⚠️⚠️TRIGGER WARNING ⚠️ ⚠️
KEKERASAN
PERCOBAAN BUNUH DIRI
HARAP BIJAK DALAM MEMBACA!!
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Natasha memandang pantulan wajahnya di cermin meja rias. Tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak yang tanpa ia sadari, berujung dengan tangisan. Ia kemudian berteriak histeris untuk meluapkan semua rasa sakitnya. Semua memori menyakitkan terputar kembali di benaknya bak film dokumenter.
Dimulai dari penolakan Tiara padanya, tatapan kebencian dari Tiara dan kedua saudaranya, pemukulan, penyiksaan secara batin dan fisik, kepergian Arya yang terjadi tepat di hari ulang tahunnya, serta terungkapnya fakta bahwa ia bukanlah anak kandung dari Tiara.
Sekuat tenaga Natasha menarik rambutnya keras hingga beberapa helai tertinggal di tangannya. Semua kamar di rumah ini dibuat kedap suara, sehingga tak ada yang mendengar jeritan pilu Natasha.
"Pa, kenapa Papa pergi sendiri? Kenapa nggak ajak aku? Aku nggak mau hidup sendiri, Pa. Aku mau ikut Papa aja ...." racau Natasha dengan tangisan yang tak kunjung berhenti.
"Aku nggak tahu di mana keberadaan ibu kandungku, aku nggak tahu apakah beliau masih hidup atau nggak. Aku sebatang kara, Pa ...." Natasha memukul-mukul dada kirinya, berharap rasa sakit itu berkurang.
Natasha membuka laci nakas di samping tempat tidur dan mengambil pecahan cermin di dalamnya. Tangannya bergetar saat mengarahkan pecahan cermin itu ke pergelangan tangannya.
"Pa, aku izin ikut Papa ya. Aku nggak kuat, Pa ... aku nggak bisa hidup lebih lama lagi di neraka ini ...."
Suara sayatan terdengar begitu memilukan saat pecahan cermin itu tergores tepat di atas pergelangan tangan Natasha. Namun, sang empunya tangan tak lagi merasakan sakit, karena baginya rasa sakit di dalam hatinya tak sebanding dengan sayatan di pergelangan tangannya.
Brak!
Pintu terbuka lebar dengan kerasnya.
"Asha!"
Teriakan itu membuat pergerakan Natasha terhenti. Senyum getirnya mengembang saat melihat orang yang membuka pintu kamarnya.
Sera berlari mendekati Natasha lalu membuang pecahan cermin di genggaman Natasha. Ia menangis melihat kondisi sahabatnya.
"Sha, sakit banget ya?" Sera menarik Natasha ke dalam pelukannya. Ia mengusap kepala Natasha yang berada tepat di depan dadanya.
Tangis Natasha kembali meraung saat berada di dalam pelukan Sera. Ia mengeratkan pelukannya seolah pertanda meminta bantuan atas sakit yang ia rasa.
Suara teriakan Sera berhasil memancing seisi rumah berlari menuju kamar Natasha. Terlihat Sera yang masih mendekap erat tubuh Natasha.
"Ada apa ini?" tanya Tiara dengan napas yang masih tidak beraturan akibat berlari dari lantai bawah.
"Asha mau coba bunuh diri, Tan," jelas Sera.
Mendengar itu Tristan segera melihat kondisi tangan Natasha yang sudah teriris. Bergegas ia mencari kotak P3K dan membersihkan luka dengan sangat lembut. Sedangkan Tiara dengan pelan mendekati Natasha.
Thalia memutar kedua bola matanya jengah menyaksikan kejadian di hadapannya. Bibirnya mencibir sambil mengomel di dalam hati.
Dasar banyak drama! Bathinnya.
"Sha ...." panggil Tiara lembut. Ia mengusap kepala Natasha perlahan.
Saat Sera ingin melepas pelukannya agar Tiara dapat berbicara dengan leluasa, Natasha justru semakin mengeratkan pelukannya, pertanda ia tak mau berbicara dengan Tiara.
"Sha, Mama minta maaf ya. Maaf karena Mama udah kasih tahu kamu hal itu tidak pada waktu yang tepat. Tolong jangan pergi, Sha." Tiara mengusap-usap lengan Natasha berusaha menenangkan.
"Sha, jangan pergi ya. Gue sayang sama lo, Sha. Maaf karena gue terlambat menyadari semuanya. Jangan pergi ya, Sha? Gue mohon. Bertahan sedikit lagi ya?" Tristan menahan tangisnya melihat adik yang selama ini tak pernah ia anggap ada, sekarang terpuruk dan hampir mengakhiri hidupnya sendiri.
"Heh! Dasar tukang drama! Nggak usah banyak tingkah lo ya! Kalau mau mati, ya mati aja! Nggak usah nyusahin orang. Tuh, ada semprotan kecoa. Lo minum itu aja biar cepat." Thalia menghentakkan kakinya kesal. Ia benci saat melihat mama dan abangnya bersikap baik pada Natasha. Ucapan ketusnya sangat menyakiti perasaan siapapun yang mendengarnya.
Sera menutup kedua telinga Natasha sebisanya.
"Thalia! Jaga ucapan kamu!" bentak Tiara. Tergambar jelas kemarahan di wajah wanita yang sudah memasuki kepala empat itu.
Tristan berjalan mendekati Thalia dengan tatapan tajam penuh intimidasi. Tatapan yang selama ini selalu ia berikan pada Natasha, kini ia berikan pada adik bungsunya.
"Jaga ucapan lo. Jangan buat gue benci sama lo. Paham?" Suara bariton Tristan beserta tatapan tajamnya berhasil membuat Thalia gemetar.
Thalia membalas tatapan tajam abangnya sebelum ia meninggalkan kamar Natasha dengan langkah yang dihentak-hentakkan.
Tristan kembali ke dalam kamar setelah memastikan Thalia tidak berbuat yang tidak-tidak.
Natasha sudah duduk dengan tenang di atas kasur, diapit oleh Sera dan Tiara. Lengan kirinya sudah dibalut perban. Namun, ia masih memukuli dadanya kuat.
"Jangan dipukul terus dadanya, Sha." Tiara menahan tangan Natasha agar berhenti.
"Sakit ... Sakit ...." rintih Natasha samar dengan tatapan kosong ke lantai.
"Kita berobat ya?" Tiara mengira bahwa sakit yang dimaksud Natasha adalah bekas sayatannya.
Natasha menggeleng cepat. Kembali ia memukul dadanya.
"Yang di sini yang sakit ...."
"Maaf, Sha. Maaf ... Harusnya Mama nggak kasih tahu kamu tadi malam. Maafkan Mama, Sha." Lagi, kalimat yang sama seperti sebelumnya diulang oleh Tiara.
Tristan berlutut di depan Natasha, menggenggam kedua tangan yang terus memilin ujung baju.
"Lo masih mau marah? Masih mau nangis? Kalau iya, nangis aja. Marah aja. Jangan dipendam."
Natasha menggeleng lemah masih dengan tatapan kosong yang menatap entah kemana.
Bunyi bel memecahkan perhatian mereka semua. Tiara bergegas menuruni tangga untuk membukakan pintu.
"Cari siapa ya Bu?" tanya Tiara sopan pada seorang wanita yang berkisar usia 28 tahun.
"Ini benar dengan rumah Pak Arya Chandra Karunansakara?" Wanita itu balas bertanya.
"Iya, benar. Saya istrinya," jawab Tiara.
"Saya ke sini mau menyampaikan amanat dari Pak Arya, Bu. Boleh saya bertemu dengan ketiga anak Ibu?" tutur wanita itu sopan.
To be continued
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Terindah
Teen FictionKehilangan orang tercinta adalah hal yang tak diinginkan oleh siapapun. Namun, bagaimana jadinya jika kehilangan sosok ayah bertepatan dengan hari ulang tahun? Natasha merasa dunianya hancur seketika saat ia harus kehilangan ayahnya tepat di hari ul...
