Tamu Tak Diundang

116 15 7
                                        

Keduanya diam untuk beberapa waktu. Garvi tidak berani bertanya apa yang ingin dibicarakan. Adel sepertinya tidak bersuara untuk mencari tahu apa yang mau disampaikan. Ia mungkin bingung harus bicara dari mana, karena urusan ini sudah cukup berat.

"Aku–"

"Saya–"

Keduanya bicara bersamaan setelah 10 menit saling diam. "Maaf. Kamu dulu. Ada hal apa yang harus dibicarakan sampai kamu datang ke sini, Del?"

Adel mengangkat alis. Ia menggeleng dan terkekeh tapi merasa tidak ada yang lucu. "Kamu bahkan masih nanya itu, Vi? Aku udah berapa kali hubungi kamu hari ini masa kamu nggak terpikir sedikit pun kenapa aku bisa ke sini?"

"Bukannya kita sudah saling tahu ya, kalau saya nggak angkat telepon artinya saya sedang me time dan memang nggak bisa diganggu?"

"Jadi memang betul aku itu gangguan buat kamu?"

"Bukan gitu, Del. Maksudnya, saya harus meluruskan pikiran saya sendiri–"

"Sampai kapan?"

"Maksudnya?"

"Ya, sampai kapan kamu mau begitu terus? Kita udah 5 tahun lho, Vi kayak begini. Dari kamu yang pekerja kantoran biasa aku harus rela nyerah buat kamu supaya bisa me time kareena dari 9-5 kamu harus kerja. Terus kamu bilang ke aku kalau kamu mau alih profesi jadi penulis novel supaya bisa punya banyak waktu, dan alasannya untuk apa? Iya. Me time. Aku kira dengan kamu sekarang jadi novelis, udah punya banyak waktu senggang, me time kamu cukup tanpa harus mengorbankan waktuku." Adelya sudah terlampau lelah untuk bisa menahan diri.

Garvi ingin memberikan argumennya tetapi ia tahu ini bukan saat yang tepat. Menurutnya keadaan masih terlalu panas untuk Adelya bisa mendengar sudut pandangnya.

"Bukan cuma masalah waktu aja, Vi." Adelya melanjutkan. "Kamu sering. Sering sekali muncul dalam keadaan tangan yang lebam dan lecet. Memangnya aku bisa tahan begitu?"

Sebenarnya tidak hanya tangan saja yang lebam dan lecet. Tapi seluruh badan Garvi penuh dengan luka bekas mencubit dirinya sendiri.

"Aku tahu kamu nggak bertengkar dengan siapapun, Vi. Aku juga tahu kamu nggak pernah main tangan ke aku sebagai pelampiasan amarah kamu. Tapi kenapa, Vi? Apa yang membuat kamu seperti itu?"

"Kenapa kamu nggak pernah paham atas apa yang saya selalu jelaskan lima tahun selama kita pacaran?" Garvi akhirnya berkata.

"Vi.. Sungguh kamu tuh perlu, perlu cari bantuan profesional. Ke psikolog atau ke psikiater. Apa susahnya sih? Kamu uang banyak. Kalau nggak mau ngeluarin duit, pakai BPJS juga bisa. Apa penghalangnya?"

Garvi menutup mulutnya lagi tidak mampu menjawab. Ia sejujurnya sudah pernah mencoba ke psikolog dan psikiater tanpa sepengetahuan Adelya. Tetapi obat yang dikonsumsinya mengganggu jadwal Garvi menulis pada saat sedang menyusun novel. Ia jadi mudah mengantuk kapan pun. Walau begitu, itu memang kondisi yang dijelaskan sedari awal oleh psikiater, agar emosi Garvi bisa stabil. Psikiaternya juga berkata bahwa ia akan melakukan uji coba terkait obat yang cocok untuk Garvi konsumsi apa.

Tapi bagi Garvi itu justru hanya akan buang-buang waktu. Ia harus mengalokasikan waktu beberapa bulan untuk konsumsi obat dari psikiater lagi dan itu akan menahannya berkembang. Untuk psikolog sendiri, sudah berbagai macam ia temui dan belum ada yang cocok. Setiap psikolog yang membantu Garvi hanya memberikan jawaban abu-abu. Memintanya untuk bertanya dan refleksi kepada diri sendiri.

Tentu saja bagi Garvi hal itu merupakan hal yang sia-sia. Setiap hari ia sudah melihat dirinya dari cerita-cerita Arunika dan bagaimana dampaknya hingga saat ini. Kelahirannya di dunia ini bukanlah sebuah keinginan, melainkan sebuah kesalahan. Lalu apa yang bisa membantu dari itu? Tidak ada. Tidak ada jawaban lain selain, "Saya yang salah sejak lahir".

Garvi Hinggap di BulanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang