❗ FOLLOW DAN VOTE SEBELUM MEMBACA ❗
Satu perawat, satu idol, satu ruang perawatan-dan segalanya berubah.
Kim Yura tak pernah menyangka pasiennya kali ini adalah Han Jimin, idol terkenal dengan sikap dingin. Tapi seiring waktu, perhatian kecil dan ca...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi-pagi sekali, Jimin dan Yura sudah meninggalkan hotel. Hari cerah seakan mendukung keceriaan di dalam mobil. Lantunan musik mengiringi perjalanan, Jimin memutar beberapa lagu dari grup idolnya sendiri. Lagu-lagu yang sebenarnya jarang Yura dengar, tapi setelah didengarkan dengan saksama, liriknya terasa begitu dalam seakan berbicara langsung tentang kehidupan nyata.
Beberapa lagu mereka memiliki genre berbeda, dan kali ini RnB dipilih. Ritmenya pas, tenang, cocok untuk perjalanan. Yura mendengarkan dengan seksama, tampak menikmati setiap kata. Sepertinya, lagu-lagu ini akan masuk daftar favoritnya mulai sekarang.
Namun, ketika satu lagu selesai dan diganti dengan lagu melow, suasana dalam mobil perlahan berubah. Liriknya menceritakan seorang anak yang tidak pernah merasakan kasih sayang tulus dari orang tuanya. Bahkan ketika dewasa, yang mereka inginkan hanyalah uang bukan perhatian, bukan cinta.
Suasana ceria pun sirna. Yura menatap ujung sepatunya, air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Meski Jimin tengah berkonsentrasi memegang kemudi mobil. Tapi ia tau jika suasana hati Yura berubah. Tangannya bergerak mengusap belakang kepala Yura.
"Ingin bercerita? siapa tau perasaanmu akan sedikit lega setelah berbagi cerita," ucapnya lembut.
Yura menegakkan kepala, menatap Jimin yang duduk di sebelahnya. "Terima kasih sudah menemaniku. Aku tidak tahu apa jadinya jika aku sendirian kemarin," ucapnya lirih.
Jimin menatap jalan beberapa saat, lalu menghela napas pelan. "Aku sempat mendengar keributan sebelum kau keluar dari rumah. Aku dari kemarin ingin bertanya, tapi melihat kondisimu sedang sakit, aku jadi tidak tega."
Yura tersenyum getir, "Suara Eomma nyaring, ya?"
"Mungkin Eomma sedang lelah," ujar Jimin menenangkan. Meski ia belum tau yang sebenarnya.
Yura menunduk sejenak, suaranya lembut tapi berat. "Kau harus menjaga orang tuamu dengan baik, Oppa. Mereka sangat menyayangimu. Kau sangat beruntung. Saat kau sakit mereka datang dan selalu menanyakan kabar saat jauh darimu. Tidak seperti ibuku yang hanya menginginkan uang dariku. Tapi aku tak bisa membencinya. Walau bagaimanapun, ia tetaplah ibuku." Rasanya seperti ada yang meremas jantung Yura saat ini. Begitu nyeri melihat kenyataan kehidupan keluarga yang jauh berbeda di antara mereka.
Jimin menggenggam erat tangan Yura. "Eomma seharusnya beruntung memiliki anak sepertimu. Kau tumbuh jadi orang yang baik, perhatian, peduli. Bahkan rela menempuh jarak jauh demi melihat kondisinya. Meski kadang kau dapat cacian, itu tetap tidak mengubah hatimu." Suara lembut Jimin seakan mantra yang menenangkan hati Yura.
Yura menunduk sejenak, lalu mengangkat kepala. "Aku masih berharap Eomma bisa berubah. Usia Eomma semakin tua, kasian jika terus menyimpan dendam."
Entah terbuat dari apa hati Yura. Perkataan Yura membuat Jimin semakin mengagumi wanita itu. Jimin tak salah pilih dengan kepribadian yang di miliki Yura.