Mereka sampai di parkiran mall yang saat ini cukup sepi. Yah namanya sedang hujan lebat, beberapa orang pasti enggan untuk keluar rumah kan.
"El, apa aku salah lihat? Atau memang itu mobil Daddy?"
"Itu mobil Daddy, aku sangat mengenalnya." Senyum Gevano tampak ketika mendengar jawaban Elvano.
"Kau bebas Ano, ayo temui Daddy dan balas Sasnarwa. Ck, masalah Diego saja belum selesai, malah bertambah lagi."
"Ayo El."
"Ya, turunlah."
Dengan cepat Gevano turun dari mobil, netranya menangkap sosok sang Daddy disana.
"DADDY!" jelas, siapa yang tidak kaget? Bahkan Deandra berdecak dalam hati, kenapa bisa kebetulan begini.
Kendrick menoleh mencari asal suara, bisa Gevano lihat Daddy-nya juga menatap kaget padanya, apalagi disini dia di temani Ayah serta saudaranya yang sudah ikut turun dan berdiri di belakangnya.
Gevano tanpa pikir panjang berlari berakhir menubrukkan tubuhnya pada gendongan koala sang Daddy, "Sayang bagaimana jika jatuh?"
"Daddy tidak akan pernah gagal menangkap ku." Kendrick tersenyum, di ciumnya pucuk kepala Gevano berkali-kali.
"Aku rindu Daddy."
"Daddy juga sayang, bagaimana kabarmu hm?" Gevano menatap Kendrick dengan mata yang berkaca-kaca, bibirnya melengkung ke bawah dan benar saja, tetes demi tetes air mata membasahi pipinya.
"Adek sakitttt ~ " belum sempat Kendrick bertanya, suara Immanuel lebih dulu terdengar.
"Siapa yang sakit? Eh, Ano?!" Gevano menoleh, dimobil yang Immanuel tumpangi ada Kanav, Rean dan juga Cayvan.
Keempat pemuda itu berjalan mendekat dengan sedikit terburu-buru.
"Ano sakit? Mana yang sakit sayang? Ayo bilang sama Kakak." Nada bicara Cayvan turut terdengar khawatir, adiknya, adik satu-satunya sakit, bagaimana bisa?
Sedangkan di seberang sana para Sasnarwa tidak bergerak barang sedikitpun. Otak mereka sedang bekerja keras untuk mencari alasan kenapa Kavandra bisa menjadi sepanik itu, suhu badan Gevano hanya hangat, bahkan tidak ada luka, tapi kenapa pada Kavandra se-panik itu?
"Kakak ~, ayo pegang, disini hangat." Immanuel menyentuh kening sang adik, benar, suhu tubuhnya agak hangat.
"Pantas saja adikku ini merengek, ternyata sedang terserang demam ya? Kemari biar Kakak periksa." Immanuel mengambil alih tubuh Gevano untuk ia gendong, sedangkan Kendrick berjalan menuju kearah Deandra yang berdiri agak jauh dari tempatnya.
"Anakku sakit." Deandra hanya diam, tatapan Kendrick seakan menyiratkan betapa marahnya pria itu.
"Paman, aku sudah merawatnya, tubuhnya sudah tidak sepanas kemarin," Bela Haru, pemuda itu merasa ada tanda bahaya disini.
"Saya sudah pernah mengatakan jika ada apa-apa pada Gevano hubungi saya!!, anak itu tidak akan sembuh hanya dengan dokter lain di luaran sana, hanya Nuel yang bisa menyembuhkan kesayanganku Deandra."
"Kakak ~ , aku sudah menyuruh Ayah untuk memanggilmu, tapi dia malah membentakku, katanya dokter lain juga bisa menyembuhkan ku, padahal tubuhku sudah banyak memar biru," Rengek Gevano sembari menunjukkan beberapa memar di tangannya.
Keadaan parkiran yang sepi membuat suara Gevano terdengar jelas, bahkan Kendrick yang posisinya agak jauh juga bisa mendengarnya.
"Lalu adikku ini tidak mengatakan tentang obat khususnya?" Tanya dokter muda itu dengan menimang tubuh adiknya dalam gendongan, Immanuel tidak membawa peralatan medisnya disini, jadi mau tidak mau dia harus membawa Gevano pulang nanti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Me [On Going]
Teen Fictionpokoknya ini idup pada di luar nalar & akal sehat manusia.. gue sepanjang idup : hah?, apa?, kenapa?, kok bisa?, gimana?. pokoknya 5W+1H ada semua lah.
![Dear Me [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/361191146-64-k421603.jpg)