"Sebenarnya, ibu kamu menghilang, Nak," sambung Bu Lastri hati-hati.
"Me-menghilang?" Belum selesai rasa terkejutnya karena kabar ia memiliki kembaran, kini ia kembali dikejutkan dengan kabar ibunya yang menghilang.
"Iya, setelah kelahiran kamu, Mas Arya datang untuk melihat kondisi ibu kamu, tapi karena saat itu Mas Arya sudah menikah dengan wanita pilihan keluarganya, jadi ibu mu merasa tersakiti dengan keputusan Mas Arya yang pada awalnya berkata akan menolak perjodohan itu lalu menikahi Mbak Rara secara hukum negara. Akhirnya terjadi perebutan hak asuh anak. Ibu mu berusaha keras menjaga kalian berdua agar tidak dibawa pergi oleh Mas Arya, tapi karena Mas Arya adalah orang berada, akhirnya ia memerintahkan seseorang untuk menculik salah satu diantara kalian secara diam-diam pada malam hari." Bu Lastri mengambil jeda sambil mengusap-usap tangan Natasha sebelum kembali melanjutkan,
"Esok paginya, ibu mu histeris saat kehilangan kamu. Kami semua mencarimu kemana-mana, tapi nihil. Kami saat itu tidak mengetahui di mana alamat rumah Mas Arya yang baru setelah pernikahannya. Rumah orangtuanya pun ikut pindah entah kemana. Setelah satu minggu kamu menghilang, ibu mu pun ikut menghilang bersama saudara kembarmu dan hanya meninggalkan sepucuk surat yang bertuliskan agar tak ada yang mencarinya. Ia menulis bahwa ia akan hidup mandiri dan berusaha mencarimu. Namun, kabar yang beredar di luar sana adalah, ibu mu dikabarkan telah meninggal dunia. Padahal, saat berita bohong itu tersebar, ibu mu masih hidup."
"Jadi, sampai sekarang, ibu kandungku belum ditemukan, Bu?" Gemetar sangat terasa dalam nada bicara Natasha.
Pertanyaan itu hanya mendapatkan anggukan kecil dari Bu Lastri sebagai jawaban. Tepat setelah melihat anggukan itu, tangis Natasha pun pecah.
"Saya dulu adalah pembantu di keluarga ibumu. Setahun yang lalu rumah ini dijual, dan saya membelinya karena saya sangat menyayangi rumah ini beserta semua kenangan yang ada di dalamnya," jelas Bu Lastri kembali.
Tangan Bu Lastri mengusap air mata Natasha lalu memeluk putri mantan majikannya itu dengan penuh kasih sayang.
"Kakek dan nenekmu sudah meninggal dunia tiga tahun yang lalu karena kecelakaan tunggal. Sedangkan adik dari ibumu sudah merantau ke luar negeri. Saya tidak tahu dimana keberadaannya sekarang. Setelah menjual rumah ini, saya kehilangan kontak dengannya." Bu Lastri kembali menceritakan yang ia tahu sambil mengusap-usap punggung Natasha lembut.
"Saya minta maaf Nak, saya tidak tahu kalau kamu adalah kembaran dari anak Mbak Rara. Karena saat dia melahirkan, saya sedang berada di kampung. Kemudian kabar yang saya dengar menyebutkan bahwa Mbak Rara hanya memiliki satu orang anak," sesal Pak Adi.
Sera, Gavin dan Darren hanya bisa terdiam menyimak semua pembicaraan diantara Natasha, Bu Lastri dan Pak Adi.
"Kalau saya boleh tahu, nama lengkap dari adiknya Tante Noura, siapa ya, Bu?" tanya Gavin sopan.
"Saya nggak bisa ngucapin namanya, tapi saya ada simpan catatan nama dia. Sebentar ya, saya ambilkan dulu." Bu Lastri melepaskan pelukannya lalu bergegas menuju kamar untuk mengambil kertas yang dimaksud.
Setelah cukup lama menunggu, Bu Lastri akhirnya kembali dengan sebuah kertas di tangannya. Ia meletakkan kertas itu di hadapan Gavin.
"Keandra Abigail Orlin." Gavin membaca nama yang tertera.
"Kami memanggilnya Mas Andra. Mereka hanya dua bersaudara, setelah kepergian Mbak Rara dan kedua orangtuanya, Mas Andra memutuskan untuk merantau ke luar negeri agar bisa melupakan kenangan pahitnya di Indonesia. Itulah mengapa rumah ini di jual, " tutur Bu Lastri.
"Semua yang saya tahu sudah saya ceritakan tanpa ada yang saya tutupi. Semoga membantu ya." Bu Lastri mengusap tangan Natasha yang masih terdiam.
"Terima kasih ya Bu, Pak. Semua informasi ini sangat membantu saya. Sekali lagi terima kasih dan maaf karena saya dan ketiga sahabat saya sudah mengganggu waktu istirahat Bapak dan Ibu," ujar Natasha.
"Sama-sama, Nak." Pak Adi menyahut sambil melepaskan kacamata.
"Oh, iya Bu. Nama kembaran Natasha, siapa ya, Bu?" Sera menanyakan hal yang dari tadi membuatnya penasaran.
"Kalau itu saya tidak tahu. Karena setelah melahirkan, Mbak Rara hanya memanggil kedua anaknya dengan sebutan "Kakak" untuk yang laki-laki dan "Adik" untuk yang perempuan. Bahkan saya baru tahu kalau anak perempuannya diberi nama Natasha," jawab Bu Lastri.
Natasha memijit pelipisnya pelan, ia merasa pusing memikirkan semua fakta yang tiba-tiba terbuka secara beruntun seperti ini. Darren yang memperhatikan Natasha dari kejauhan segera mengambil tindakan.
"Baiklah Pak, Bu. Kalau begitu kami berempat pamit dulu. Terima kasih atas waktu dan informasi yang sudah diberikan." Darren berdiri dan mulai menyalami Pak Adi dan Bu Lastri secara bergantian. Disusul oleh ketiga sahabatnya.
Setelah sampai di depan mobil masing-masing, Gavin bertanya pada Natasha.
"Sha, mau dilanjutkan lagi hari ini juga, atau gimana?"
"Nggak dulu deh, Gav. Kita istirahat dulu. Makasih untuk hari ini ya," jawab Natasha sebelum masuk ke dalam mobil.
Gavin dan Sera mengangguk paham lalu segera meninggalkan rumah Bu Lastri.
"Kita ke danau dulu ya, Dar," pinta Natasha saat mobil melaju menuju jalan raya.
"Iya," jawab Darren penuh pengertian. Ia paham kenapa Natasha ingin pergi ke danau dulu sebelum pulang ke rumah.
Natasha merebahkan tubuhnya seraya memejamkan matanya untuk melepas lelah secara batin yang ia rasakan sejak kematian sang papa.
Pa, Kakak capek. Tolong datang ke mimpi Kakak ya, tolong peluk Kakak ...
To be continued
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Terindah
Teen FictionKehilangan orang tercinta adalah hal yang tak diinginkan oleh siapapun. Namun, bagaimana jadinya jika kehilangan sosok ayah bertepatan dengan hari ulang tahun? Natasha merasa dunianya hancur seketika saat ia harus kehilangan ayahnya tepat di hari ul...
