Tidak ada yang bisa menahan pikiran Garvi. Jika tadi perasaan-perasaan yang muncul adalah ketakutan dan kekhawatiran, kali ini ia penuh dengan amarah. Ia gusar dengan jawaban yang ia dapat dari Citra. Selama ini ia anggap mereka sudah berada di langkah yang benar. Saling menyukai satu sama lain dan bisa bersama-sama.
Tidak hanya Citra saja. Perempuan lain yang muncul di kepalanya adalah Adelya. Ia kesal karena mantannya itu bisa jadi benar seutuhnya. Citra tidak menjawab pertanyaan yang ia inginkan. Terlebih, Garvi tidak tahu apakah Citra benar-benar sayang padanya, cinta padanya, atau hanya terbawa suasana?
Rasa sakit di kepalanya semakin menjadi. Badannya terasa begitu berat untuk diajak bergerak ke parkiran mobil dan pergi ke lapas akibat dentuman ingatan tentang ibunya. Sejak awal ia selalu jadi tempat pelampiasan kekecewaannya terhadap ayahnya Garvi. Ia tidak pernah meminta untuk menjadi samsak tinju dan dianggap sebuah sampah tidak bermutu oleh ibu kandungnya sendiri.
Seiring mengendarai mobil, Garvi tidak dapat berhenti memijat kepalanya yang sudah pening sedari Citra keluar dari kamar dengan keadaan sakit hati. Walau Citra mengatakan bahwa Garvi tidak pernah salah, kali ini ia mengakui bahwa perkataan terakhirnya memang benar-benar melukai Citra.
Rasa sakit dari kepala yang ia rasakan tidak berhenti di sana. Ketika sampai di lapas ia masih mengernyitkan kening dan memijat-mijat kepalanya. Tetapi rasa sakit di kepalanya tidak begitu dalam jika dibandingkan dengan kenyataan baru yang harus ia terima. Citra bisa jadi membencinya dan tidak ada yang bisa ia lakukan lagi akibat apa yang Garvi katakan sebelum mereka berpisah. Ia kembali mencoba memastikan alasannya bisa berbuat seperti itu. Mencari jejaknya kembali bagaimana awalnya bisa ke situasi ini.
Garvi marah kepada Citra karena bertemu dengan Adelya. Pertemuan itu tidak akan terjadi jika Garvi tidak menghabiskan waktunya bersama Citra dan menceritakan masa lalunya. Garvi tidak akan bertemu dengan Citra kalau bukan karena Toni. Tapi Toni memperkenalkannya karena Garvi tidak bisa berhenti memikirkan Adelya karena mereka putus. Kandasnya hubungan Garvi dan Adelya karena ia terlalu memikirkan masa lalunya yang berawal dari kematian Arunika yang disebabkan oleh ibunya.
Ibu.
Seperti kata Toni, ia tidak bisa berhenti memikirkan Adelya karena ia ditinggalkan begitu saja. Maka dari itu, Garvi membutuhkan closure, sebuah permintaan maaf dari ibu. Dalang dari segala masalah yang ia alami.
Begitu turun dari mobil, Garvi kemudian masuk ke lapas dan berkata kepada penjaga untuk menemui Virdha.
"Tumben, mas. Sudah lama nggak ke sini."
Garvi tidak membalas sapaan salah seorang penjaga. Ia tersenyum datar. "Saya mau ngobrol sama ibu saya."
"Mau ketemu Virdha?" Penjaga terlihat kebingungan dengan pertanyaan Garvi. Bisa jadi karena setiap Garvi pergi ke lapas selama bertahun-tahun, penjaga tidak pernah mendapatkan permintaan darinya untuk berbicara dengan Virdha.
Garvi mengangguk. "Ada urusan yang harus saya selesaikan."
Penjaga mengangguk. Ia kemudian berbicara kepada temannya untuk memanggil Virdha. Garvi diajak masuk ke tempat mereka berdua bisa berbicara. Ketika masuk ke sebuah ruangan, ia mendapati ibunya muncul dalam keadaan lebam di wajah.
"Barusan bertengkar lagi sama napi lain. Gara-gara dituduh curi roti," jelas penjaga. "Silakan mas Garvi."
Pada awalnya mereka berdua diam. Virdha terlihat santai dan tidak peduli dengan kehadiran seseorang di depannya. Ia memainkan jemarinya, mencongkel-congkel meja dengan kukunya, dan sesekali mengusap perlahan lebam yang ada di wajahnya.
"Ibu baik-baik?" Rasa dendam yang tertanam di kepalanya tentang orang di depannya seketika bersembunyi. Garvi justru merasa kasihan karena melihat dari dekat apa bagaimana keadaan wajah perempuan itu. Padahal setiap kali Garvi mengunjunginya ke sini, ia selalu mengharapkan ibunya mendapatkan luka-luka yang lebih menyakitkan dari lebam-lebam, bahkan sampai harus dirawat ke ruang kesehatan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Garvi Hinggap di Bulan
Romantik"Jadi laki-laki harus kuat, Vi. Nggak apa-apa nangis, tapi kamu harus tahan, ya. Kamu juga harus tahu, kalau kamu bukan sebuah kesalahan." Suara Arunika bergetar. Itulah pesan almarhumah Arunika 20 tahun lalu kepada Garvi kecil. Kini saat ia sudah d...
