanya apa pun itu, nggak apa-apa kok. Aku nggak bakalan tersinggung."
Tidak ada jawaban. Garvi berpikir keras. Saking kerasnya, ia menjadi sangat kaku dan malah tersenyum sambil tertawa tidak jelas. Mulutnya bergetar dan siap untuk meracau. Tapi beruntung akal sehatnya masih bisa mengendalikan. Sayangnya hal itu tidak bisa membuat Garvi jadi lebih menjaga diri. Ia merasa dirinya pasti terlihat sangat konyol.
Taik.
Bulan terkikik. "Serius, aku nggak bakalan marah kalau kamu mau tanya tentang aku." Masih tidak ada jawaban. "Oke begini, deh. Kalau aku tersinggung, aku bakalan skip jawabannya. Aku kasihan lihat kamu begitu banget, dan tenang aja. Ini sudah pernah terjadi. Kamu nggak perlu takut apa-apa."
"Sudah pernah terjadi? Maksudnya ada orang yang nggak mau seks sama pelacur kayak saya?"
Bulan terpingkal-pingkal. "Kalau itu cuma kamu seorang. Maksudku, ada orang yang kaku banget kayak kamu, mau ngobrol santai tapi dingin. Mungkin nggak pernah pacaran dalam hidupnya, jadi kikuk banget di hadapan perempuan. Kamu pun begitu daritadi. Tapi tenang aja. Banyak orang yang kayak aku sebutin barusan akhirnya bisa luwes ngobrol sama aku. Malah mereka bisa lancar ngobrol sama perempuan kencan normal mereka."
"Bener, nggak apa-apa saya nanya banyak hal?"
Bulan mengangguk sambil tersenyum. Anggukan itu pun tidak ada jeda.

KAMU SEDANG MEMBACA
Garvi Hinggap di Bulan
Romansa"Jadi laki-laki harus kuat, Vi. Nggak apa-apa nangis, tapi kamu harus tahan, ya. Kamu juga harus tahu, kalau kamu bukan sebuah kesalahan." Suara Arunika bergetar. Itulah pesan almarhumah Arunika 20 tahun lalu kepada Garvi kecil. Kini saat ia sudah d...