❗ FOLLOW DAN VOTE SEBELUM MEMBACA ❗
Satu perawat, satu idol, satu ruang perawatan-dan segalanya berubah.
Kim Yura tak pernah menyangka pasiennya kali ini adalah Han Jimin, idol terkenal dengan sikap dingin. Tapi seiring waktu, perhatian kecil dan ca...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Eomma, aku pulang. Bagaimana keadaan Eomma? Aku membawakan obat dan buah untukmu," ucap Yura lembut sambil melangkah masuk.
Pintu yang terbuka perlahan memperlihatkan ruang tamu yang temaram. Namun sebelum Yura sempat tersenyum, pandangannya terpaku. Di depan matanya, ibunya sedang bercumbu mesra dengan seorang pria asing—begitu tenggelam dalam pelukan, seolah dunia luar tak pernah ada.
Waktu seperti membeku.
Yura membatu di ambang pintu. Buah dan obat yang dibawanya nyaris terlepas dari genggamannya.
Sementara itu, Yorin tersentak, mendorong tubuh pria itu dengan panik kecil yang hanya bertahan sedetik sebelum berubah menjadi tatapan kesal—bukan malu, bukan menyesal, tapi terganggu karena kedatangan anaknya.
Keduanya saling menatap. Yura dengan mata yang melebar tak percaya. Yorin dengan wajah yang berusaha menutup keterkejutan, namun jelas tak berniat meminta maaf.
"Aku tak butuh kau datang! Melihatmu saja membuatku muak! Aku hanya butuh uangmu. Jika kau benar ingin membelikanku obat, kirimkan saja. Tak perlu menampakkan diri," bentak Yorin, suaranya tajam memecah udara.
"Eomma... " Yura seakan tak percaya ibunya selalu saja bersikap seperti itu.
"Sekarang pergilah... dan tinggalkan uang dua juta won." Nominal itu meluncur ringan dari bibirnya, seakan bukan jumlah besar yang harus disisihkan anaknya yang hidup seorang diri di perantauan. Tak ada jeda untuk berpikir, tak ada ruang untuk mempertimbangkan perasaan.
Dengan tangan gemetar, Yura menyalakan ponselnya. Cahaya layar memantul di mata yang berkaca-kaca. Ia mengetik angka demi angka, memastikan transfer terkirim tanpa salah.
"Aku selalu berusaha menjadi anak baik. Selalu ingin membahagiakanmu..." bisiknya, suara patah. "Tapi kenapa, Eomma... kenapa kau tak pernah melihatku? Haruskah dosa Appa... aku yang menanggungnya?"
Begitu pembayaran selesai, Yura memasukkan ponsel ke tasnya dan pergi tanpa menoleh. Langkahnya cepat, namun hatinya tertinggal—tercabik di tempat yang seharusnya menjadi rumah tetapi tak pernah memberinya ruang untuk pulang. Dunia luar terlihat lebih dingin, tetapi baginya tetap lebih hangat daripada berada di bawah atap Yorin.
Kim Yorin hanya berdiri, menatap punggung anaknya yang menjauh. Tak ada getaran penyesalan di wajahnya. Tak ada bayangan ragu. Yang ada hanyalah senyum tipis ketika layar ponselnya menyala, menampilkan notifikasi saldo bertambah.
Ia melangkah ringan, seolah beban hidupnya terangkat bersama uang yang baru masuk. Yorin menghampiri Lim Jae—pria muda yang sudah lama menempel pada hidupnya. Lengan Yorin melingkar di leher pria itu dengan manja, bibirnya terangkat nakal.
Sebagai seorang anak, mendengar kabar bahwa ibunya sedang sakit tentu membuat Yura sangat khawatir—apalagi mereka sudah lama tidak tinggal bersama. Ia pulang dengan harapan bisa menjenguk dan menenangkan hati sang ibu. Namun setibanya di sana, sambutan hangat yang ia bayangkan tidak pernah datang.