Epilog

10.3K 943 140
                                        

Walaupun bab terakhir, vote jangan lupa. Tetap komen di setiap paragraf ya:)
.
.
.

3 years later

Seorang anak laki-laki yang usianya lebih dari tujuh tahun kini tengah menatap bangunan tingkat dua di hadapannya. Di punggungnya masih ada tas sekolah yang masih setia digendong.

Helaan napas terdengar kasar lolos dari bibirnya.

"Aku masih anak kecil." Kalimat ambigu yang hanya ia sendiri yang bisa mengerti maksudnya terucap begitu saja.

"Aku kehilangan semuanya," sambungnya kemudian.

"Aku tidak sedih," ucapnya, lalu menunduk. "Hanya saja rindu," lanjutnya dengan sangat pelan.

"Nak," panggil seseorang dari arah belakang. Namun, anak itu seperti tidak mendengar panggilan tersebut.

"Zafian," ulang orang itu memanggil dengan menyebut nama anak itu. Setelah mendengar namanya disebut, barulah ia menoleh ke belakang.

"Iya, Bunda?" jawabnya.

Alara tersenyum. Wanita yang berusia sekitar dua puluh tujuh tahun itu maju dan berdiri di hadapan sang putra.

"Kenapa nggak masuk?" tanya Alara dengan lembut. "Pulangnya sama siapa?" sambungnya bertanya.

"Sama ibu guru," jawab Zafian. Rumah gurunya yang bertempat di kompleks yang sama, bahkan hanya berjarak dua rumah dari rumahnya memudahkannya untuk pulang sebelum bundanya menjemput.

"Kenapa masih di sini?"

Zafian langsung menjawab dengan menunjuk rumah sepi yang berada tepat di seberang rumahnya.

"Zafi kangen main sama Om Zay, Bunda," ungkap anak itu. "Zafi juga kangen Kia," lanjutnya.

Alara seketika merasa susah untuk sekedar menarik napas. Dadanya langsung sesak ketika Zafian menyebut nama putrinya yang meninggal tiga tahun lalu.

Belum lagi perihal Zayden. Alara tidak tahu pasti keadaan Zayden yang sekarang. Karena semenjak meninggalnya Zaina tiga tahun lalu, Zayden benar-benar menutup dirinya. Dalam sebulan bisa Alara hitung hanya berapa kali saja ia melihat laki-laki tersebut. Entah apa yang Zayden lakukan di rumahnya selama tiga tahun belakangan tanpa kehadiran Zaina, yang pasti laki-laki itu tidak lagi aktif di luar ruangan, bahkan berhenti dari pekerjaannya.

Laki-laki itu benar-benar terpuruk dalam jurang penyesalan dan kehilangan.

"Nanti Zafi ajak Ayah main ke rumah Om Zayden, ya," ucap Alara dan diangguki sang anak.

"Bunda, Zafi udah naik kelas dua, Zafi juga dapat juara dua di kelas," ungkap Zafian. Anak laki-laki itu seraya memamerkan piala di tangannya. Namun, tidak ada raut bahagia di wajahnya.

"Masyaallah, anak Bunda memang hebat." Alara memeluk Zafian dengan penuh rasa bangga.

"Kalau adek masih ada, pasti dia juga dapat piala," gumam Zafian.

"Bunda udah bilang berkali-kali ke Zafi, jangan buat Bunda sedih," peringat Alara.

Zafian terkesiap. Ia menyesal karena telah membahas Kia, padahal sudah berulang kali ia diperingatkan bahkan dimarahi Elvano untuk jangan sering-sering membahas Kia di depan Alara, karena hal itu hanya membuat Alara sedih.

"Bunda, beri Zafi maaf," ucap Zafian.

***

Elvano dan keluarga kecilnya serta Eki sudah berada di parkiran sebuah toko buku besar. Tulisan Gramedia terpampang di depan sana.

𝐙𝐈𝐍𝐍𝐈𝐀 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang