~Bayangan Mafia di Balik Kerudung~
Semua bermula ketika seorang pria tampan yang terluka di sekujur tubuhnya, di temukan tidak berdaya di belakang kebun Pesantren Abdullah. Yang mereka kira korban perampokan, nyatanya adalah mala petaka bagi mere...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
⪼₰⌖⊱ζᾆɠą⊰⌖₰⪻
"I-iya.. maafkan aku.. aku terlalu merindukanmu, jadi aku melampiaskannya dengan mencari pelarian.. tapi sungguh, aku hanya mencintaimu."
"Aku tidak habis pikir denganmu, sungguh. Kau bahkan mengecewakanku, aku bahkan berlutut di hadapan Tuan muda demi dirimu. Tapi balasanmu ini?"
"Alpha! Aku tidak berbohong.."
Alpha tersenyum getir, "kau tidak pantas memanggil namaku itu, hahh.. beruntung kita belum menikah. Terima kasih untuk harapannya."
"Alpha.. kumohon.."
Angelina memeluk tubuh Alpha namun ia tepis, "perbedaan tidak pernah membuatku membatasi rasa sukaku padamu. Waktu tidak pernah mengikis perasaanku terhadapmu, rasa percayaku begitu besar terhadapmu. Aku tidak peduli banyaknya peluru menebus sukmaku, tidak pernah kumemekik tikaman pisau yang merobek kulitku. Tidakkah kau memedulikan perasaanku terhadapmu, sampai kau tega melakukan hal ini terhadapku?"
"Maaf.."
"Kau pikir maafmu berguna saat ini? Hahh.. baiklah, bunuh saja aku. Agar aku tidak perlu khawatir melihat wajah pengkhianat sepertimu lagi."
"Kau pikir hanya kau saja yang merasa tersiksa? Aku pun sama! Aku menunggu lama kepastian darimu, kau tidak ada bedanya dengan León! Pengecut!"
"Angelina!" Alpha sudah mengangkat tangannya, hendak menampar wajah wanita itu. "Tampar! Bunuh aku!"
Dor!
Braak!
Tubuhnya tumbang, wajah Alpha penuh cipratan cairan berwarna merah pekat. Sebuah besi timah panas menembus tengkorak kepala wanita itu, tangannya menurun perlahan, waktu seakan berhenti mendadak melihat seseorang yang ia sayangi tiada di hadapannya. "Sudahlah bro, ayo ke club."
"Kenapa kau membunuhnya?!"
"Perintah, tidak usah mempersulit. Ayo, kita senang-senang. Aku punya informasi menarik, tidak usah cengeng hanya kehilangan satu wanita tidak akan membuatmu menderita."
"León!"
"Shhh. Aku yang traktir." León menarik tangan teman baiknya itu keluar, meninggalkan gadis yang tergeletak berlumuran cairan merah yang sangat pekat.
⪼₰⌖⊱ζᾆɠą⊰⌖₰⪻
"Kamu boleh bertemu mereka tapi tidak kembali pada mereka."
Sebuah kalimat suara membuat Mafaza, gadis itu menoleh. "Kenapa?!"
"Anda bilang saya boleh kembali setelah Anda pulang."
Daga smirk kecil, "saya tidak pernah berkata seperti itu."
"Saya bilang, kamu boleh bertemu mereka setelah saya pulang bukan untuk kembali."
Mafaza tertawa lirih, "kenapa Tuan begitu tega pada saya?"