Imajinasi (1)

101 14 0
                                        

Mungkin terlihat aneh bagi Sel dan Roy saat bel baru saja berbunyi, salah satu murid maju ke depan untuk menjelaskan pelajaran. Di kehidupan aslinya, para murid tentu tidak akan mengorbankan dirinya sebagai pengajar dadakan. Mereka akan mengadakan pesta jika tahu guru tidak akan masuk.

Boy, laki laki poni belah tengah dengan tegas menerangkan pelajaran. Ia menyalakan layar proyektor untuk menayangkan hasil belajarnya.

"Masih dengan pelajaran astronomi, aku jelasin pertanyaan dari Ken kemarin Apakah ada kehidupan lain di luar bumi sana? Mungkinkah kita sendirian di dalam besarnya alam semesta?" Pria itu kemudian menayangkan video animasi sembari menggerakkan kedua tangannya.

Sel dan Roy dibuat seolah terhipnotis dengan pelajaran ini, karena saking fokusnya mendalami.

Boy lanjut menjelaskan, "Ya, bisa jadi ada. Aku jelasin pakai jawaban Fermi Paradox. Fermi Paradox adalah kontradiksi antara perkiraan kemungkinan.

Mungkin saja di luar sana ada kehidupan yang bisa berevolusi, makhluk hidup yang dapat beradaptasi dengan kerasnya kehidupan di luar, entah itu dalam bentuk mikroorganisme atau binatang yang bentuknya lain dari bumi.

Bisa jadi alien itu ada, tapi tidak punya pikiran seperti kita, mereka mungkin beradaptasi dengan cara membasmi sesama untuk bertahan hidup, lalu mereka akhirnya punah. Atau bisa jadi mereka ada, tapi belum bisa menyapa kita.

Atau bisa jadi juga, kita satu satunya makhluk hidup yang dapat bertahan dengan kecerdasan di tengah kegelapan luar."

Selama ini Sel dan Roy hanya berpedoman  Gak tau, masa bodo, kini dibuat melek dengan ajaran ini. Belum lagi setelah penjelasan Boy selesai, pria itu menerima banyak pertanyaan dari teman-teman dan dapat menjawab satu per satu.

Di sekolah dahulu tidak pernah membahas sampai sejauh ini. Alasannya malas, menghitung rumus fisika saja dengan berbagai lambang sudah bikin puyeng, apa lagi membahas sejauh itu.
Lagi pula dalam kehidupan sehari-hari tidak akan terpakai ilmunya.

"Roy sama Sel kenapa tidak ada pertanyaan?" Sahut Boy dengan melipat kedua tangannya di depan.

"Uhm ... aku paham." Jawab Sel.

"Kalau gitu aku yang tanya. Bagaimana cara ilmuwan menghitung jarak bumi dengan benda luar lainnya di sana?"

Jleb. Makan tuh ilmu kehidupan sehari-hari.

Pada dasarnya Sel dan Roy menerima begitu saja ilmu yang di dapat dari sekolah, lalu dilupakan. Setidaknya mereka bisa berhitung dan bersosialisasi untuk bekal kehidupan.

"Buat apa kamu masuk sekolah sini kalau udah tahu? Sekolah ini hanya untuk siswa yang selalu ingin tahu, pertanyaan yang tidak ada habisnya." Jelas Boy.

"Kalau udah tahu, kenapa gak jadi guru aja?" Tambah Boy lagi. Raut wajahnya kesal, suasana belajar tidak seru seperti biasanya.

Sel kemudian melirik ke arah suaminya ingin dibela.

"Ya itu, aku penasaran sebenarnya pengen tanya itu tapi keduluan kamu yang tanya, Boy." Sela Roy. Sejujurnya ia tahu sedikit tentang ini, tapi dirinya takut salah menjawab.

Boy kemudian meninggalkan presentasinya, pelajaran berfokus tentang pertanyaan barusan. Boy menghampiri bangku Roy lalu mendiskusikan bersama.

Setelah membaca beberapa artikel dan tanya jawab dengan guru via daring, Roy akhirnya mendapat kesimpulan.

"Udah siap nih? Maju aja." Perintah Boy.

Langkah Roy penuh dengan kegelisahan. Ia takut jawabannya salah, takut dilempari pertanyaan siswa lain. Rasa nervous-nya tinggi, ia akhirnya menghela napas pelan untuk mengurangi rasa gugup.

Photo Box Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang