Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Pada masanya, Azizi Bagaskara pernah menjadi perokok berat.
Kalau diingat-ingat, itu terjadi saat ia masih berumur belasan hingga awal dua puluhan, saat ia masih menjadi anak kuliahan. Menghabiskan hampir seluruh waktu luang di gelanggang mahasiswa, di depan sekretariat bersama, dan di warung-warung kopi atau burjo terdekat dengan kampus tempat ilmunya ditimba guna membicarakan banyak hal bersama senior-seniornya, membuat batang nikotin tersebut terlihat begitu menggoda di mata Azizi Bagaskara.
Tidak cukup satu atau dua batang, Azizi bahkan dapat menghabiskan dua sampai tiga bungkus setiap harinya.
Namun, itu sudah lama sekali. Sekarang, Azizi merasa sudah tidak ada orang ataupun pikiran yang membuatnya harus merokok lagi. Sampai akhirnya, malam ini, Azizi kembali menghabiskan berbatang-batang rokok di belakang rumahnya sembari memandangi kamarnya yang terlihat terang benderang, berkontradiksi dengan ruang-ruang lain di rumah itu yang remang dan petang.
Azizi merasa sangat kacau dan membutuhkan berbatang-batang nikotin demi kembali menumpulkan sistem syarafnya yang berantakan.
Perdebatan antara dirinya dengan Christy masih berdengung kencang di telinga, memenuhi seisi kepala. Rahangnya yang tegas bahkan masih dapat merasakan denyut-denyut menyakitkan akibat tamparan keras yang istrinya berikan. Namun, lebih dari itu, ngilu yang bersarang di dadanya masih jauh lebih hebat daripada apa pun. Tidak hanya karena bayang-bayang menyeramkan yang terus berkeliaran di dalam kotak-kotak memoar yang dirinya punya, tetapi juga karena Azizi baru saja menyadari bahwa dirinya sudah keterlaluan.
Kelegaan yang ia dapatkan setelah menumpahkan semua hal di dalam dada berubah menjadi sesak luar biasa ketika melihat mata Christy Sasadira berubah menjadi merah dan perlahan-lahan sengal tangisnya terdengar menyapa telinga.
Mengingatnya saja sudah berhasil membuat Azizi dilingkupi oleh rasa bersalah yang luar biasa.
Azizi membuang putung rokoknya yang nyaris habis ke sembarang arah. Dia sungguh-sungguh ingin berlari ke dalam kamar dan memeluk tubuh ringkih Christy seerat dan sekuat mungkin, membisikkan permohonan maaf pada istrinya atas segala hal yang terjadi belakangan ini, tetapi sesuatu di dalam dirinya mencegah Azizi untuk melakukan itu semua. Diri Azizi yang lain mengatakan bahwa apa yang ia lakukan adalah sesuatu yang benar dan meromantisasi keadaan istrinya yang tidak baik-baik saja bukanlah langkah yang tepat.
Bayi itu membawa malapetaka di dalam pernikahan mereka, membawa rasa sakit tiada dua bagi Christy Sasadira, dan menghancurkan kebahagiaan yang susah payah mereka perjuangkan bertahun-tahun lamanya.
Akhirnya, satu-satunya hal yang dapat Azizi lakukan adalah mengumpat pelan sambil menendang batang pohon mangga di sebelahnya kuat-kuat, mencakar kepalanya yang terasa panas dan gatal, kemudian memilih pergi dari rumah.