.
.
.
Happy Reading
🥀
Pagi hari Gamma sudah dikejutkan dengan Zianna yang bersikeras ingin tetap pergi ke sekolah. Lelaki itu khawatir. Segala cara telah Gamma coba untuk membujuk Zianna. Tapi Zianna tetap pada pendiriannya. Jika sudah seperti ini Gamma hanya bisa pasrah.
"Ayolah Gam! Gue udah baik-baik aja," ucap Zianna sambil menutup pintu rumahnya.
"Kalo lo demam lagi gimana Zia? Sehari lagi gak masuk enggak akan buat lo bodoh sumpah," ucap Gamma. Tangan lelaki itu memegang kedua bahu Zianna. Matanya menatap lekat wajah Zianna yang sedikit pucat.
"Gamma," panggil Zianna lalu meraih tangan Gamma dan menggenggamnya.
"Trust me!" ucap Zianna menatap Gamma penuh harap.
Gamma menghela napasnya. Tidak ada gunanya menghentikan Zianna. Jika dilihat lagi Zianna memang sudah membaik.
"Fine."
"Ya udah ayo," ucap Zianna menarik tangan Gamma.
"Pake jaketnya dulu Zia!" ujar Gamma lalu memasangkan jaket pada Zianna.
"Udahkan? Ayo Gam nanti telat," kata Zianna yang menarik Gamma kembali.
***
"Udah sana bentar lagi masuk," ucap Zianna pada Gamma.
"Makanya lo sana masuk duluan Zia. Gue gak bakal pergi sebelum lo masuk," ucap Gamma.
Zianna memutar bola matanya malas. "Ya udah iya."
Setelah Zianna pergi dan tidak terlihat lagi dari pandangan Gamma. Lelaki itu kemudian menyalakan motornya lalu pergi.
Saat menuju kelas Zianna melihat Arga pergi ke arah belakang sekolah. Dengan rasa penasarannya Zianna mengikuti Arga diam-diam. Zianna sedikit terkejut, ternyata Arga pergi menuju pohon yang selalu Zianna datangi.
Entah apa yang membawa Arga pada tempat ini. Rasanya lelaki itu ingin berdiam diri dengan tenang. Saat sudah duduk tiba-tiba terlintas memori saat bersama Zianna. Arga tersenyum. Matanya menangkap sosok yang sangat ia kenal.
"Zia?" ucap Arga terkejut melihat Zianna.
"Ngapain disini?" tanya Zianna lalu duduk di sebelah Arga.
Bukannya menjawab Arga malah menatapnya tak percaya.
"Lo beneran Zia?" ucap Arga.
"Iya beneran. Kalo bukan siapa dong," jawab Zianna.
"Kenapa lo sekolah?" tanya Arga.
Zianna mengernyit, "Lo ga mau liat gue?" tanya Zianna heran.
"Mau," jawab Arga polos.
"Sebegitu rindunya ya lo sama gue Ar," ucap Zianna menatap Arga.
"Hah? Enggak siapa bilang," ujar Arga menyadari ucapannya barusan.
Zianna tersenyum kecil karenanya. Sebegitu rindunya kah lelaki itu padanya.
"Ngapain lo senyum-senyum?" omel Arga pada Zianna.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARGANNA
Cerita Pendek[on going] Arga Gevian Aleo. Sang ketua basket yang teladan, pintar, dan cukup pendiam. Hidupnya yang teratur dan tidak urakan, membuatnya disegani oleh banyak orang. Memiliki sifat yang cuek namun terkesan penyayang. Zianna Mikhaella Alkhanza. Dike...
