~Bayangan Mafia di Balik Kerudung~
Semua bermula ketika seorang pria tampan yang terluka di sekujur tubuhnya, di temukan tidak berdaya di belakang kebun Pesantren Abdullah. Yang mereka kira korban perampokan, nyatanya adalah mala petaka bagi mere...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading
⪼₰⌖⊱ζᾆɠą⊰⌖₰⪻
Jam silih berganti, malam berganti fajar, Mafaza akhirnya mereka bebaskan dan di bawa ke kamarnya kembali. Mafaza terlihat pucat tetapi masih bisa berjalan dan lebih baik dari pada semalam. Untungnya tidak sampai demam, pikir León.
León meninggalkan Mafaza yang beristirahat di kamarnya, tidak berselang lama Mafaza bangun dan mendapati sudah di kamarnya.
Ia langsung bersiap mengambil air wudhu, dan sholat subuh.
Setelah sholat, Mafaza melantunkan ayat suci Al-Quran surah Al-Baqarah.
*lâ yukallifullâhu nafsan illâ wus'ahâ, lahâ mâ kasabat wa 'alaihâmaktasabat, rabbanâ lâ tu'âkhidznâ in nasînâ au akhtha'nâ, rabbanâ wa lâ taḫmil 'alainâ ishrang kamâ ḫamaltahû 'alalladzîna ming qablinâ, rabbanâ wa lâ tuḫammilnâ mâ lâ thâqata lanâ bih, wa'fu 'annâ, waghfir lanâ, war-ḫamnâ, anta maulânâ fanshurnâ 'alal-qaumil-kâfirîn
Artinya: Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) "Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir."
Mafaza menangis setelah membaca surat Al-Baqarah pada ayat ke- 286. Hatinya begitu teriris.
"Faza salah apa ya Allah.."
"Faza minta maaf.."
Isakan semakin menyayat hati.
"Umi.."
"Abi.."
"Faza rindu.."
Rasa sakit, bersalah, berdosa, di nodai, marah, menjadi satu dalam sebuah kata Rindu. Ingin sekali merasakan pelukan Maryam yang ia rindukan. Tubuhnya ikut gemetar, menyayat hati, terlalu bersedih membuatnya tidak sadar bahwa di seberang pintu ada seseorang yang menatapnya.