❗ FOLLOW DAN VOTE SEBELUM MEMBACA ❗
Satu perawat, satu idol, satu ruang perawatan-dan segalanya berubah.
Kim Yura tak pernah menyangka pasiennya kali ini adalah Han Jimin, idol terkenal dengan sikap dingin. Tapi seiring waktu, perhatian kecil dan ca...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi itu matahari baru saja menyelinap melewati tirai tipis apartemen mewah milik Han Jimin. Cahaya keemasan menimpa lantai marmer putih, memantulkan kilau lembut yang membuat seluruh ruangan tampak hangat. Ruangan apartemen itu luas, dengan dinding kaca yang memperlihatkan panorama kota. Mobil-mobil mulai bergerak, gedung-gedung berkilauan diterpa cahaya matahari pertama, dan langit berwarna biru lembut seolah menyambut hari baru yang menjanjikan.
Aroma kopi yang baru diseduh perlahan memenuhi udara, merambat dari dapur modern yang tertata rapi. Suara mesin otomatis berhenti seperti sedang mengumumkan, "Kopi siap, silakan rebutan!"
"Aku juga mau." ucap Jimin ,saat ia melangkah keluar dari kamar. Masih mengenakan sweater oversized yang membuatnya terlihat lebih santai dibanding sosok glamor yang biasa tampil di televisi.
"Tidak," potong Yura cepat, mengangkat secangkir kopi seperti memegang trofi kemenangan. "Kau baru boleh minum kopi kalau obatmu sudah habis."
Jimin langsung mendesah dramatis, seolah baru menerima kabar bahwa konsernya dibatalkan. "Tapi kau harus janji buat bikinin aku kopi kalau pengobatanku sudah selesai."
"Buatlah sendiri, aku tak memiliki alatnya di apartemenku. Tapi kalau mau yang instan, ya terserah."
Jimin mengerucutkan bibir. "Aku maunya yang dibuat dengan mesin. Rasanya lebih nikmat. Tapi aku mau kau yang buat pasti rasanya lebih spesial." Ia tersenyum lebar-senyum yang biasanya dipakai untuk fanmeeting mahal.
"Merepotkan," gumam Yura, berjalan melewatinya tanpa ampun. "Beli saja di kafe. Uangmu kan banyak. Sponsormu juga banyak."
"Aku akan membayarmu lima kali lipat untuk segelas kopi buatanmu," kata Jimin sambil mengangkat alis, berusaha terlihat meyakinkan. Nyaris berhasil-kalau saja wajahnya tidak sekesal anak TK yang dilarang makan permen.
Yura berhenti. Perlahan menoleh. Mata menyipit. "Hmm... tawaran menarik tapi aku sibuk." Meletakkan cangkir kopinya di atas meja dekat televisi, "kau pikir aku punya waktu banyak untuk meladeni keinginanmu yang aneh-aneh itu?" sambungnya.
Jimin menyandarkan dirinya pada sofa bludru berwarna hitam yang terasa lembut dan nyaman, duduk di sebelah Yura dan tidak kehilangan senyum jahilnya. "Kalau untukku, kau pasti meluangkan waktu."
Yura melirik cepat, menahan tawa yang hampir lolos. "Percaya diri sekali kau, ya."
"Aku hanya menyatakan fakta," balas Jimin ringan, lalu mendekat. "Kau bahkan selalu bangun lebih pagi, menyiapkan sarapan untukku, bahkan membantuku di rumah ini. Itu saja sudah membuktikan sesuatu."
Yura memutar mata jengah. "Itu karena pekerjaanku. Aku harus memastikan kau lekas pulih dan kembali di depan layar kamera lagi."
"Kalau begitu..." Jimin menyilangkan tangan di dada sambil menampilkan senyum mautnya, "kau jadi kekasihku saja mulai sekarang. Dengan begitu, aku bisa menikmati kopi buatanmu kapan saja dan menatap wajah cantikmu setiap hari. Perpaduan sempurna-premium, limited edition. Dan hanya aku yang boleh menikmatinya."