Romantis? Betul. Tapi jika itu adalah puisi tentang cinta secara umum. Puisi-puisi yang Garvi buat tentang Adelya. Bukan tentang apa yang para penyair bayangkan ketika tidak ada masa lalu yang menganggu mereka.
Perasaan dalam hatinya terbagi dua. Satu sisi ia sangat ingin menunjukkan kemampuannya mengolah kata dan perasaan menjadi satu dalam sebuah karya kepada Bulan. Baru kali pertama ini ia ingin mendapatkan pujian atas karyanya dari Bulan. Tetapi di sisi lain, ia takut puisi yang ia bawa bisa saja melukainya. Kenapa kamu begitu peduli sama perasaan Bulan, Vi?
Memangnya kenapa? Apakah salah?
Nggak ada yang salah. Tapi kenapa?
Nggak tahu. Pokoknya nggak mau bikin Bulan nggak nyaman. Dia sudah bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Bersabar dengan permintaan-permintaan saya. Kalau saya membuatnya nggak nyaman, dia nanti nggak mau bantu saya lagi untuk move on dari Adel.
Jadi dia cuma pelampiasan perasaan kamu?
Nggak. Nggak! Dia lebih dari itu.
Maksudnya?
Nggak tahu. Pokoknya Bulan lebih dari itu. Lebih baik dari sebuah tempat untuk melampiaskan sesuatu.
Oke pertanyaan saya, apa yang kamu harapkan dari Bulan di kencan berikutnya?
Dia suka sama puisi saya.
Itu aja?
Dia suka dan... terus ingin mengenang puisi saya. Saya mau tahu ekspresinya dia.. Apakah dia merenungkan saya.. Maksudnya, apakah dia merenungkan puisi saya.
Kamu cuma nggak mau mengakui apa yang sebenarnya kamu rasakan, Vi. Jangan pura-pura bodoh.
Beradu dengan kepala dan hatinya sendiri adalah sesuatu yang jarang terjadi. Malah, bisa jadi ini kali pertama. Tidak. Ini kali kedua. Garvi mengingat saat pertama kali ia memberanikan diri menerima ajakan Adelya sebagai lebih dari teman.
Mereka berdua memang sudah sering jalan berdua. Ada kalanya mereka melakukan hal-hal yang teman lawan jenis tidak lakukan. Misalnya berpegangan tangan di bioskop. Tapi Garvi merasa hal itu biasa saja. Toh karena film yang mereka tonton selalu horor. Adelya pasti ketakutan sehingga ia mendekap dan melingkarkan badannya sambil menyenderkan kepalanya ke pundak Garvi. Sesekali Adelya melindungi kepalanya ke baju atau jaket yang Garvi kenakan agar saat adegan seram muncul ia bisa lolos dari trauma yang mungkin akan menghatuinya hingga tidur. Adegan seram, pegangan tangan, apa yang salah?
Baru saat kali ke sekian mereka berdua pergi nonton film, Adelya menginginkan film cinta Hollywood. Entah apa namanya, tapi Garvi menyukai film itu. Saat sedang menikmati filmnya, lagi-lagi Adelya merangkul lengan Garvi. Ia tidak merasa ada yang aneh, sampai ia baru paham bahwa film yang mereka tonton bukanlah film horor. Sesekali Garvi merasakan lengannya diusap-usap. Ia juga merasakan jemarinya digenggam, tidak terlalu erat, tapi tidak juga terlalu lengang. Cukup dan menenangkan.
Di tengah-tengah film, Adelya menyampaikan pertanyaan yang mengejutkan Garvi.
"Garvi," Adelya berbisik sambil melihat Garvi.
"Hmmm?" Garvi tidak menatapnya. Ia sibuk menerka-nerka hubungan kedua karakter yang ada di dalam film.
"Harus berapa kode lagi aku kasih sampai kamu paham aku hubungan lebih dari seorang teman, Vi?"
Pertanyaan itu membuat film yang Garvi dan Adelya lihat membuatnya tidak lagi menarik. Ia sekarang menerka-nerka apakah pertanyaan Adelya tidak salah terdengar ke telinga Garvi? Mereka berdua saling menatap. Garvi baru sadar, selama bertahun-tahun mereka berdua berteman, mata Adelya tidak pernah sejernih ini. Dalam gelapnya teater yang hanya diterangi oleh proyektor film, mata teman perempuannya ini berbinar, mengeluarkan cahaya indah yang dihiasi oleh air yang menggenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garvi Hinggap di Bulan
Romansa"Jadi laki-laki harus kuat, Vi. Nggak apa-apa nangis, tapi kamu harus tahan, ya. Kamu juga harus tahu, kalau kamu bukan sebuah kesalahan." Suara Arunika bergetar. Itulah pesan almarhumah Arunika 20 tahun lalu kepada Garvi kecil. Kini saat ia sudah d...
