~Bayangan Mafia di Balik Kerudung~
Semua bermula ketika seorang pria tampan yang terluka di sekujur tubuhnya, di temukan tidak berdaya di belakang kebun Pesantren Abdullah. Yang mereka kira korban perampokan, nyatanya adalah mala petaka bagi mere...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ARE YOU READY GUYS?!
HAHA
I LOVE YOU SO MUCH GUYS
TERIMA KASIH SUDAH BERTAHAN SAMPAI BAB INI!
IYA, BENAR INI AKHIR!
KISAH MEREKA AKAN BERAKHIR!
HAPPY READING!
PENASARAN YAK?! 🤪
⪼₰⌖⊱ζᾆɠą⊰⌖₰⪻
"Gus mau ke mana memangnya? Kita sudah berkeliling sejak tadi."
"Ana bermimpi bahwa ana harus ke suatu tempat." Zein melihat ke arah luar jendela, berharap menemukan tempat yang ia cari.
Asistennya menghela kecil, "kalau begitu katakan saja tempatnya seperti apa? Supaya saya ana mencarinya, jika Gus simpan sendiri yang ada nanti kita berjam-jam memutar tempat ini."
"Ana mencari tempat yang ada rumah pohon, ayunan kayu, danau dan pohonnya tumbuh sedikit miring ya begitulah, Fathan." Jawab Zein.
Kening Fathan terlihat garis-garis kerutan yang samar, seolah pemilik badan sedang berpikir keras. "Apa di sana ada peternakan kuda dan rumah besar berwarna putih?" tanya Fathan.
"Ya, bagaimana Anta tahu?" tanya Zein heran.
"Ciri-cirinya merujuk pada rumah yang ada di kampung halaman tempat ana tinggal dulu. Tidak jauh dari sini." Fathan membelokkan kemudinya, beranjak dari tempat mereka mengalami putaran tadi menuju kampung halaman.
"Anta memang bisa di andalkan, syukron."
Fathan hanya membalas dengan senyuman, dan melajukan mobilnya. Tidak berselang lama, mereka sampai di sebuah kampung yang sudah lama Fathan tinggalkan karena mengabdi di sebuah pesantren.
"Kita sudah sampai. Rumahnya itu, kalau tempat yang Gus cari ada di sebelah selatan rumahnya, ada danau dan lainnya." Jelas Fathan.
Mereka keluar dari mobil, Fathan mengikuti langkah kaki Zein yang penasaran dengan rumah itu. "Siapa pemiliknya?" tanya Zein.
"Saya tidak kenal, tapi dulunya sih pengusaha, saya tidak tahu jelasnya bagaimana tapi ia bangkrut dan meninggalkan rumah ini setelah istrinya meninggal dunia. Kalau suaminya masuk penjara." Ucap Fathan menjelaskan.
"Ah, begitu."
Fathan mengangguk, tak lama ada seorang penjaga yang mendekat. "Mau apa kalian ke sini? Memandang kediaman Tuan saya?" tanya penjaga itu.