12. can we?

407 42 6
                                        

anjay, mimin gak nyangka bakalan ketik sampe 2800an kata. selama ini kalau 2000an kata pasti dibawah 2300an. jadi saat lihat ternyata udah 2800, kaget dan bangga banget.
oh ya, mimin baru lihat di peringkat Lisrene, cerita ini ada di posisi 14. makasih banget buat yang udah mau baca dan vote.

                                🤗

"buat apa aku berbohong, tidak ada gunanya"jawab Asher
.
.
.
.
.

dua hari kemudian, dimalam hari, Thalia baru balik dari kota sebelah. Dasha dan Sabrina mengintrogasi Thalia.

"kau benar benar pergi mengunjungi keluargamu?"tanya Dasha. ia berpura pura tak tau apa apa, padahal ia dan Sabrina telah di beritahu oleh Asher mengenai Thalia.

"i-iya, mengapa kalian berdua menatapku seperti itu?"jawab Thalia dengan gugup

"kenapa kau berbohong?"tanya Sabrina

"berbohong? apa maksudmu?"Thalia bingung sekaligus gugup

"Asher sudah menceritakan semuanya kepada kami. kenapa kau harus membohongi kami dan membodohi Gerry?"ucap Dasha yang terdengar kecewa dengan pilihan Thalia.

"iya, apa kau tak menganggap kami sebagai sahabatmu? Li, kita bukan baru bersahabat, sebulan, dua bulan, 20 tahun. 20 tahun kita sudah bersahabat. jikalau kau kesepian, hubungi kami, kami akan menemanimu. bukan malah mencari sosok penghibur ditengah kesepianmu"Sabrina mengomeli Thalia yang dinilainya terlalu kekanak-kanakan.

"Sha, Rin, aku tidak bermaksud untuk seperti itu. aku.... aku, aku salah, tapi aku juga  butuh seseorang untuk menemaniku"Ucap Thalia membela diri

"apa gunanya kami sebagai sahabat
mu. memiliki seorang sahabat
bukan hanya menjadi teman sejati, tetapi juga menjadi pendengar,  penasihat, pembicara, penyemangat, dan penghibur didalam situasi apapun. jika kau kesepian, hubungi kami, minta pada kami untuk menemanimu atau mendengarkan curahan hatimu. itulah gunanya sahabat. sahabat juga bagian dalam keluarga, meski kita tak ada ikatan keluarga."Dasha benar benar tak habis pikir dengan Thalia. ia seakan tak menganggap Dasha dan Sabrina.

"aku kecewa denganmu. kau sebenarnya menganggap kami ini apa? Thal, aku dan Dasha tidak menganggapmu sebagai sahabat, tetapi sebagai Saudari. meskipun darah lebih kental daripada air, tapi darah tak selalu menjadi alasan suatu keluarga terbentuk"Sabrina mengatakan hal tersebut dengan mata berkaca-kaca

"Rin, maaf. Sha, maaf. bisakah kalian berdua memaafkanku?"tanya Thalia yang sepertinya sudah menyesal.

"kita bukan baru kenal. kemarilah, berikan aku pelukan hangat"ucap Dasha seraya merentangkan tangannya.

Thalia lalu menyambut rentangan tangan Dasha dengan senang hati. Sabrina yang tak mau ketinggalan pun langsung memeluk kedua sahabatnya itu.

"Mommy, Aunty, dinner dan  Browniesnya telah jadi"teriak Oliver dari dapur, yang mengganggu momen manis ketiga sahabat ini.

"anakmu mengacaukan momen kita"adu Thalia

"kau yang mengajari dia seperti itu, jadi jangan menyalahkannya"ucap Sabrina yang membuat Thalia mencemberutka bibirnya.

"yaudah, ayo kita ke meja makan, mereka bertiga pasti sudah menunggu"ajak Dasha

Sabrina dan Thalia hanya mengangguk, lalu mengikuti Dasha dari belakang. sesampainya dimeja makan, Hanya Olive dan Oliver sajalah yang duduk disana. Dasha berpikir bahwa Asher ada di dapur.

Dasha dan kedua sahabatnya duduk berjejer, menyisakan tempat duduk yang berada di bagian tengah ujung kanan.

tak lama kemudian, Asher berjalan dari dapur dan membawa sesuatu.
ternyata, Asher membawa semangkuk Macaron dengan berbagai rasa. ada rasa chocolate, strawberry, matcha, coffee, blueberry, rasberry, dan salted caramel.

One Night Stand (Lisrene/Limrene) BxG Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang