16. Movie Date

39 7 3
                                        

Yura menggeliat di atas ranjang, mata perlahan terbuka, dan pikirannya segera menangkap kembali memori semalam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Yura menggeliat di atas ranjang, mata perlahan terbuka, dan pikirannya segera menangkap kembali memori semalam. Sebuah sesak seketika menyelimuti dadanya; ia menahan napas, tangannya meraba dada.

"Eoh... aku sudah memakai baju lagi," gumamnya, dan seketika lega menarik napas dalam-dalam.

Namun jantungnya kini berdetak tak beraturan. Tubuhnya masih kaku, seakan membeku. Bagaimana jika Jimin masih tidur di sebelahnya? Apa yang harus kulakukan? Malu mencekamnya, bercampur rasa hangat yang aneh saat teringat pelukan Jimin—selalu mampu menenangkan. Astaga, Yura, apa yang kau pikirkan?

Rahang Yura mengerat, tangannya menggenggam ujung selimut erat-erat. Setelah menarik napas panjang dan menenangkan diri, ia memberanikan diri mengedarkan pandangan ke sisi ranjang. Hati sedikit melonggar: Jimin tidak ada di sana. Bahkan sofa dekat jendela pun kosong. Suara air di kamar mandi pun tak terdengar.

Dengan hati lebih lega, Yura merenggangkan tubuhnya, melepaskan ketegangan yang sempat menghimpit. Paling tidak, ia diberi beberapa saat untuk bernapas sendiri.

Tiba-tiba, sebuah erangan memecah keheningan. Yura terkejut saat kaki putihnya secara tidak sengaja menginjak sesuatu. Ia menunduk, dan mendapati Jimin kesakitan.

"Ah ... " Suara erangan tiba-tiba mengagetkan Yura saat kaki putihnya menuruni ranjang. 

"Kenapa kau berbaring di lantai?" Yura buru-buru jongkok, menarik tangan Jimin lalu meniup jarinya yang tak sengaja ia injak dengan lembut.

Jimin mengerutkan kening, tapi ada senyum tipis di bibirnya.

Semalaman Jimin tak dapat tidur dengan nyenyak. Kegelisahan mendominasi diri sebab selain menjaga Yura yang sedang demam, ia juga harus bisa mengontrol dirinya. Jimin memang mencintai Yura bahkan sangat menginginkannya. Akan tetapi, ia ingin mendapatkannya dengan cara yang layak. Sebagai seorang pria, ia memegang teguh tentang tanggung jawab untuk menjaga orang terkasih adalah hal yang terpenting.  Tak mungkin Jimin memanfaatkan kesempatan untuk menguasai tubuh Yura di saat kondisinya sedang lemah.  

Usai memakaikan kembali pakaian Yura setelah melakukan skin to skin dan suhu tubuh Yura berhasil menurun.  Karena tak ingin jauh dari Yura tapi jika terus berdekatan akan berbahaya, maka Jimin memilih merebahkan diri di bawah ranjang hingga ia terlelap
sendiri.

Kepala Jimin terasa pening sebab terbangun dengan tiba-tiba di sertai terkejut merasakan jarinya terinjak sesuatu. "Aku hanya rebahan sambil bermain ponsel dan baru saja terlelap."

Seakan waktu berdetak lambat. Poros hidupnya berhenti tepat di hadapannya. Rasa sakit yang ia rasakan seketika menghilang. Kala kedua netra Jimin saat memandang lekat Yura yang tengah meniup jarinya. Jimin terpesona dengan paras Yura saat wanita itu baru saja bangun tidur. Sangat manis dan terlihat teduh. Meski mereka pernah tinggal bersama tetapi, Yura selalu keluar kamar jika sudah mandi dan terlihat rapi. Tapi kali  ini entah mengapa Jimin justru terpesona dengan penampilan rambut yang berantakan dan mata bengkak khas bangun tidur. Untuk sesaat Jimin menikmati momen tersebut, walaupun harus menahan diri untuk tidak mencium gemas bibir Yura yang terlihat menggoda saat meniup tangannya.

𝓜𝔂 𝓟𝓪𝓽𝓲𝓮𝓷𝓽  || 𝐏𝐣𝐦Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang