Pengusiran (2)

35 10 0
                                        

Keesokan harinya, Roy dipanggil oleh Pak Wan lagi karena putrinya masih terus diganggu. Masih ditemani Pak Min yang menjadi partner pengusir setan. Kitab, air suci, dan juga tasbih selalu ada di dalam tas. Pengusiran dilakukan pada malam hari, bukan tanpa alasan.

Saat siang hari, Din masih normal hingga saat senja tiba tubuhnya bergemetar dan berteriak kencang. Malam hari Din harus bisa melawan dirinya sendiri dibantu ustad ternama.

Saat Roy tiba di kamar Din, tubuh yang telah merintih kesakitan itu langsung terdiam. Lagi lagi, Roy belum melakukan sesuatu tapi Din kembali normal.

Karena merasa janggal, Sel memutuskan untuk mengikuti roh yang merasuki gadis polos tak bersalah itu sedang berterbangan dengan cepat. Sel sempat kewalahan, tapi ia berhasil mengikuti jejaknya dari aroma busuk yang tertinggal.

Mata Sel terbelalak saat melihat setan dengan tingkatan yang jauh di atasnya. Bukan cuma manusia saja yang memiliki kelas, setan pun punya. Berbeda dengan manusia yang bisa dilihat melalui hartanya.
Level setan ini dilihat dari seberapa mahal harganya.

Sel melihat sosok sebangsanya sedang menghirup jiwa manusia yang lemah dan tidak memiliki iman. Bahkan Sel tidak sudi menyamakan dirinya dengan bangsa iblis seperti genderuwo itu.

Tidak hanya menyerap jiwa lemah, iblis itu melahap persembahan yang tidak masuk akal bagi Sel. Banyak sekali makanan di sekitar genderuwo itu yang berarti banyak pula penyembahnya.

Hidung Sel tidak bisa menipu, aroma persembahan itu memang tercium nikmat. Namun Sel masih berakal, mungkin ia akan berpuasa sampai waktu kembali tiba.

Kehadiran Sel menarik perhatian genderuwo yang tengah makan. Tubuhnya berbalik mencari sosok Sel yang sudah pergi jauh.

"Makhluk apa itu tadi buset serem amat." Batin Sel ketika sudah kembali di sebelah Roy.

"Kenapa, Sel?" Tanya Roy. Ia tahu istrinya pergi mengikuti sosok tersebut.

"Kayak genderuwo, tapi tiap dia makan tubuhnya makin gemblung."

"Hahahaha." Tawa Roy pecah.

"Sumpah, serius. Badannya juga tambah tinggi. Ada tanduk di kepala, dada, kedua pundak. Taringnya nyampe perut. Hih amit amit."

Di tengah perbincangan yang masih berlangsung, Roy terpaksa harus meninggalkan Sel karena panggilan Pak Wan yang terdengar serius.

"Saya mohon ya Pak Ustad, tinggal di sini beberapa waktu saja saat malam. Saya sediakan kamar." Pinta Pak Wan.

"Waduh. Saya belum bisa memutuskan, Pak." Kata Roy sambil menggaruk kepalanya, bingung.

"Saya sediakan makanan juga Pak Ustad. Atau sekalian saya adakan pengajian bersama setiap malam." Sahut ibunya Din yang sudah putus asa.

"Saya diskusikan sama orang-orang pesantren dulu ya pak." Ucap Roy sekalian berpamitan.

Di sepanjang perjalanan pulang dengan Min, Roy menceritakan semua yang diucapkan Sel pada pria yang tengah menyetir mobil. Min sampai merinding mendengar pengakuan Roy yang katanya bisa melihat, padahal berkat bantuan istrinya.

"Lagian juga gak mungkin kan aku selamanya tinggal di rumah itu demi Din nggak keganggu lagi." Kata Roy sedikit memelas.

"Pasti ada jalan keluar kok, Roy. Besok ikut aku ke rumah Pak Kiai." Ucap Min.









👻👻👻









Sel sudah lebih dulu berbaring di kasur Roy sembari memainkan ponselnya. Jujur saja selain kesusahan mencari makan, ia kesusahan mendapatkan koin.

Photo Box Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang