14. Keluarga Baru

51 9 0
                                        

Nyonya Min mengajak Yura makan siang di sebuah restoran sebagai ucapan terima kasih karena Yura sudah membantu mempersiapkan pesta di apartemen baru Yunki kemarin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Nyonya Min mengajak Yura makan siang di sebuah restoran sebagai ucapan terima kasih karena Yura sudah membantu mempersiapkan pesta di apartemen baru Yunki kemarin. Suasananya hangat; meja dipenuhi hidangan lezat, dan percakapan mengalir ringan. Namun di sela-sela obrolan itu, Yura memperhatikan bagaimana Nyonya dan Tuan Min memperlakukan Yunki dengan penuh kasih-hangat, lembut, tanpa syarat.

Seketika dadanya terasa diremas. Andai saja ia tumbuh dalam keluarga sehangat ini.

Tanpa ia sadari, matanya memanas dan air bening jatuh perlahan.

"Eoh... Nak? Kenapa menangis?" tanya Nyonya Min, terkejut namun lekas mendekat.

Ia menyentuh pipi Yura dengan lembut. "Ada yang mengganjal di hatimu? Atau pekerjaanmu terasa berat, hm?"

Pertanyaan sederhana itu menusuk hatinya. Yura tidak pernah mendapatkan perhatian seperti ini-terutama dari seorang ibu.

"Ah..." Yura menahan air mata dengan menengadahkan kepala. "Eomma, Appa... aku senang bisa mengenal kalian."

Nyonya Min menarik napas pelan, suaranya bergetar. "Eomma kehilangan separuh jiwaku sejak kepergian adiknya Yunki. Meski tak ada yang bisa menggantikannya... tapi sejak bertemu denganmu, rasanya seperti bertemu putriku kembali."
Ia menggenggam tangan Yura. "Yura, kau sudah Eomma anggap seperti putri kedua."

Tuan Min tersenyum lembut. "Appa juga merasakan hal itu, Nak. Semoga kita bisa terus berhubungan baik. Kau seperti anak bungsu Appa."

"Terima kasih, Appa, Eomma..." suara Yura pecah. "Aku sudah lama merindukan kehangatan seperti ini. Suatu kehormatan bisa diterima oleh kalian."

Nyonya dan Tuan Min mengangguk, seolah menegaskan bahwa penerimaan itu bukan sekadar kata-kata-mereka benar-benar tulus.

"Mulai sekarang, kami adalah rumah keduamu," ujar Nyonya Min lembut. "Setelah orang tuamu sendiri."

Yura tidak dapat menahan air matanya lagi. Ia menangis-tumpah, jujur, tanpa bisa dihentikan.
Bagaimana mungkin ia tidak rapuh saat mendengar kalimat seperti itu?

Karena dalam hidupnya, rumah selalu berarti luka. Yura dibesarkan oleh Kim Yorin, ibu berhati dingin yang berubah setelah suaminya, Kim Seojun, pergi dengan wanita lain saat ia tengah mengandung Yura. Sejak itu, Yura dianggap sebagai penyebab semuanya-kutukan yang menghancurkan hidup ibunya.
Kasih sayang? Tak pernah ia terima.
Teriakan, cacian, dan pukulan menjadi makanan sehari-hari. Hingga setelah lulus SMA, Yura akhirnya kabur dari rumah demi menjaga kewarasannya sendiri.

Saat Yura tersedu ringan, Yunki kembali dari toilet dan langsung terbelalak melihat pemandangan itu-kedua orang tuanya dan Yura saling berpelukan.

"Ada apa? Aku cuma ke toilet sebentar. Kenapa kalian sampai terharu seakan merindukanku saja?" serunya bingung.

𝓜𝔂 𝓟𝓪𝓽𝓲𝓮𝓷𝓽  || 𝐏𝐣𝐦Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang