Bab 04

49 27 9
                                        

Usai sarapan, Natasha dan Sera segera berangkat menuju Panti Asuhan Kasih Ibu. Tempat dimana acara ulang tahun Natasha akan diadakan.

"Darren dan Gavin udah di sana, kan?" tanya Natasha.

"Udah, semuanya juga udah aman," jawab Sera sambil tetap fokus menyetir.

"Syukurlah. Gue bersyukur banget memiliki kalian bertiga sebagai sahabat gue," ucap Natasha tulu.s.

"Kami bertiga juga bersyukur memiliki lo sebagai sahabat kami," balas Sera tak kalah tulus.

Dua puluh menit kemudian, mobil Sera sudah terparkir rapi di depan Panti Asuhan Kasih Ibu. Gavin dan Darren sudah berdiri di depan gerbang menunggu kedatangan Sera dan Natasha.

"Lo udah ditunggu sama bu Astri," ucap Darren.

"Ya udah, ayo." Natasha memimpin jalan menuju ke dalam panti.

"Selamat datang, Kak," sambut Astri selaku pemilik panti.

Natasha tersenyum manis sebelum mencium punggung tangan Astri. Hal yang sama juga dilakukan oleh ketiga sahabatnya.

"Bu, terima kasih ya, sudah mengizinkan saya untuk mengadakan syukuran kecil-kecilan di sini," ujar Natasha.

"Sama-sama, Kak. Seharusnya Ibu yang bilang makasih. Karena kamu sudah mau berbaik hati berbagi kebahagiaan dengan mereka di hari ini. Bahkan sampai repot menyediakan berbagai macam makanan dan hiburan untuk anak-anak di sini, padahal kamu yang ulang tahun. Ibu sampai bingung mau kasih kamu kado apa," balas Astri sambil memegang tangan Natasha.

"Nggak perlu, Bu. Melihat senyuman dan kebahagiaan anak-anak di sini sudah menjadi kado terindah bagi saya. Ibu nggak perlu repot memikirkan kado untuk saya." Natasha membalas genggaman tangan Astri.

"Sekali lagi, terima kasih, Nak," ujar Astri sambil tersenyum bahagia.

"Ya udah, kita mulai sekarang aja ya Bu, acaranya," ajak Natasha.

Mereka semua berkumpul di ruang tengah panti yang cukup besar dan memang disiapkan untuk acara ini.

Natasha membuka acara dengan sedikit kata sambutan, lalu acara pun dimulai sesuai dengan rencana. Anak-anak di panti asuhan ini belum banyak, hanya sekitar tiga puluh orang. Jadi, semua anak-anak itu bisa menikmati acara tanpa harus rebutan.

Ada berbagai macam hiburan yang mereka sediakan; membaca dongeng, menonton film, bermain bersama, melukis bersama, makan siang bersama, dan di akhir acara akan ada pemeriksaan kesehatan gratis untuk semua keluarga panti termasuk para pengurus. Tak lupa pula bingkisan cantik yang akan diberikan sebagai kenang-kenangan dari mereka berempat.

Rangkaian acara itu selesai pada pukul 02.00 siang. Natasha benar-benar bahagia melihat senyuman anak-anak di Panti Asuhan Kasih Ibu ini. Ia bersyukur bisa berbagi kebahagiaan di hari lahirnya.

"Kak Asha, Kak Darren, Kak Gavin, Kak Sera, makasih ya ... Kami semua hari ini bahagia banget," ucap Indri, anak panti yang paling tua.

Gavin tersenyum dan mengusap puncak kepala Indri lembut.
"Sama-sama."

"Kak Asha, selamat ulang tahun, ya!" seru Raka, bocah laki-laki yang berusia sembilan tahun.

"Makasih, Raka," balas Natasha dengan senyum manisnya.

Seorang anak kecil perempuan mendekati Natasha dan berkata,

"Kak Asha, aku nggak punya kado untuk Kakak. Kalau kadonya peluk aja, boleh nggak, Kak?"

Natasha tersenyum haru mendengar ucapan anak kecil itu. Ia berlutut untuk menyamakan tingginya dengan anak itu.

"Boleh, Sayang. Terima kasih, ya."

Anak kecil itu segera memeluk erat tubuh Natasha. Tiba-tiba semua anak panti ikut memeluk Natasha secara serentak. Tangis haru Natasha, Darren, Gavin, Sera dan semua pengurus panti asuhan pun, pecah.

Semuanya terharu dengan sikap anak-anak panti yang masih kecil dan polos. Ketulusan yang mereka beri sangat terasa.

"Gue paling nggak bisa kalau udah kayak gini," bisik Sera sambil menyeka air matanya. Gavin memberikan sebuah tisu yang langsung diterima oleh Sera.

"Gue juga. Kalau gue bisa, rasanya mau gue angkat jadi adik gue semuanya," timpal Darren yang mendengar bisikan Sera.

"Semoga mereka semua bisa sukses dan bahagia meskipun dengan kondisi seperti ini," ucap Gavin yang langsung diamini oleh Sera dan Darren dalam hati.

Setelah berpamitan pada semua anak-anak dan pengurus, Natasha dan ketiga sahabatnya bergegas pulang ke rumah. Saat ia dan Sera berhenti di lampu merah, ponsel Natasha berdering, menandakan sebuah panggilan masuk. Setelah membaca nama yang tertera di layar, Natasha menggeser tombol hijau di layarnya.

"Halo, Bang. Ada apa?"

"Lo lagi dimana?"

"Lagi di jalan, mau pulang. Gue baru selesai syukuran ulang tahun gue. Kenapa?"

"Sha ..." suara Tristan menggantung di ujung sana.

"Kenapa sih, Bang? Ngomong yang jelas, jangan putus-putus," sergah Natasha.

"Papa, Sha. Papa ..." Lagi, ucapan Tristan menggantung. Kali ini getaran suaranya terdengar jelas.

"Papa kenapa Bang?! Ngomong yang jelas, Bang!" sentak Natasha.

Sera menjadi tak fokus menyetir mendengar percakapan Natasha dengan Tristan. Ia memutuskan untuk menepi di bahu jalan.

"Papa ... papa udah tenang, Sha. Papa udah nggak sakit lagi." Tristan menyelesaikan kalimatnya dengan susah payah. Air mata yang sudah susah payah ia tahan, akhirnya meluncur tanpa izin.

"Nggak! Lo bohong kan, Bang?! Lo nge-prank gue kan, karena ini hari ulang tahun gue? Iya kan?!" Nada bicara Natasha terdengar naik satu oktaf. Dadanya terasa begitu sesak mendengar kabar buruk tepat di hari kelahirannya.

"Nggak ada yang nge-prank lo, Sha. Gue serius. Lo datang sekarang juga ke alamat yang udah gue kirim." Tristan menjawab dengan suara serak. Isak tangisnya kini tak lagi ia sembunyikan.

Brak!

Ponsel Natasha segera terjatuh dari tangannya. Dunia seolah berhenti mendadak. Ia merasa hancur dalam sekejap mata. Kedua netranya tak kunjung berhenti mengalirkan air mata. Isak tangisnya terdengar sangat pilu dan menyayat hati. Ia mengabaikan Tristan yang masih memanggil-manggilnya.

Sera segera mengambil ponsel Natasha.

"Halo Bang, ini Sera. Sebenarnya ada apa ya Bang?" Sera mengusap-usap punggung Natasha yang menangis dengan sesenggukan.

"Papa kami udah tenang, Ser. Beliau udah nggak sakit lagi," jelas Tristan di ujung sana. Suara histeris jeritan wanita sesekali terdengar saling bersahutan dari telepon.

Sera refleks membekap mulutnya sendiri saat mendengar kabar duka tersebut.

"Gue minta tolong antarkan Natasha ke alamat yang gue kirim, ya. Tolong jagain dia," pinta Tristan. Terdengar jelas kesedihan dalam nada bicaranya.

"Iya Bang, gue bawa dia ke sana."

"Hati-hati di jalan, ya."

Sera segera mengakhiri panggilan dan memeriksa alamat yang dikirimkan oleh Tristan. Setelahnya ia mengirimkan alamat tersebut ke grup mereka, ditambahi sedikit pesan agar Darren dan Gavin menuju alamat yang tertera.

Darren yang membaca pesan tersebut segera memerintahkan Gavin untuk putar haluan menuju rumah sakit tempat papa Natasha dirawat.

"Gav, buruan ke rumah sakit. Om Arya meninggal," titah Darren dengan sedih.

Gavin terhenyak sejenak mendengar ujung kalimat Darren. Segera ia  memutar arah menuju rumah sakit.

To be continued

Takdir TerindahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang