Bab 19

53 17 0
                                        

Gavin dan Darren mengambil tumpukan buku yang sudah tersedia di atas meja kerja sang kakek.

"Pelajari semua buku itu dengan benar. Kalian berdua adalah harapan saya. Aditama Group akan menjadi milik kalian suatu hari nanti. Jadi, jangan pernah kecewakan saya. Paham?" Suara Yuda Aditama terdengar sangat mengintimidasi di telinga kedua saudara sepupu itu.

"Paham, Kek," jawab keduanya serentak.

"Kalian harus selesai dengan nilai terbaik untuk S1. Kakek sudah mencarikan universitas terbaik di luar negeri sana agar kalian bisa mengambil S2 dengan baik. Ingat, pewaris Aditama Group tidak boleh memiliki track record yang buruk. Jadi, jaga sikap, perilaku dan prestasi kalian sampai kapanpun."

"Baik, Kek." Keduanya kembali memberikan respon yang sama.

"Ya sudah, sekarang kalian berdua pergi ke perpustakaan dan belajar di sana," titah Yuda pada kedua cucu laki-laki kesayangannya.

Darren dan Gavin sedikit membungkuk hormat sebelum membawa tumpukan buku yang wajib mereka pelajari menuju perpustakaan di rumah Yuda Aditama.

Wejangan dari Yuda Aditama sudah menjadi makanan rutin bagi semua cucu keluarga Aditama.
Terutama bagi Darren dan Gavin yang notabenenya adalah cucu laki-laki pertama dari kedua anak kembar Yuda Aditama, yaitu Galang dan Gilang Prakoso Aditama.

Beban berat sudah mereka pikul sejak usia dini. Bahkan dari sekolah taman kanak-kanak, mereka berdua sudah dituntut untuk memiliki nilai sempurna dalam setiap pelajaran. Juga seabrek les privat berbagai pelajaran.

"Gila, pelajaran di kampus aja udah bikin kepala gue sakit, dan sekarang kita harus mempelajari buku yang sangat membosankan sebanyak ini," gerutu Gavin saat tiba di perpustakaan.

Darren hanya diam tak menggubris perkataan Gavin. Ia mulai membuka satu buku yang sudah disiapkan untuknya. Perlahan ia mulai menelusuri setiap kata yang tertera.

"Dar. Lo belajar?" Gavin terkejut melihat sepupunya dengan santai membaca buku yang baru saja mereka bawa.

Sebuah anggukan kecil menjadi jawaban atas pertanyaan Gavin.

"Apalagi yang bisa kita lakukan selain menuruti perintah kakek? Lo mau dihukum?" ucap Darren tanpa menatap Gavin.

"Nggak semudah itu untuk kita lepas dari kekangan ini semua. Setelah kita selesaikan pendidikan kita, setidaknya kita punya kuasa untuk melakukan apa yang kita mau. Meski akan tetap banyak aturan, tapi setidaknya kita punya kuasa." Darren membalik halaman demi halaman buku yang ia pegang.

Gavin terdiam dan mulai membuka buku yang wajib ia pelajari. Dalam hati ia membenarkan apa yang diucapkan oleh Darren.

***

Natasha bergegas menuju ojek yang sudah menunggunya sejak lima belas menit yang lalu.

"Maaf lama ya, Pak." Natasha memakai helm yang diberikan oleh supir ojek.

"Iya Neng, nggak apa-apa," sahut supir ojek itu yang menurut perkiraan Natasha berusia sekitar empat puluh lima tahun.

Setelah lima belas menit perjalanan,

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 14, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Takdir TerindahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang